Jumat, 12 Februari 2016

Akibat Pasak Terlalu Besar

Mohamad Kusnaeni - detikSport
Kamis, 07/03/2013 13:53 WIB
Akibat Pasak Terlalu BesarGetty Images
Mungkin sulit bagi penggemar Persija menerima hasil-hasil yang dicapai tim kesayangannya musim ini. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir, "Tim Macan Kemayoran" terdampar di dasar klasemen sementara Indonesia Super League (ISL) musim 2012/2013.

Dalam sembilan laga yang telah dijalani, Persija hanya mengoleksi enam angka. Mereka menelan lima kekalahan, dua kali bermain imbang, dan baru dua kali meraih hasil sempurna.

Benar, kompetisi masih panjang dan segala kemungkinan perubahan bisa terjadi. Hanya saja, jika melihat performa dan materi pemain tim asuhan Iwan Setiawan saat ini, harapan untuk mengembalikan posisi Persija ke papan atas sulit terwujud tanpa suntikan pemain berkualitas plus sedikit pertolongan nasib baik.

Itu dia pokok soalnya. Bagaimana Persija mau merekrut tambahan pemain berkualitas jika urusan gaji Bambang Pamungkas dan kawan-kawan belum teratasi? Dari mana sumber dananya?

Kasus Persija adalah contoh menarik yang mewakili gambaran tentang situasi klub-klub sepak bola di Tanah Air pada umumnya. Jika sepintas kita amati, laga kandang Persija selalu ramai dibanjiri suporternya. Entah saat mereka berkandang di Stadion Utama Gelora Bung Karno maupun ketika terusir main di Solo.

Bagi kalangan awam, sulit dimengerti jika dana jadi persoalan bagi Persija. Penonton membludak, kok tidak bisa membayar gaji Bambang dan kawan-kawan sampai lima bulan? Apalagi Persija tim asal Jakarta yang merupakan pusat ekonomi nasional. Logikanya, lebih mudah cari sponsor.

Tapi begitulah faktanya. Hiruk-pikuk dukungan suporter di stadion bukanlah ukuran sukses tim secara finansial. Keramaian dukungan suporter sebatas menggambarkan popularitas tim tersebut di mata penggemar. Digemari oke, tapi apakah para penggemar itu rela berbuat lebih untuk timnya, itu soal lain.

Mari kita tengok peristiwa yang terjadi hampir setahun lalu. Saat itu, menjelang pertandingan lawan Persisam, Manajamen Persija berencana menaikkan harga tiket, dari kelas VVIP seharga Rp 200 ribu, VIP Rp 100 ribu, Kelas I Rp 50 ribu, dan kelas II Rp 30 ribu. Namun rencana itu ditolak suporter. Mereka beranggapan, persoalan yang menimpa klub tak seharusnya jadi beban tanggungan suporter.

"Banyak jalan yang seharusnya ditempuh manajemen klub, seperti menggaet sponsor dan lainnya. Kami sudah datang memberi dukungan, menyewa mobil yang harganya terus naik, dan kini harus merogoh kocek lebih untuk tiket. Kami keberatan," begitu pembelaan salah satu pentolan suporter, seperti dikutip oleh berbagai media.

Logika mereka bisa dimengerti. Tapi logika pengelolaan klub juga perlu dipahami. Anggaplah setiap laga Persija ditonton 30 ribu penonton yang membayar Rp 30 ribu. Dalam semusim dengan 17 laga kandang, klub bisa meraup Rp 15 miliar. Mengingat biaya penyelenggaraan laga kandang Persija lumayan besar, pemasukan bersih boleh jadi hanya Rp 8-10 miliar per musim. Masih lumayan besar.

Masalahnya, berapa nilai kontrak bintang semacam Bambang, Ismed Sofyan, plus 4-5 pemain asingnya? Untuk mereka saja, tim harus merogoh Rp 5-6 miliar. Jika ditambah anggaran kontrak untuk 20 pemain lain plus jajaran pelatih dan ofisial tim, pemasukan tiket Rp 8-10 miliar/musim tak akan bersisa. Padahal, angka Rp 8-10 miliar itu pun cuma di atas kertas. Faktanya, menurut Ferry Paulus, sepanjang musim 2011/2012 lalu total pendapatan Persija dari tiket masuk hanya Rp 4,2 miliar!

Jangan lupa, masih ada komponen pengeluaran lain yang juga besar: pertandingan tandang, biaya persiapan pramusim, operasional tim dan manajemen, dan sebagainya. Tim semacam Persija, Sriwijaya, Persipura, Persib, Arema, atau Persebaya niscaya butuh Rp 16-20 miliar untuk menutupi semua biaya pengeluaran dalam semusim.

Memang ada sumber pemasukan lain yang seharusnya bisa digali. Ada hak siar, merchandise, dan sponsorship. Tapi, faktanya, tiga komponen itu belum bisa diandalkan. Hanya tim seperti Persib, Persipura, Sriwijaya, PSM, Semen Padang, dan Persebaya yang sudah bisa mengoptimalkan pemasukan dari sponsorship. Adapun sektor merchandise dan hak siar tetap masih jauh dari harapan.

Kondisi inilah yang membuat sebagian besar klub di Tanah Air menunggak gaji pemain dan ofisialnya. Tuntutan suporter begitu besar agar klub merekrut pemain bintang, tak peduli nilai kontraknya memberatkan. Tapi saat klub terpaksa harus menaikkan harga tiket, suporter keberatan.

Dengan harga tiket Rp 30 ribu dan rata-rata penonton 30 ribu orang/pertandingan saja, Persija masih merugi. Besar pasak daripada tiang ... Lalu, bagaimana dengan tim semacam Pelita Bandung Raya yang penontonnya cuma ratusan? Atau tim seperti Persibo Bojonegoro yang kapasitas stadionnya hanya 15 ribu dan harga tiketnya rata-rata hanya Rp 20 ribu.

Bagi klub, menggenjot pemasukan dari sponsor masih sulit karena kebanyakan pengelola klub masih mewarisi kultur pendanaan gratis via APBD. Sulit mengubah mindset mereka untuk beralih ke manajemen bisnis modern. Berharap dari hak siar juga masih sulit selama ada dualisme kompetisi yang membuat nilai jual masing-masing kompetisi jadi berkurang.

Kemungkinan lain adalah menggaet pihak ketiga –semacam bapak angkat—yang mensponsori perekrutan pemain bintang bagi masing-masing klub. Tapi alternatif ini tampaknya juga belum cukup menarik minat para pengusaha dan investor.

Maka, pilihan yang tersedia tinggal dua: menaikkan harga tiket atau memangkas anggaran kontrak/gaji pemain. Dua-duanya bukan pilihan mudah. Resistensi suporter terhadap kenaikan harga tiket terbukti sangat besar. Apalagi saat tim kemudian gagal menunjukkan performa yang bagus. Alih-alih menambah pemasukan, jangan-jangan suporter malah semakin enggan ke stadion.

Kalau begitu, tak ada pilihan, klub harus mengurangi nilai kontrak/gaji pemain disesuaikan dengan kemampuannya menggenjot pemasukan. Namun ini juga tak mudah sebab selama bertahun-tahun pemain kadung nyaman menikmati kontrak spektakuler yang sesungguhnya didapat klub dengan "berdarah-darah" lewat subsidi -- bukan berkat pemasukan klub.

Idealnya, anggaran kontrak pemain dan pelatih tak lebih dari Rp 8 miliar/musim -- sekitar 70-80 persen dari total pemasukan yang bisa dimaksimalkan klub. Itu berarti klub hanya bisa mengambil satu pemain top kelas satu miliar, sisanya pemain kelas rata-rata dengan kontrak di bawah Rp 300 juta/musim.

Sayangnya, ide tentang pembatasan anggaran (budget cap) semacam ini selalu dianggap angin lalu dan tak pernah dibahas secara sungguh-sungguh oleh pengelola klub. Mereka tetap jor-joran dan berlomba mengumpulkan pemain bintang dengan kontrak spektakuler yang pada akhir musim nanti mungkin tak semuanya bisa terlunasi.

Persija sebetulnya sudah mencoba bersikap realistis musim ini dengan menahan diri dalam perekrutan pemain. Sayangnya, langkah positif itu tak berbanding lurus dengan performa tim di lapangan hijau. Ditambah minimnya sosialisasi terhadap suporter dan tak adanya kesepakatan soal budget cap di antara sesama pengelola klub, langkah positif itu kini malah berbalik mengikis kredibilitas tim elite Ibukota ini.




(krs/a2s)


Redaksi: info[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
email: sales[at]detik.com

Quotes

  • "Aim for the sky and you’ll reach the ceiling. Aim for the ceiling and you’ll stay on the floor." 

    Bill Shankly

  • “I’ve never played for a draw in my life.”

    Sir Alex Ferguson