About The Game
Jumat, 31 Oktober 2014

Akibat Pasak Terlalu Besar

Mohamad Kusnaeni - detikSport
Kamis, 07/03/2013 13:53 WIB
Halaman 1 dari 2
thumbnail Getty Images
Mungkin sulit bagi penggemar Persija menerima hasil-hasil yang dicapai tim kesayangannya musim ini. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir, "Tim Macan Kemayoran" terdampar di dasar klasemen sementara Indonesia Super League (ISL) musim 2012/2013.

Dalam sembilan laga yang telah dijalani, Persija hanya mengoleksi enam angka. Mereka menelan lima kekalahan, dua kali bermain imbang, dan baru dua kali meraih hasil sempurna.

Benar, kompetisi masih panjang dan segala kemungkinan perubahan bisa terjadi. Hanya saja, jika melihat performa dan materi pemain tim asuhan Iwan Setiawan saat ini, harapan untuk mengembalikan posisi Persija ke papan atas sulit terwujud tanpa suntikan pemain berkualitas plus sedikit pertolongan nasib baik.

Itu dia pokok soalnya. Bagaimana Persija mau merekrut tambahan pemain berkualitas jika urusan gaji Bambang Pamungkas dan kawan-kawan belum teratasi? Dari mana sumber dananya?

Kasus Persija adalah contoh menarik yang mewakili gambaran tentang situasi klub-klub sepak bola di Tanah Air pada umumnya. Jika sepintas kita amati, laga kandang Persija selalu ramai dibanjiri suporternya. Entah saat mereka berkandang di Stadion Utama Gelora Bung Karno maupun ketika terusir main di Solo.

Bagi kalangan awam, sulit dimengerti jika dana jadi persoalan bagi Persija. Penonton membludak, kok tidak bisa membayar gaji Bambang dan kawan-kawan sampai lima bulan? Apalagi Persija tim asal Jakarta yang merupakan pusat ekonomi nasional. Logikanya, lebih mudah cari sponsor.

Tapi begitulah faktanya. Hiruk-pikuk dukungan suporter di stadion bukanlah ukuran sukses tim secara finansial. Keramaian dukungan suporter sebatas menggambarkan popularitas tim tersebut di mata penggemar. Digemari oke, tapi apakah para penggemar itu rela berbuat lebih untuk timnya, itu soal lain.

Mari kita tengok peristiwa yang terjadi hampir setahun lalu. Saat itu, menjelang pertandingan lawan Persisam, Manajamen Persija berencana menaikkan harga tiket, dari kelas VVIP seharga Rp 200 ribu, VIP Rp 100 ribu, Kelas I Rp 50 ribu, dan kelas II Rp 30 ribu. Namun rencana itu ditolak suporter. Mereka beranggapan, persoalan yang menimpa klub tak seharusnya jadi beban tanggungan suporter.

"Banyak jalan yang seharusnya ditempuh manajemen klub, seperti menggaet sponsor dan lainnya. Kami sudah datang memberi dukungan, menyewa mobil yang harganya terus naik, dan kini harus merogoh kocek lebih untuk tiket. Kami keberatan," begitu pembelaan salah satu pentolan suporter, seperti dikutip oleh berbagai media.

Logika mereka bisa dimengerti. Tapi logika pengelolaan klub juga perlu dipahami. Anggaplah setiap laga Persija ditonton 30 ribu penonton yang membayar Rp 30 ribu. Dalam semusim dengan 17 laga kandang, klub bisa meraup Rp 15 miliar. Mengingat biaya penyelenggaraan laga kandang Persija lumayan besar, pemasukan bersih boleh jadi hanya Rp 8-10 miliar per musim. Masih lumayan besar.
Halaman 1 2
(krs/a2s)
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: info[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
email: sales[at]detik.com

Quotes

  • "Real Madrid has only one problem: Barcelona. Everything else is fine." 

    Bernd Schuster

  • “Barcelona have a great club. But in 200 years of history they have won the European Cup only once. I have been managing for a few years and I have already won the same amount.”

    Jose Mourinho