About The Game
Kamis, 28 Agustus 2014

Dua Kisah 'Invincibles'

Pandit Football Indonesia - detikSport
Senin, 11/03/2013 21:14 WIB
Halaman 1 dari 3
thumbnail
Kali ini kita akan membahas perbandingan antara dua tim sepakbola, Arsenal sebagai juara English Premier League musim 2003/2004 dan Juventus yang menjuarai Seri A 2011/2012. Perbandingan ini menarik mengingat kedua tim sama-sama tidak pernah terkalahkan sepanjang musim tersebut.

Kedua tim yang mengakhiri musim dengan tak terkalahkan ini melakukannya dengan berbeda cara. Arsenal meraih poin terbanyak, dibanding dengan Juventus yang pada awal musim berjalan lebih banyak bermain imbang. Begitupun dengan hal memasukan dan kemasukan, Arsenal jauh lebih besar.
 
Tim Main Menang Imbang Gol Kemasukan Selisih Poin
Arsenal 38 26 12 73 73 47 90
Juventus 38 23 15 15 68 48 84

Perbedaan

Sebelum merebut gelar 2003/2004, Arsene Wenger sudah memberi gelar juara 2 kali, yakni pada musim 1997-1998 dan 2001-2002. Sejak masuknya Wenger, Arsenal hamper selalu berada di posisi empat besar dan praktis menjadi penantang rutin bagi dominasi Manchester United. Jika bukan United yang juara, Arsenal yang juara. Jadi, sebelum mengarungi musim 2003/2004 dengan gemilang, Arsenal sudah menancapkan kukunya lebih dulu.

Memasuki musim 2003/2004, Wenger melakukan beberapa perubahan di skuatnya. Setelah David Seaman pensiun, posisi penjaga gawang diisi oleh Jens Lehman yang didatangkan dari Borussia Dortmund. Sementara untuk melapis Ashley Cole, Wenger mendatangkan Gael Clichy. Pada pertengahan musim, saat bursa transfer musim dingin, Jose Antonio Reyes didatangkan dari Sevilla.

Di sisi lain, Juventus memulai musim 2011-2012 dengan cara yang berbeda. Tim kota Turin ini terakhir menjuarai Seri A pada musim 2005-2006, itu pun berakhir dengan tragis: gelarnya dicopot dan sekaligus didegradasi ke Seri B karena skandal-skandal pengaturan skor (Calciopoli).

Si Nyonya Besar, julukan Juventus, memang hanya setahun tenggelam di kasta kedua sepakbola Italia itu. Satu musim berikutnya, mereka sudah kembali ke Seri A. Kendati demikian, situasi itu tak urung menggembosi kekuatan Juve. Mayoritas pilar-pilar mereka hengkang, dari Fabio Cannavaro, Lilian Thuram, Zlatan Ibrahimovic sampai Patrick Viera. Beruntung masih ada beberapa pilar yang tetap setia walau bermain di Seri B, semisal Alessandro del Piero, Gianluigi Buffon sampai Mauro Camoranesi.

Selama periode suram itu, Inter Milan mendominasi Seri A. Di bawah asuhan Roberto Mancini lantas dilanjutkan Jose Mourinho, Inter berturut-turut merebut scudetto dari musim 2006/2007 sampai musim 2009/2010. Juve sendiri hanya mampu bertengger di posisi tujuh klasemen, baik di musim 2009/2010 maupun 2010/2011.

Berbeda dengan Arsenal yang sebelumnya tergolong stabil dan sudah pernah mencicipi gelar juara, Juve bukan hanya gagal menjadi juara sejak mereka kembali ke Seri A, tapi bahkan berkali-kali bongkar pasang manajer. Dari mulai Didier Deschamps, Claudio Ranieri, Ciro Ferrara, Alberto Zaccheroni sampai Luigi Del Neri.

Memulai musim 2011-2012 dengan tidak mengharapkan target juara (apalagi bermimpi tidak terkalahkan sepanjang musim), Juve akhirnya dibesut oleh mantan pemainnya sendiri: Antonio Conte.

Suasananya tidak terlalu menguntungkan bagi Juve. Pesimisme meruyak secara alami. Itu tercermin dari animo penonton yang datang rata-rata hanya 25 ribu orang per laga. Suasana segar mencuat dari selesainya stadion baru milik Juve sendiri. Dengan berkandang di stadion baru milik sendiri, bukan lagi numpang di stadion milik pemerintah kota, Juve mencoba menuai optimisme.
Halaman 1 2 3
(roz/roz)
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: info[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
email: sales[at]detik.com

Quotes

  • "I could write a book of 200 pages of my two years in Inter with Mario (Balotelli). But the book would not be a drama, the book would be a comedy." 

    Jose Mourinho

  • “I'm happy to be back because I left England and it was a mistake. I wanted to go to Italy but I realised it was a mistake.”

    Mario Balotelli