Jumat, 30 September 2016

Other Match

Other Match
Friday, 22 March 2013 23:55 WIB
Maksimir
Wasit:
Jumlah Penonton:

Kualifikasi Piala Dunia: Kroasia 2-0 Serbia

Rivalitas yang Panas, Pertandingan yang Sempat Monoton

Aqwam Fiazmi Hanifan - detikSport
Minggu, 24/03/2013 19:22 WIB
Rivalitas yang Panas, Pertandingan yang Sempat MonotonAFP/Dimitar Dilkoff
“Kill, Kill,Kill, The Serbs” serempak semua penonton berteriak kalimat itu di Maksimir Stadium, Zagreb. Saat Kroasia bertemu dengan Serbia dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2014 Grup A zona Eropa, Sabtu (23/3) dinihari lalu.

Lewat perkataan tersebut tergambar jelas kebencian mendalam pendukung Kroasia terhadap 11 pemain Serbia yang bermain di lapangan. Tekanan psy war ini terbukti cukup efektif. Anak asuh Sinisa Milhajovic terrsebut pun bermain tak fokus. Mereka kemudian harus menelan kekalahan menyakitkan 0-2 dari Kroasia.

Kekalahan tim berjuluk 'Si Elang Putih' tersebut akan tercatat sebagai kekalahan pertama dalam pertemuan pertama kalinya kedua negara ini pasca perang Bosnia tahun 1990-an silam. Yang lebih menyakitkan, peluang Serbia untuk lolos ke Brasil semakin kecil karena jarak dengan Kroasia, yang berada di posisi runner-up, semakin jauh. Saat ini Serbia bercokol di posisi 4 dan baru mengemas 4 poin sementara Kroasia sudah mengoleksi 13 poin.

Dua gol yang dicetak Mario Mandzukic dan Ivica Olic cukup untuk membuat Kroasia berpesta, dan untuk sementara memenangi head-to-head dalam perang sepakbola melawan Serbia. Kedua tim ini akan bertemu kembali di Beograd tanggal 6 September nanti.

4-4-2 versus 4-2-3-1

Menghadapi laga penuh gengsi di kandang sendiri, pelatih Kroasia Igor Stimac tak tanggung-tanggung dalam mempersiapkan serangannya. Dengan menggunakan pola 4-4-2 ia memasang 4 pemain bertipikal attacking mielfider di lini tengah yaitu Niko Kranjcar, Luka Modric, Ivan Rakitic, dan Ivica Olic.

Posisi Modric yang biasanya diplot sebagai playmaker sedikit diturunkan menjadi deep lying, sejajar dengan Kovacic sebagai defensive mieldfider. Sementara itu, Posisi Kranjcar dan Rakitic di pasang melebar ke kedua sayap. Kranjcar di kiri dan Rakitic kanan. Jangkauan area posisi dua pemain ini tak mentok hanya di sayap, secara bergantian mereka harus bergeser ke tengah menjadi playmaker menyalurkan bola ke depan.

Dengan starting eleven seperti ini formasi Kroasia menjadi lebih fleksibel. Saat menyerang, Modric akan naik kedepan mengapit Kranjcar dan Rakitic. Posisi yang ditinggalkan Modric diisi Vedran Vorluca dan formasi menjadi 3-2-3-2.

Yang menarik, sejak menit awal Igor Stimac lebih memilih memasang Ivica Olic untuk mendampingi Mario Mandzukic di lini depan ketimbang Nikica Jelavic. Posisi Olic yang lebih bersifat AM yang menjadi penyebabnya. Kondisi ini membuat Kroasia cukup bisa mengimbangi pertarungan di lini tengah, pasalnya, Serbia menggunakan pola 4-2-3-1.

Di kubu lawan, saat menghadapi tim-tim unggulan di babak penyisihan kualifikasi Grup A seperti Wales dan Belgia, Sinisa Milhajovic memang selalu menggunakan pola itu. Sayangnya, Serbia kehilangan centre back andalannya, Nenad Tumovic, akibat hukuman kartu merah di pertandingan sebelumnya saat menghadapi Siprus. Posisinya kemudian diganti oleh pemain Chelsea, Branislav Ivanovic, yang telah lama absen.






Poros Kranjcar, Kelemahan Kolarov

Penampilan buruk full-back Serbia Aleksandar Kolarov saat pertandingan Machester City kontra Everton di BPL minggu lalu, dimanfaatkan Kroasia dengan maksimal. Sejak menit 1-30, serangan Kroasia lebih difokuskan pada sayap kiri yang dijaga Kolarov. Berkali-kali, Kranjcar, Rakitic, dan Darijo Srna berhasil membuat attempt mengelabui Kolarov.

Ditariknya Kranjcar di babak kedua memberikan efek yang cukup terasa di pertandingan. Saat Kranjcar belum ditarik, Kolarov enggan untuk naik ke depan membantu serangan. AM Serbia, Alan Stevanovic, pun lebih banyak berkutat di sepertiga daerah pertahanan sendiri daripada menyerang ke depan karena tak ada partner yang menusuk menyisir tengah lapangan. Sayap kanan otomatis dikuasai Kroasia.

Namun, unggul 2-0 membuat pelatih Kroasia memasukan Domagoj Vida menggantikan Kranjcar, hal ini membuat pola permainan berubah. Vida yang merupakan seorang full-back di tugaskan bertukar posisi dengan Srna yang posisinya naik ke depan. Hilangnya Kranjcar membuat Kolarov mulai naik untuk menyerang. Sejak menit 65, posisi Kolarov lebih sering berkutat di tengah daripada di lini pertahanannya sendiri.

Rivalitas Telat Panas

Hilangnya Tumovic di centre back terasa betul oleh Serbia. Kolarov dan Nastasic seolah kehilangan partner saat bertahan. Dua gol yang bersarang di gawang Zelko Brijkic sendiri bukanlah gol dengan proses yang cantik. Dua gol tersebut diakibatkan kesalahan pemain Serbia sendiri. Gol pertama terjadi karena kesalahan Kolarov yang salah memberikan passing kepada Neven Subotic. Gol kedua terjadi akibat kiper yang telat mengantisipasi bola dan Ivanovic yang gagal mengawal Olic.

Mengingat sejarah dua negara yang pernah berperang tahun 1990-an ini, banyak pengamat beranggapan laga ini akan menjadi pertandingan panas dengan tensi keras. Tetapi kenyataanya, jika melihat dari permainan dan dua gol yang terjadi, Serbia seolah membantah anggapan asa tersebut.

Di babak pertama, pertandingan cenderung monoton dan membosankan. Dengan menumpuknya pemain di lini tengah dan dengan hanya memasang Marko Scepovic sendirian di depan, Serbia lebih memilih bertahan. Peluang yang diciptakan kedua tim sangatlah minim. Kroasia dan Serbia hanya mampu menghasilkan 1 shot on goal di babak pertama.

Tetapi memasuki babak kedua, tensi pertandingan menjadi sedikit memanas. Lebih-lebih setelah Kranjcar keluar dan Serbia mengganti ujung tombak di depan Scepovic dengan Filip Djuricic. Pemain Heerenven ini tampil cukup lumayan, 7 shooting berhasil ia lakukan ke gawang Kroasia dengan 2 berhasil diblok kiper Stipe Pletikosa dan 5 lainnya shot off target. Mayoritas, peluang yang didapat Djuricic diawali penyerangan sayap kanan yang dipelopori Kolarov dan Ivan Radovanovic.





Kesimpulan

Peluang yang didapat kedua tim cenderung sedikit dan permainan telat panas. Namun dengan tingginya jumlah foul dan tackle yang dilakukan kedua tim, laga ini pantas saja disebut sebagai laga dengan tensi dan sejarah yang panas.

Kroasia melakukan 35 tekel dan Serbia 22 tackle. Sementara dalam hal foul, Serbia 28 foul dan Kroasia 21 foul. Menariknya, hampir 40 % foul yang dilakukan Serbia dilakukan oleh empat bek mereka di daerah pertahanan sendiri. Berbeda dengan Kroasia yang 70% foul dilakukan oleh dua AM dan dua striker mereka yang areanya berada di daerah pertahanan lawan.

Statistik ini membutikan bahwa Kroasia berkeinginan untuk tampil menyerang sejak laga awal. Sehari sebelum pertandingan, Koran Nasional di Kroasia, Jutarnji, pernah membuat headline di halaman depan dengan judul "With a victory you will become a legend!". Kini harapan itu tercapai. Tentunya dengan bonus bisa menutup peluang pesaingnya untuk bisa berlaga di Brasil.

=====

*akun Twitter penulis: @aqfiazfan @panditfootball


(a2s/roz)


Redaksi: info[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
email: sales[at]detik.com

Quotes

  • Real Madrid is the most important thing that happened to me, both as a footballer and as a person.
    Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/authors/z/zinedine_zidane.html
    "I’d rather have that role (the super sub) and make an impact than play 200 games and be average.."

    Ole Gunnar Solskjaer

  • "Every disadvantage has its advantage."

    Johan Cruyff