Selasa, 6 Desember 2016

Liga Champions

Liga Champions
Thursday, 11 April 2013 01:45 WIB
Camp Nou
Wasit:
Jumlah Penonton:

Liga Champions: Barcelona 1-1 PSG

Taktik Jitu Ancelotti, Peran Vital Lionel Messi

Vetricia Wizach - detikSport
Kamis, 11/04/2013 14:43 WIB
Taktik Jitu Ancelotti, Peran Vital Lionel MessiAFP/Jose Jordan
Barcelona berhasil memastikan satu tempat di semi final Liga Champion 2013 setelah bermain imbang 1-1 dengan Paris St Germain. Meski Barcelona maupun PSG tidak ada yang menderita kekalahan dalam dua leg perempat final, Barcelona dinyatakan lolos karena aturan gol tandang.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Camp Nou, PSG sebenarnya berhasil menguasai permainan selama 60 menit. Dengan formula bermain secara sempit di area tengah, dan tidak memanfaatkan lebar lapangan, berkali-kali Zlatan Ibrahimovic dkk menghujam jantung pertahanan La Blaugrana dan membuat Gerard Pique, atau Adriano, ketar-ketir.

Namun, semua berubah saat Lionel Messi masuk dan menggantikan Cesc Fabregas. Barcelona kemudian kembali menguasai permainan melalui penguasaan bola dan gantian berulang kali mengancam gawang Salvatore Sirigu. Sembilan menit setelah Messi masuk, Barcelona pun sukses mencetak gol.

Kekuatan Lini Tengah PSG

Walau menggunakan formasi yang sama dengan minggu lalu, Ancelotti melakukan beberapa perubahan di lini tengah. Duet David Beckham-Blaise Matuidi ditukar dengan Thiago Motta dan Marco Veratti. Motta sendiri ketika masih berkostum Inter Milan pernah menghadapi Barcelona dan fasih menghadapi trio Xavi Hernandez-Andres Iniesta-Sergio Busquets.

Satu hal yang menarik untuk dicatat dari lini tengah PSG adalah bagaimana bentuknya yang berubah saat bertahan maupun saat menyerang. Ketika Barcelona memiliki penguasaan bola, maka keempat orang pemain tengah PSG akan bermain sejajar, sebagaimana formasi 4-4-2 tradisional, untuk memperkecil ruang di antara pemain Barcelona.

Hal inilah yang menyebabkan baik Iniesta maupun Fabregas jarang mendapatkan ruang untuk memberikan umpan-umpan terobosan ke dalam kotak penalti. Acap kali Iniesta dan Fabregas tertahan di sepertiga lapangan akhir oleh garis lini tengah PSG dan bahkan tak bisa bergerak masuk ke kotak penalti.

 


Grafik passing Iniesta dan Fabregas hingga menit 60 (tak sekalipun berhasil mengirim umpan terobosan ke kotak penalti). Sumber: Squawka.com

 
Namun, susunan lini tengah ini berbeda saat PSG menyerang. Ancelotti membentuk lini tengahnya seperti formasi berlian, yaitu Veratti berada posisi di paling dalam, Motta bergerak naik di kanan, Pastore di kiri, dan Lucas Moura acap kali berada di puncak formasi berlian. Formasi inilah yang sering digunakan oleh Ancelotti ketika masih mengarsiteki AC Milan.

Dengan menggunakan formasi berlian di lini tengah ini, Ancelotti memastikan akan ada minimal 4 pemain yang fasih mendistribusi umpan di area pertahanan Barcelona sekaligus mampu untuk bergerak masuk ke kotak penalti: Moura, Pastore, Ezequiel Lavezzi, dan Ibrahimovic.

Kombinasi keempatnya ini kerap merepotkan duet Pique-Adriano, karena kedua center-back Barcelona tidak memiliki satu pemain yang menjadi titik fokus. Saat Lavezzi bergerak masuk ke kotak penalti, maka Ibra akan menunggu dan mengalirkan bola. Hal yang sama juga dilakukan oleh Moura dan Pastore yang bergantian memasuki area gawang Victor Valdes. Tak heran gol PSG lahir dari proses seperti ini. Ibra mengalirkan bola, sementara Lavezzi dan Pastore bergerak cepat untuk masuk ke kotak penalti.

Tapi, bisa dikatakan para penyerang PSG sendiri kurang efektif dalam menyelesaikan serangan- serangan ini. Terhitung delapan kali mereka bisa menembus kotak penalti Barcelona dan bahkan bisa berhadap-hadapan dengan Valdes, namun hanya satu yang berhasil jadi gol.
 

 

Rebut Bola dari Tengah

Selain karena pola menyerang secara bergantian, permainan pun dikuasai PSG karena para pemainnya aktif dalam mengejar bola-bola kedua serta memenangi duel-duel udara. Bahkan, selama 90 menit, PSG berhasil memenangkan 20 dari 26 duel udaranya dengan Barcelona.
 
Grafik Aerial Duel PSG. Sumber: Squawka.com





 
 
Tak hanya berhenti di duel-duel udara, Veratti dkk. pun aktif dalam merebut bola-bola liar untuk kemudian diubah jadi serangan. Turnover secara cepat inilah yang jadi salah satu kekuatan PSG dalam melakukan serangan balik. Veratti yang menjadi pengatur serangan di lini tengah pun mampu melakukan tugasnya dengan baik. Melalui umpan-umpannya, PSG mampu menentukan tempo bermain saat melakukan counter-attack.

Tidak Ada Messi Tidak Tajam

Sementara itu di kubu Barcelona, Messi yang tidak dipasang sebagai starter membuat lini serang Barca kesulitan untuk menembus barisan pertahanan PSG. Baik David Villa, Iniesta, Fabregas, maupun Pedro Rodriguez sama sekali tidak mampu menembus keempat bek PSG, yang memang mampu mengantisipasi pergerakan keempat punggawa La Blaugrana tersebut.

Selain kehilangan kemampuan Messi dalam menemukan celah untuk mengirimkan umpan dalam ruang sempit, Barcelona juga kehilangan pemain yang mampu menarik bek-bek lawan sehingga terbuka ruang bagi Villa atau Pedro untuk masuk ke dalam kotak penalti.

Tak heran dalam babak pertama Barcelona hanya mampu menghasilkan 13 kali percobaan ke arah gawang, dengan hanya satu yang menemui target. Bahkan, tercatat hanya satu yang benar-benar membahayakan Sirigu, yaitu di menit ke-21 saat tendangan Pedro dari sebelah kiri gawang hanya mampu mengenai sisi gawang.

Hal ini juga diperparah dengan Barcelona yang tidak mampu melebarkan ruang bermain, terutama di sepertiga lapangan terakhir. Ancelotti sendiri menyuruh kedua fullback-nya, Christoper Jallet dan Maxwell, untuk tidak bergerak naik dan menahan pergerakan Alves dan Jordi Alba.
 
Grafik passing Jordi Alba dan Dani Alves di babak pertama 
 

 

Dari grafik di atas terlihat bahwa dalam 45 menit babak pertama hanya dua kali Alves mampu mengirimkan umpan ke dalam kotak penalti PSG. Alba bahkan tampil lebih buruk. Ia tak mampu berduel dengan Jallet dan tak bisa menembus area sepertiga lapangan akhir dengan umpan-umpannya.

Jallet sendiri tampil baik dalam pertandingan ini. Total 5 tekel, 3 intersepsi, dan 2 clearance ia lakukan semalam, menjadikannya pemain dengan defensive action terbanyak setelah Marco Veratti.

Padunya Duet Lavezzi-Ibrahimovic

Dengan semakin seringnya tim-tim di Eropa menggunakan formasi dengan satu striker, duet penyerang di lini depan semakin jarang ditemukan. Namun dalam diri Lavezzi dan Ibrahimovic, Ancelotti telah mengembangkan duet penyerang yang bisa dikatakan unik. Hal ini dikarenakan tidak ada satu pun dari Lavezzi atau Ibra yang konstan menjadi fulkrum, atau titik pusat, serangan.

Walau memiliki kemampuan aerial duel yang baik serta tendangan akurat, Ibrahimovic lebih sering mengambil peran sebagai pengatur serangan di area pertahanan lawan. Peran yang sama yang ia lakoni bersama Swedia saat mengenakan nomor punggung 10. Sementara itu, alih-alih menjadi ujung tombak, Lavezzi pun acap kali bergerak melebar ke arah sayap lapangan dan memberikan umpan silang.

Tak heran dalam pertandingan ini Lavezzi sukses melakukan 5 kali umpan silang, sementara Ibra mengirimkan 6 kali key-passes. Keduanya pun padu dalam membaca gerakan masing-masing. Saat satu memasuki kotak penalti, maka satunya akan tetap tinggal di area luar untuk menarik bek atau mengirimkan umpan.

Satu catatan sendiri bagi Ibra adalah ia jadi pembuat assist tertinggi di PSG pada Liga Champions musim ini. Total 7 assist telah ia bikin, termasuk umpannya pada Pastore dalam pertandingan semalam.

Faktor Masuknya Messi

Setelah tertiggal karena gol Pastore, Tito pun lalu coba mengubah permainan dengan memasukkan Lionel Messi. Keputusan ini pun membuahkan hasil. Dengan penonton yang bersorak ramai saat pemain asal Argentina ini masuk, para pemain Barcelona pun seakan mendapatkan rohnya kembali. Mereka lebih tenang dalam melakukan passing-passing pendek dan kembali menguasai permainan melalui penguasaan bola.

Tak heran semenjak Messi masuk di menit ke-62 hingga terjadinya gol di menit 70, Barcelona berhasil membangun 4 kali serangan, yaitu 2 kali melalui Iniesta, satu kali Pique, dan satu kali melalui kaki Lionel Messi sendiri.

Bahkan gol Barca pun tak lepas dari peran Messi. Ia yang mengirimkan umpan pada David Villa yang kemudian diteruskan pada Pedro yang menusuk masuk dari sayap kiri.

Setelah terciptanya gol ini, praktis Barca pun menguasai permainan. PSG masih tetap melakukan serangan dan beberapa kali mengancam gawang Valdes, namun tidak dengan intensitas yang sama. Veratti-Motta-Pastore-Moura pun tidak mampu mengembangkan serangan balik yang jadi keunggulan mereka di babak pertama.

Kesimpulan

Dengan memaksimalkan kekuatan lini tengah, duet Ibra-Lavezzi, dan serangan balik, Carlo Ancelotti sebenarnya telah menemukan cara untuk menghadapi Barcelona tanpa bermain terlampau defensif. Namun, kegagalan memanfaatkan peluang serta ketidakmampuan untuk menghadapi pengaruh Lionel Messi jadi penghambat tim asal kota Paris ini di Liga Champion.

Sementara itu, Barcelona pun belum bisa berpuas diri. Selama 60 menit mereka merasakan bagaimana sulitnya mengembangkan permainan tanpa adanya Lionel Messi. Dengan kondisi pemain Argentina ini yang belum sembuh benar, tentu alternatif strategi perlu disiapkan oleh Vilanova di babak semifinal.

====

* Akun Twitter penulis: @vetriciawizach dari @panditfootball


(krs/roz)


Redaksi: info[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
email: sales[at]detik.com

Quotes

  • Real Madrid is the most important thing that happened to me, both as a footballer and as a person.
    Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/authors/z/zinedine_zidane.html
    "I’d rather have that role (the super sub) and make an impact than play 200 games and be average.."

    Ole Gunnar Solskjaer

  • "Every disadvantage has its advantage."

    Johan Cruyff