About The Game
Rabu, 20 Agustus 2014

Sejarah PSSI (Bagian 7): PSSI Tak Antusias Ikut Piala Dunia 1938

Vetricia Wizach - detikSport
Selasa, 16/04/2013 10:48 WIB
Halaman 1 dari 4
thumbnail
Cobalah bertanya pada anak-anak kecil yang senang bermain sepakbola. Jika suatu saat mereka jadi pemain bola dan terpilih mewakili timnas, apa mimpi mereka? Tentu rata-rata akan menjawab: "membawa timnas ke Piala Dunia!"

Mimpi untuk berlaga di ajang tertinggi antar negara di dunia itu kini memang seakan jadi satu-satunya puncak pencapaian prestasi suatu negara, terutama di Indonesia. Tidak sreg rasanya jika tidak mentargetkan "masuk ke Piala Dunia tahun XXXX" dalam setiap program pembinaan pemain usia muda. Kalau tidak 2022, ya 2026. Atau, paling banter, ya 2030. Pokoknya bakat-bakat terbaik negeri ini harus tampil bersama-sama pemain kelas dunia lainnya. Bagaimanapun caranya.

Tapi, kali pertama Indonesia, atau Hindia Belanda, mendapatkan kesempatan untuk mengirimkan tim ke Piala Dunia, PSSI menanggapinya dengan dingin. Biasa saja.

Terpilih Mewakili Asia

Kesempatan untuk mencicipi panggung internasional pertama kalinya datang pada 1938, atau pada Piala Dunia ketiga. Saat itu Asia jadi benua yang belum pernah mengirimkan wakilnya ke kompetisi ini dalam dua penyelenggaraan sebelumnya.

Undangan sendiri sebenarnya dikirimkan oleh FIFA pada NIVU, organisasi yang resmi tercatat sebagai bagian FIFA untuk mewakili Hindia Belanda (bukan Indonesia). FIFA pun kemudian menunjuk Karl Lostji sebagai penanggung jawab penyusunan timnas Hindia Belanda.

Perihal Hindia Belanda yang mendapat undangan dari FIFA, ada dua versi tentang alasan di belakang undangan ini. Pertama adalah karena Hindia Belanda dinilai memiliki armada laut yang cukup tangguh, sehingga memungkinkan untuk pergi ke benua Eropa. Memang, di awal-awal penyelenggaraan Piala Dunia, banyak negara yang tak sanggup untuk mengikuti karena harus menempuh ganasnya perjalanan lewat laut.

Sementara versi kedua adalah karena Belanda mengirim timnasnya ke Prancis. Mungkin sekali Belanda melobi FIFA untuk dapat mengirimkan timnya yang kedua, walaupun berasal dari negara jajahannya. Apalagi NIVU memang sudah terdaftar sebagai anggota resmi FIFA.

Piala Dunia 1938 sendiri sarat dengan aroma politis dan kental dengan sikap tarik ulur antara anggota FIFA saat itu. Di era tersebut, sepakbola, dan mayoritas olahraga lainnya, memang sering digunakan sebagai alat propaganda. Hasil dari pertandingan-pertandingan internasional dilihat bukan hanya sebagai refleksi dari skill atau tingkat kemampuan sepakbola suatu negara, tapi juga cerminan dari kondisi sosio-politik dan kekuatan negara tersebut.

Tak heran jika Benito Mussolini sampai mengirimkan pesan singkat "menang atau mati" pada timnas Italia yang akan berjuang di final Piala Dunia 1938 melawan Hongaria. Atau lihat bagaimana Inggris yang menarik dirinya dari semua ajang Internasional karena tak ingin dijadikan alat propaganda negara manapun. Jerman sendiri sempat "diasingkan" dari semua turnamen internasional (termasuk di antaranya Olimpiade) oleh lawan-lawannya di Perang Dunia I.
Halaman 1 2 3 4
(roz/roz)
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: info[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
email: sales[at]detik.com

Quotes

  • "I don't feel pressure. I spent the afternoon of Sunday, July 9, 2006, in Berlin sleeping and playing the Playstation. In the evening, I went out and won the World Cup." 

    Andrea Pirlo

  • “Running is for animals. You need a brain and a ball for football.”

    Louis van Gaal