About The Game
Rabu, 3 September 2014

Baku Tembak di Lapangan Sidolig Jelang Akhir Revolusi

Aqwam Fiazmi Hanifan - detikSport
Rabu, 17/04/2013 14:16 WIB
Halaman 1 dari 4
thumbnail Ilustrasi: REUTERS
Voetbal is oorlog. Sepakbola adalah peperangan, kata Rinus Michels yang merupakan penubuh sistem sepakbola supercanggih: total voetbal.

Tak jelas apa yang ia ucapkan. Ia pun mengakui dirinya mengutip kata-kata itu di luar konteks dari sepakbola dan tak bermaksud menyamakan perang dengan sepakbola. Namun toh dalam kenyataannya tak sedikit peperangan terjadi karena disulut sepakbola. Rivalitas panjang di antara dua tim yang berlaga jadi bara yang siap diledakkan. Emosi, reputasi, dan harkat dilibatkan.

Dalam beberapa kasus, sepakbola biasanya dijadikan titik klimaks untuk meluapkan kekesalan atas perbedaan-perbedaan yang terjadi di antara dua pihak, baik itu soal kebangsaan, agama, strata sosial, ekonomi, ras dan lainnya.

Tak perlu kita jauh-jauh ke Amerika Selatan untuk mempelajari arti "voetbal is oorlog" yang membuat Honduras dan El Salvador -- misalnya -- berperang dan menewaskan lebih dari 2 ribu jiwa warga sipil. Cukup kita menengok saja sesuatu hal yang menggemparkan masyarakat Kota Bandung pada tanggal 17 Desember 1950. ketika itu, gara-gara soal sepakbola, lima orang tewas dan puluhan lainnya terluka akibat baku tembak antara APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) -- cikal bakal TNI -- dan KL (Koninklijke Leger) Kerajaan Belanda.

Sidolig Veld, Bandung 18 Desember 1950

Dalam rangka menyambut datangnya hari Natal dan syukuran atas dipulangkannya kembali prajurit Angkatan Darat Kerajaan Belanda ke negeri asalnya, pihak Rayons Sportofficier van de K.L (Divisi Olahraga A.D Belanda) bersama 50 tentara terakhir yang masih tersisa di Kota Bandung mengadakan turnamen sepakbola di Lapangan Sidolig. Lokasi turnamen sengaja di pilih di Sidolig karena dekat dengan perkemahan mereka. Turnamen itu diikuti oleh klub Jong Ambon, Sidolig, Chung Hua, UNI dan dua tim internal dari A.D Belanda itu sendiri.

Hari Minggu tepat pukul 16.00, pertandingan antara Sidoling dan Jong Ambon dimulai. Turnamen ini ternyata menyedot animo masyarakat Kota Bandung. Sebuah insiden terjadi di pintu masuk lapangan Sidolig. Lima menit setelah kickoff, sekelompok tentara Indonesia dari APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia), ingin masuk menonton pertandingan tanpa membayar karcis. Jelas saja, permintaan ini ditolak oleh beberapa tentara Belanda yang kebetulan ditugasi menjadi penagih karcis, yang di antaranya adalah Laisina.

Salah seorang tentara APRI yang tetap keukeuh menerobos memaksa masuk, mendapatkan bogeman mentah dari tentara belanda, membuatnya tergelapar K.O pingsan tak berdaya. Tak ada yang tahu kata-kata apa yang dikeluarkan dalam diskusi dua kubu prajurit untuk menjernihkan masalah itu, tiba-tiba saja mereka terlibat perkelahian, dan saling baku hantam satu sama lain.

Karena merasa terdesak, sekelompok prajurit APRI itu kemudian berbalik badan meninggalkan lapangan Sidolig. Prajurit Belanda pun terkekeh-kekeh menertawakan larinya prajurit Indonesia ini. Namun siapa sangka, rasa dendam dan kemarahan justru memuncak. Sekelompok APRI ini mundur bukan memang benar karena takut, tapi mereka berlari menuju pos APRI terdekat untuk mengambil senjata api.

Sekitar pukul 16.30, sekelompok APRI ini kembali ke Lapangan Sidolig. Dengan kemarahan yang begitu tinggi, tanpa ragu-ragu, mereka menembak secara membabi buta ke arah lapangan, di mana di situ terdapat prajurit Belanda yang memang tak bersenjata. Tiga orang prajurit Belanda dan satu pemain Jong Ambon tewas. Puluhan orang lainnya tergeletak karena tertembak.
Halaman 1 2 3 4
(roz/a2s)
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: info[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
email: sales[at]detik.com

Quotes

  • "I could write a book of 200 pages of my two years in Inter with Mario (Balotelli). But the book would not be a drama, the book would be a comedy." 

    Jose Mourinho

  • “I'm happy to be back because I left England and it was a mistake. I wanted to go to Italy but I realised it was a mistake.”

    Mario Balotelli