Senin, 8 Februari 2016

WIB
Wasit:
Jumlah Penonton:

Liga Inggris: Liverpool 2-2 Chelsea

Cetak Gol dengan Manfaatkan Kelemahan Lawan

Vetricia Wizach - detikSport
Senin, 22/04/2013 15:12 WIB
Cetak Gol dengan Manfaatkan Kelemahan LawanMichael Regan/Getty Images
Empat gol tercipta dalam pertandingan lanjutan Liga Inggris tadi malam di Anfield, antara Liverpool kontra Chelsea, tanpa menghasilkan pemenang.

Pada pertandingan ini Brendan Rodgers mempertahankan tim yang tampil baik saat melawan Reading. Ia hanya melakukan satu perubahan yaitu memasukkan Stewart Downing ke dalam starting line-up untuk menggantikan Daniel Sturridge.

Sementara Rafael Benitez juga hanya melakukan satu perubahan dari tim yang biasa ia turunkan, yaitu dengan memasang Fernando Torres sebagai ujung tombak. Lini tengah masih dipercayakan pada doble-pivot Ramires-Obi Mikel dan trio Hazard-Mata-Oscar yang menopang Torres.



Menyerang dari Kanan

Di 15 menit pertama Liverpool sendiri tampil dominan dan sempat dua kali mengancam Chelsea saat Coutinho dan Glen Johnson melayangkan attempts ke gawang Chelsea. Pada periode waktu ini, Suarez bermain lebih dalam dan mengambil peran sebagai pengumpan, sementara Coutinho, Henderson, atau Johnson menusuk masuk ke dalam kotak penalti.

Hal ini sempat merepotkan Chelsea karena alih-alih menjaga satu striker tunggal kedua center-back harus menjaga pergerakan tiga pemain sekaligus. Pada periode waktu ini, Suarez jugalah yang memberikan umpan silang pada Coutinho dan Johnson.

Saat menyerang, Liverpool lebih sering memanfaatkan sisi kanan lapangan, yaitu melalui triangulasi Downing-Suarez-Johnson. Apalagi Chelsea tidak bisa memainkan bek kiri terbaiknya, sehingga Liverpool coba untuk mencari celah dari sisi lapangan ini. Hazard yang dipasang di depan Bertrand pun jarang memberikan proteksi pada bek kanan Chelsea, dan tercatat hanya melakukan satu kali tekel (satu-satunya defensive action Hazard) selama 90 menit.



Dari grafik passing Liverpool di 15 menit pertama di atas terlihat bagaimana bola dominan dialirkan dari sisi kanan lapangan. Bahkan Henderson lebih sering bergerak ke area lapangan ini sehingga Coutinho bergeser ke area tengah.

Namun, dengan Coutinho yang selalu bergerak masuk ke area lapangan, acap kali Jose Enrique terisolasi sehingga tak mampu untuk masuk ke area sepertiga lapangan akhir Chelsea. Enrique adalah tipikal pemain yang membutuhkan tandem untuk melakukan umpan satu-dua untuk kemudian menerobos masuk hingga ke garis gawang dan memberikan umpan tarik. Namun, di babak pertama ia terisolasi sehingga tak efektif dalam menyerang. Tak heran dalam 45 menit, pemain Spanyol itu hanya mampu satu kali melakukan passing di area sepertiga lapangan akhir.




Chelsea Ganti Menyerang

Namun, setelah 15 menit Chelsea kemudian mengambil alih permainan dan menyerang Liverpool. Dengan Henderson yang bermain dekat dengan lini depan, Livepool hanya menyisakan Gerrard dan Lucas untuk bertugas di lini tengah dan menjaga gempuran Chelsea.

Dengan Mata yang bermain lebih dalam untuk membantu Ramires dan Obi Mikel, otomatis Chelsea unggul dalam jumlah pemain di area lapangan ini. Akibatnya, Mata bebas beroperasi dan mengalirkan bola. Apalagi Gerrard dan Lucas di babak pertama tidak bermain dengan performa terbaiknya. Pada menit 15-45 kombinasi keduanya hanya menghasilkan 2 tekel dan 2 intersepsi, dan membiarkan lini tengah Chelsea untuk menguasai permainan. (Lihat grafik passing Juan Mata di Menit 30-45 di bawah ini:)




Memanfaatkan Kelemahan Liverpool

Dalam dua golnya, Chelsea menunjukkan bagaimana rapuhnya lini pertahanan Liverpool, dengan sistem man-marking-nya, terutama saat menghadapi bola-bola mati. Contohnya adalah pergerakan Oscar pada gol pertama. Oscar yang semula berdiri dekat Daniel Agger bergerak menjauhi muka gawang, dan pergerakan ini terlambat untuk dideteksi oleh Jamie Carragher. Akibatnya salah satu pemain terpendek dalam tim Chelsea ini pun bebas menceploskan gol keduanya di Liga Inggris musim ini melalui sundulan.

Selain mencetak gol, peran Oscar dalam pertandingan ini juga sangat baik dalam bertahan dan meredam serangan Liverpool. Terhitung 6 tekel, 5 intersepsi, dan 1 clearance ia lakukan dalam pertandingan semalam, menjadikannya pemain Chelsea dengan defensive action terbaik.

Faktor Sturridge

Di pertengahan babak, Rodgers memasukkan Sturridge sebagai pengganti Coutinho yang memang bermain kurang efektif. Dan terbukti pergantian ini mampu mengubah permainan Liverpool. Dengan kekuatan dan kecepatannya, Sturridge mampu mengimbangi pergerakan Suarez dan juga mendistribusikan bola dengan baik.

Terhitung empat kali ia terlibat dalam proses penyerangan yang mengancam gawang Petr Cech. Pertama adalah saat ia melewati Obi Mikel dan memberikan umpan kepada Steven Gerrard. Kedua adalah saat ia mampu memanfaatkan celah antara Luiz dan Ivanovic, menerima umpan Suarez dan mencetak gol. Ketiga adalah saat back flick-nya diteruskan oleh Henderson pada Jonjo Shelvey yang berdiri bebas tanpa kawalan di muka kiri gawang. Sementara yang keempat adalah saat ia mengirimkan umpan silang yang dikonversi jadi gol oleh Suarez di menit ke-96.

Satu hal yang bisa dicatat dari pergerakan Sturridge adalah, sebagaimana pola serangan Liverpool di babak pertama, ia lebih sering beroperasi di sayap kanan. Bahkan, keterlibatannya dalam empat peluang Liverpool pun diawali dari pergerakan dari sebelah kanan. Kehadiran Sturridge di sisi lapangan ini menyebabkan Suarez bisa beroperasi lebih bebas di area sepertiga lapangan akhir.

Substitusi kedua yang dilakukan Rodgers pun berhasil menambah daya gedor Liverpool. Dengan adanya Jonjo Shelvey, maka praktis Liverpool bermain dengan empat pemain tengah dan mengorbankan sisi kiri lapangan. Namun, keempat pemain ini berhasil merebut penguasaan bola dari Ramires-Obi Mikel-Mata sehingga aliran bola ke area pertahanan Chelsea semakin deras mengalir.



Selain itu, dengan memasukkan Jonjo Shelvey, Liverpool memiliki tiga pemain tengah di lapangan yang rutin untuk menusuk masuk ke kotak penalti dan melakukan attempts (Gerrard, Shelvey, Henderson) dan memberikan tekanan pada bek lawan. Bahkan, dari 8 peluang Liverpool yang tercipta di dalam kotak penalti Chelsea di babak kedua, 5 di antaranya dilakukan oleh pemain tengah.

Hal inilah yang tidak terlihat di babak pertama. Di 45 menit pertama, beberapa kali umpan silang Glen Johnson hanya menemui ruang kosong, atau langsung dihalau oleh bek-bek Chelsea. Saat itu Suarez bermain lebih dalam dan jarang ada pemain tengah Liverpool yang bergerak masuk ke kotak penalti.

Kesimpulan

Memulai pertandingan dengan baik, Liverpool malah menyerahkan kendali permainan pada Chelsea karena tak mampu menguasai ball-possession di lini tengah. Namun masuknya Daniel Sturridge dan Jonjo Shelvey mampu mengubah permainan dan menambah daya gedor Liverpool.

Di pertandingan ini kedua tim sama-sama memanfaatkan kelemahan lawan. Liverpool melakukannya dengan lebih sering menyerang lewat kanan, yaitu melalui pos yang ditempati oleh Bertrand. Terbukti dua gol yang tercipta pun berawal dari pergerakan pemain di sayap kanan (Carragher-Downing di gol pertama, dan Sturridge di gol kedua). Sementara Chelsea berhasil memanfaatkan kelemahan Liverpool dalam mengantisipasi bola-bola mati, yaitu dengan mencetak gol dari tendangan penjuru dan titik penalti (berawal dari tendangan penjuru juga).



===

* Akun twitter penulis: @vetriciawizach dari @panditfootball
* Sumber grafik: www.squawka.com



(krs/a2s)


Redaksi: info[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
email: sales[at]detik.com

Quotes

  • "Aim for the sky and you’ll reach the ceiling. Aim for the ceiling and you’ll stay on the floor." 

    Bill Shankly

  • “I’ve never played for a draw in my life.”

    Sir Alex Ferguson