About The Game
Kamis, 24 Juli 2014

Kehendak Guratan Sejarah Roman Abramovich

Yusuf Arifin - detikSport
Jumat, 31/05/2013 12:48 WIB
Halaman 1 dari 3
thumbnail Getty Images
Chelsea di bawah kepemilikan Roman Abramovich adalah sebuah anomali. Sebuah kisah akan segala sesuatu yang serba berlebihan. Kesadaran akan sebuah agenda yang segera tetapi keuntungannya mungkin baru akan terasakan puluhan tahun kedepan.

Dari awal, cerita keterlibatan Abramovich dengan Chelsea saja sudah seperti dongeng. Cerita resmi yang beredar adalah bahwa ketika ia tertarik untuk membeli klub bola di Inggris, ia meminta sebuah bank investasi UBS Warburg untuk membuat daftar klub potensial layak beli dan bisa berkembang menjadi kerajaan bisnis.

Teratas di daftar tercatat nama Manchester United, tapi konon terlalu mahal dan potensi resistensi oleh penggemarnya membuat klub ini menjadi tak menarik dari banyak segi.

Singkat cerita, pilihan akhirnya jatuh ke Tottenham Hotspur atau Chelsea. Dari dua klub London ini pilihan jatuh ke Chelsea karena pemilik klub lebih gampang didekati dan bersedia berunding. Berbeda dengan Tottenham, Chelsea di bawah kepemilikan Ken Bates kala itu memang sedang dirundung utang yang tidak sedikit dan sedang mencari pembeli.

Namun, cerita lain (tidak resmi) yang beredar tidaklah sedingin kalkulasi bisnis itu. Konon Abramovich sebenarnya tak menjadikan daftar yang dibuat UBS Warburg sebagai satu-satunya pegangan. Atau bahkan daftar dari UBS Warburg itu belum ada sama sekali ketika ia berpikir untuk membeli sebuah klub sepakbola. Ia suatu saat hendak pergi melihat-lihat sebuah klub di Inggris Utara, tidak disebut klub yang mana, karena tertarik untuk membelinya.

Ketika helikopter yang membawanya dari London mengudara lewat di atas Stamford Bridge, dan dijelaskan bahwa itu stadion Chelsea, ia membatalkan penerbangan dan hatinya tiba-tiba tertetapkan untuk membeli klub London Barat itu. Entah ia jatuh cinta, atau otak bisnisnya melihat sesuatu, atau dua-duanya pada saat bersamaan.



Mana cerita yang benar tidaklah terlalu penting. Yang jelas, pada tanggal 2 Juli 2003 Roman Abramovich resmi menjadi pemilik tunggal Chelsea. Dan torehan sejarah baru Chelsea pun dimulai.

Tak lebih sebulan setelah pembelian itu, Abramovich yang sebelumnya sama sekali tidak dikenal publik Inggris, membuat langkah yang menggetarkan bukan hanya publik sepakbola Inggris tetapi juga Eropa. Ia mengizinkan pembelanjaan pemain hingga lebih 100 juta poundsterling sekali jalan, terbesar dalam sejarah persepakbolaan Eropa. Belum pernah ada klub "segila" Chelsea dalam hal pembelanjaan pemain. Itu hanyalah awal. Pembelanjaan itu menandai sebuah zaman baru dalam hal kepemilikan dan pengelolaan klub di Eropa.

Sebelum Abramovich dengan Chelseanya, sebenarnya sudah ada orang kaya yang bertindak serupa. Bernard Tapie dengan Olympic Marseille, Silvio Berlusconi dengan AC Milan atau keluarga Agnelli dengan Juventus. Gaya yang tak jauh berbeda dilakukan oleh Real Madrid tetapi dengan dukungan pemerintah Madrid (atau Spanyol), maupun Barcelona dengan dukungan anggota klub (rakyat Catalunya).
Halaman 1 2 3
(mfi/a2s)
 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Redaksi: info[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
email: sales[at]detik.com

Quotes

  • "We just stuck to our path and at the end we're standing here as world champions. It's an unbelievable feeling. The team stayed calm and patient, we knew that we had something left at the end." 

    Phillipp Lahm, after World Cup final (2014)

  • “Even so, we’re leaving here disappointed not to win the trophy given the way the final played out. That leaves us feeling very annoyed and angry, but we now need to look to the future.”

    Lionel Messi, after World Cup final (2014)