Catatan Piala Eropa

Balada yang Berkumandang di Gdansk

Zen Rachmat Sugito - detikSport
Sabtu, 16/06/2012 22:10 WIB
FOTO:Getty Images/Alex Grimm
Jakarta - "The Fields of Athenry" yang dikumandangkan suporter Republik Irlandia di akhir pertandingan Spanyol vs Republik Irlandia telah mengembalikan "fitrah" sepakbola sebagai perayaan sebuah ritus rakyat.

Yang jadi pokok dalam setiap ritus adalah bagaimana anomali (bencana, pageblug) bisa dikendalikan, diatasi, sekaligus dilampaui. Itu sebabnya setiap ritus selalu berarti gerak kembali ke dalam, mengingat dan mengenang apa yang dulu pernah saling mengikat dan merekatkan, lantas ingatan dan kenangan itu dirayakan bersama-sama untuk mengeratkan apa yang mungkin sempat longgar.

Di Gdansk Stadium, puncak anomali dan bencana bagi para suporter Republik Irlandia mencapai puncaknya. Dan mereka menyelesaikannya dengan menjadikan sepakbola sebagai sebuah "ritus pemulihan".

Setelah kualifikasi yang sukses, hanya menelan 1 kali kekalahan (termasuk sukses mengalahkan Italia di salah satu laga uji coba), suporter Republik Irlandia punya harapan yang tinggi pada skuad asuhan Trapattoni. Ribuan suporter Republik Irlandia melintasi Eropa menuju Ukraina, melupakan sejenak krisis ekonomi yang sudah melanda mereka sejak 2010 lalu. Tapi harapan itu terbanting dengan cara yang menyakitkan. Di laga pertama mereka kalah 1-3 dari Kroasia. Di laga kedua mereka kalah 4-0 dari Spanyol.

Lima sampai 6 menit jelang pertandingan berakhir, mereka bukannya meninggalkan stadion dengan muka kecewa atau marah, tapi justru mendendangkan balada "The Fields of Athenry" dalam koor panjang yang menggetarkan.

Bagi bangsa lain, mungkin hanya kemenangan yang bisa sejenak menyatukan kembali emosi kesatuan sebuah bangsa. Seperti saat Prancis memenangkan Piala Dunia 1998. Saat itu, bangsa Prancis dipaksa menyadari bahwa para imigran (seperti Zidane, Djorkaeff, Thuram, dll) adalah bagian dari diri mereka sendiri. Itulah saat di mana politikus sayap kanan Le Pen mendadak kehilangan popularitas, karena dialah yang selama ini sangat anti para imigran.

Tapi Republik Irlandia memang berbeda. Karena tidak pernah merasakan kemenangan di sebuah kejuaraan, maka bahkan sebuah kekalahan tetap bisa membuat mereka bangga menjadi bangsa Irlandia.

Apa yang terjadi di Gdansk Stadium sesungguhnya tidak terlalu unik bagi bangsa Republik Irlandia. Hal yang sama kurang lebih juga terlihat saat mereka pertama kali lolos ke Piala Dunia 1990 di Italia. Di bawah asuhan Jack Charlton, Republik Irlandia berhasil menembus babak 16 besar sebelum tersingkir oleh tuan rumah Italia dengan skor 1-0 karena gol bunuh diri Roy Houghton.

Tapi itu prestasi yang sudah sangat luar biasa. Di dalam bus yang mengangkut pemain, Jack chartlon memutarkan lagu berjudul "Green Fields of France", lagu yang mengisahkan serdadu bernama William Mc Bride yang tewas di medan laga. Para pemain itu bernyanyi dengan penuh semangat walau mereka kalah 0-1 dari Italia.

"Kami tidak pernah memiliki skuad yang hebat, kami tidak pernah memiliki banyak pilihan. Hal ini akan memaksa anda untuk melakukan dengan apa yang anda punya. Kita tidak perlu menjadikan ini masalah. Yang harus kita kerjakan adalah memastikan mereka selalu siap di hari mereka dibutuhkan," begitu Jack Chartlon berkata.

Tak masalah jika para pemain itu berpesta minum bir sekali pun, yang penting di hari pertandingan mereka siap bertarung. Jack Charlton sampai harus berkata: "Drink boys, drink all the night you like."

Perlu diketahui, kampanye terpenting Charlton saat meloloskan Republik Irlandia untuk pertama kalinya ke Piala Dunia 1990 adalah saat mengalahkan Spanyol 1-0 di babak kualifikasi. Laga yang digelar pada 26 April 1989 itu dikenang sebagai salah satu laga terhebat tim Republik Irlandia. Saat itu mereka hanya meraih 2 poin dari 3 laga terakhirnya. Laga lawan Spanyol akan memastikan apakah peluang untuk tampil di Piala Dunia 1990 masih terjaga atau tidak. Dan Jack Charlton bisa membuat anak asuhnya bertarung tanpa henti sepanjang pertandingan. Striker Spanyol, Emilio Butregeano, mengeluhkan laga itu bukan pertandingan sepakbola karena berlangsung terlalu sengit dan keras.

Pat Bonner, kiper utama Irlandia sat itu, mengenang laga itu sebagai "salah satu malam terhebat di Dublin".

Tapi di Gdansk Stadium tidak ada kemenangan. Jika perayaan di seputar keberhasilan Piala Dunia 1990 menyempurnakan kebangkitan ekonomi Republik Irlandia sebagai salah satu pengekspor pertanian di Eropa, kekalahan dan kekecewaan di Gdansk Stadium ini malah melengkapi resesi ekonomi yang sejak 2010 melanda Irlandia.

Mereka bisa saja melampiaskan semua itu dengan cara seperti suporter Rusia membuat kerusuhan di luar stadion. Mereka memilih untuk tidak meledakkan emosi pada subjek di luar diri mereka sendiri. Dengan merayakan kekalahan lewat koor panjang balada "The Fields of Athenry", maka suporter Republik Irlandia memilih penyelesaian yang introvert: bergerak ke dalam, ke diri mereka sendiri, dengan merayakan kenangan pada sosok Michael yang di abad-19 dipenjara karena dituduh mencuri jagung milik seorang pejabat Inggris, "Sang Penjajah" itu.

Dengan itulah bencana kekalahan beruntun nan memalukan itu bukan hanya bisa ditanggungkan, tapi justru dilampaui. Bahkan bukan hanya ditanggungkan dan dilampaui, tapi juga sejenak bisa merekatkan kembali emosi kolektif sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa Republik Irlandia. Beberapa komentar yang saya baca di video-video yang menayangkan potongan peristiwa di Gdansk Stadium berasal dari orang-orang Irlandia yang merantau jauh dari tanah airnya dan tidak hadir di Gdansk Stadium. Beberapa dari mereka berkata: "Inilah yang membuat saya bangga menjadi orang Irlandia".

Roy Keane, mantan kapten tim nasional Irlandia yang mewarisi kebengalan khas Irlandia, mengkritik hiruk-pikuk di sekitar mewabahnya pembicaraan mengenai koor "The Fields of Athenry". "Kami ada di sana bukan untuk mendengarkan nyanyian. ...Para pemain, bahkan suporter, harus mengubah mentalitasnya."

Itu kritik seorang Irlandia bagi para pemain Irlandia dan suporternya. Biarlah itu menjadi urusan mereka.

Bagi saya, seorang penonton yang netral, ritus rakyat Republik Irlandia yang mengambil bentuk koor panjang balada "The Fields of Athenry" adalah oase bagi kemeriahan "pertunjukan" EURO 2012 yang dipentaskan dengan pendekatan layaknya pementasan sirkus di gedung pertunjukan yang steril.

Tarian dipentaskan di setiap pertandingan. Penonton diajak menghitung mundur detik-detik kick-off sebuah pertandingan. Lima... empat... tiga... dua... satu.... Sebuah cara unik yang bagi selera saya pribadi membuat momen kick-off tak ubahnya sebuah start lomba gerak jalan. Padahal, di balik segala kerapihan yang mendetail itu, berulang kali terjadi kerusuhan suporter sampai aksi-aksi rasisme yang membuat UEFA seperti kehabisan akal.

Koor itu tidak menyembunyikan watak tribal yang mengeram di jantung permainan sepakbola, koor itu justru merayakan watak tribal itu dengan cara yang sublim. Alih-alih menyalakan flare atau smoke-bomb seperti yang dilakukan suporter Kroasia atau menyerang orang lain seperti suporter Rusia, suporter Irlandia tak henti-hentinya bernyanyi untuk menegaskan bahwa sepakbola adalah upacara yang merayakan kebersamaan komunal dan kekalahan adalah momen untuk saling menguatkan satu sama lain. Hanya ada kami dan kesebelasan kami. Persetan dengan yang lain. Begitulah kira-kira.

Selebihnya, mereka mungkin akan mengikuti anjuran Jack Charlton: Drink boys, drink all the night you like!


==

* Penulis adalah penulis. @zenrs


( din / krs )



Baca Juga
Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    page:
    Redaksi: redaksi[at]staff.detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi Elin Ultantina di iklan[at]detikSport.com,
    Telepon 021-7941177 (ext.524).
    Berita Terbaru +Indeks
    Siaran Langsung
    Channel Hari Tanggal Pertandingan
    SCTV Jumat, 01:50 WIB 05 April Chelsea vs Rubin Kazan
    +Selengkapnya
    Klasemen
    Grup A
    No Team M M S K SG Nilai
    1 Republik Ceko 3 2 0 0 4-5 6
    2 Yunani 3 1 1 0 3-3 4
    3 Rusia 3 1 1 1 5-3 4
    4 Polandia 3 0 2 1 2-3 2
    +Selengkapnya