Federer: Tekanan Ada di Murray
Minggu, 31/01/2010 03:03 WIB

(Reuters)
Melbourne - Andy Murray tinggal selangkah lagi guna menorehkan sejarah sekaligus mengakhiri puasa Britania Raya akan gelar Grand Slam. Kondisi itu justru membuat petenis Skotlandia itu dalam tekanan.
Murray akan menghadapi Federer di laga puncak Australia Terbuka pada hari ini.
Di pundak Murray, bertumpu harapan besar dari Britania Raya. Petenis asal Skotlandia itu diharapkan berhasil mengakhiri puasa gelar Grand Slam selama lebih dari tujuh dasawarsa.
Ada pun terakhir kali gelar Grand Slam dimenangi petenis asal Britania Raya adalah ketika Fred Perry menjadi juara di Wimbledon tahun 1936.
Federer menilai hal tersebut membuat beban Murray menjadi lebih berat. "Saya pikir Murray selalu diingatkan soal itu. Tentu ini membuat pemain lain sedikit tersenyum, karena dia harus mendapatkan pertanyaan itu lagi dan lagi," tukas petenis asal Swiss itu seperti dilansir dari BBC.
"Pertanyaannya adalah seberapa tinggi tingkat ekspektasi itu ada di pikirannya. Misal saja bila dia kalah di final Grand Slam, efek apa yang akan terjadi kepada Andy?" lanjut petenis berjuluk Fedex ini.
Menurut Federer, ada satu cara agar Murray tak dihantui pertanyaan dan harapan akan berakhirnya puasa gelar Grand Slam yang dialami petenis Britania.
"Dia bisa menyingkirkan semuanya dengan mengalahkan saya. Dengan begitu di hari Senin dia tidak perlu menjawab pertanyaan apa pun lagi," tukas petenis asal Swiss itu.
Federer pun menilai bahwa Murray memiliki potensi yang bagus. "Ia berhasil meng-handle segalanya dengan baik. Dia sangat sukses, pernah juara di berbagai turnamen Master 1000 dan ia sudah berulang kali bertarung di Grand Slam. Jadi kita harus mengatakan bahwa akan ada satu hari baik yang akan datang kepadanya," tuntas Federer.
( nar / krs )
Dapatkan info harian khusus olahraga Raket.
Ketik REG DS RAKET kirim ke 3845 (khusus pelanggan Telkomsel)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Murray akan menghadapi Federer di laga puncak Australia Terbuka pada hari ini.
Di pundak Murray, bertumpu harapan besar dari Britania Raya. Petenis asal Skotlandia itu diharapkan berhasil mengakhiri puasa gelar Grand Slam selama lebih dari tujuh dasawarsa.
Ada pun terakhir kali gelar Grand Slam dimenangi petenis asal Britania Raya adalah ketika Fred Perry menjadi juara di Wimbledon tahun 1936.
Federer menilai hal tersebut membuat beban Murray menjadi lebih berat. "Saya pikir Murray selalu diingatkan soal itu. Tentu ini membuat pemain lain sedikit tersenyum, karena dia harus mendapatkan pertanyaan itu lagi dan lagi," tukas petenis asal Swiss itu seperti dilansir dari BBC.
"Pertanyaannya adalah seberapa tinggi tingkat ekspektasi itu ada di pikirannya. Misal saja bila dia kalah di final Grand Slam, efek apa yang akan terjadi kepada Andy?" lanjut petenis berjuluk Fedex ini.
Menurut Federer, ada satu cara agar Murray tak dihantui pertanyaan dan harapan akan berakhirnya puasa gelar Grand Slam yang dialami petenis Britania.
"Dia bisa menyingkirkan semuanya dengan mengalahkan saya. Dengan begitu di hari Senin dia tidak perlu menjawab pertanyaan apa pun lagi," tukas petenis asal Swiss itu.
Federer pun menilai bahwa Murray memiliki potensi yang bagus. "Ia berhasil meng-handle segalanya dengan baik. Dia sangat sukses, pernah juara di berbagai turnamen Master 1000 dan ia sudah berulang kali bertarung di Grand Slam. Jadi kita harus mengatakan bahwa akan ada satu hari baik yang akan datang kepadanya," tuntas Federer.
( nar / krs )
Dapatkan info harian khusus olahraga Raket.
Ketik REG DS RAKET kirim ke 3845 (khusus pelanggan Telkomsel)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
-
Kamis, 24/05/2012 22:27 WIB
Taufik: Tim Thomas Tak Kompak
-
Kamis, 24/05/2012 21:32 WIB
Buruk, Mental Pemain Indonesia di Saat Kritis
-
Kamis, 24/05/2012 21:04 WIB
China Jumpa Korsel di Final Piala Uber
-
Kamis, 24/05/2012 20:09 WIB
Pulang Lebih Cepat, Tim Thomas-Uber Indonesia Terkatung-katung
-
Kamis, 24/05/2012 16:25 WIB
PBSI Diminta Lebih Selektif Pilih Pemain
- Jumat, 25/05/2012 03:54 WIB
Jelang GP2 Monako
Rio Ingin Perbaiki Posisi
- Jumat, 25/05/2012 02:23 WIB
Jelang GP Monako
Webber: Red Bull Sulit Raih Pole
- Kamis, 24/05/2012 01:07 WIB
Rudi Hartono: Pemain Tak Fokus karena Gaji & Bonus Terlalu Tinggi
- Kamis, 24/05/2012 22:16 WIB
Taufik: Tim Thomas Tak Kompak
- Kamis, 24/05/2012 20:09 WIB
Pulang Lebih Cepat, Tim Thomas-Uber Indonesia Terkatung-katung
- Kamis, 24/05/2012 03:03 WIB
Gagal di Thomas-Uber, Bagaimana dengan Tradisi Emas Olimpiade?
- Kamis, 24/05/2012 12:35 WIB
Markis Kido Akui Sudah Menurun
- Kamis, 24/05/2012 07:34 WIB
Jelang GP Monako
Rekor Baru Tercipta Jika Kembali Ada Pemenang Berbeda
- Kamis, 24/05/2012 12:10 WIB
Dinilai Terlalu Berorientasi Piala, PBSI Lupakan Pembinaan
- Kamis, 24/05/2012 21:04 WIB
China Jumpa Korsel di Final Piala Uber
- Minggu, 20/05/2012 04:34 WIB
Chelsea Juara Liga Champions!
741 Komentar - Rabu, 23/05/2012 07:55 WIB
'Rossi Masih Salah Satu yang Terbaik di MotoGP'
523 Komentar - Minggu, 20/05/2012 19:55 WIB
Lorenzo Juara, Rossi Kalahkan Stoner
492 Komentar - Senin, 21/05/2012 07:05 WIB
Stoner Terkendala Ban
471 Komentar - Minggu, 20/05/2012 20:12 WIB
Dominasi Lorenzo dan 'Kembalinya' The Doctor
308 Komentar - Minggu, 20/05/2012 00:59 WIB
Berimbang Lawan Kurdistan Irak, Indonesia ke Semifinal
301 Komentar - Rabu, 23/05/2012 01:33 WIB
Dikalahkan Palestina, Indonesia Kandas di Semifinal
257 Komentar - Rabu, 23/05/2012 07:52 WIB
Manajer Timnas: Main Bagus Tak Selalu Juara
255 Komentar - Selasa, 22/05/2012 16:03 WIB
Cruyff Kritik Permainan Bertahan Chelsea di Final
238 Komentar - Minggu, 20/05/2012 22:59 WIB
Hujan Bikin Rossi Optimistis Sejak Awal
220 Komentar








Sending your message.jpg)







.gif)

