Sisi kelam sepak bola di Mesir

BBCIndonesia.com - detiksport
Sabtu, 04/02/2012 00:09 WIB

Farayi Mungazi

Wartawan sepak bola Afrika BBC

Sepak bola dunia terkejut dan terpukul mendengar kerusuhan pertandingan bola di Mesir antara al-Masry dan al-Ahly menewaskan 74 orang dan lebih dari 150 orang lainnya luka-luka.

Namun bila dirunut ke belakang, kata kekerasan memang tidak jauh-jauh dari sepak bola Mesir.

Saya mengalaminya sendiri pada 2003 ketika meliput pertandingan Liga Champions Afrika, ajang turnamen antarklub paling bergengsi di Afrika.

Begitu klub Nigeria, Enyimba, mencetak gol ke gawang klub Mesir, Ismaili, para pendukung Ismaili menghujani lapangan dengan aneka barang yang ada di dekat mereka, untuk menunjukkan kekecewaan dan kemarahan.

Tidak banyak pendukung Enyimba yang hadir di stadion, makanya para pendukung Ismaili menganggap siapapun yang tidak mendukung Ismaili sebagai musuh, termasuk polisi.

Karena saya berkulit hitam, mereka menganggap saya wartawan Nigeria.

Seorang pendukung Ismaili mengarahkan pandangan ke saya dan mengeluarkan kata-kata kotor.

Beringas

Makian yang ia keluarkan seperti minyak yang ditumpahkan ke api. Orang-orang di sekitarnya seakan memiliki izin untuk mengintimidasi saya.

Dalam situasi yang makin panas dan genting mereka merebut satelit kecil milik BBC yang terletak di dekat kursi VIP dan melemparkannya ke arah polisi.

Saya tidak tahu persis apa yang terjadi setelah pelemparan satelit ini karena tiba-tiba seorang anggota polisi antihuru-hara membawa dan menyelamatkan saya ke ruang ganti pemain.

kekerasan al-masry - al-ahly

Kerusuhan membuat seluruh pertandingan bola di Mesir dihentikan pada 1 Februari.

Saya berada di ruang ganti selama lima jam dan bisa merasakan panasnya suasana yang menyebar dari tribun ke jalan-jalan di sekitar stadion.

Ketika suasana mereda, saya keluar dari ruang ganti dan menyaksikan lapangan yang seakan-akan seperti habis terkena bom sementara mobil-mobil yang dirusak massa teronggok begitu saja.

Energi positif

Kekerasan dan kerusuhan seperti ini tidak hanya terjadi di markas Ismaili.

Para pendukung klub Kairo seperti al-Ahly, al-Masry, dan Zamalek juga sering bentrok dan menyulut kerusuhan.

Pertandingan di antara mereka biasanya diwarnai kekerasan dan polisi mengantisipasinya dengan menyerahkan personil keamanan secara besar-besaran.

Bagi para pendukung, al-Ahly dan al-Masry, tidak sekedar klub sepakbola. Tidak mengherankan bila kedua pendukung ini biasa saling ejek bahkan saling membenci.

Sepak bola, bagi rakyat Mesir, bagaikan pancaran energi positif di tengah masyarakat yang miskin dan ditekan secara politis oleh rezim yang berkuasa, setidaknya hingga revolusi tahun lalu.

Itulah sebabnya pendukung sepak bola Mesir adalah salah satu yang paling hebat di dunia. Mereka mati-matian mendukung klub atau tim nasional.

Sayangnya, bagi Mesir, sepak bola juga memiliki sisi-sisi kelam, seperti yang kita saksikan dalam pertandingan antara al-Masry dan al-Ahly beberapa hari lalu.

( bbc / bbc )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!


Share:
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru