Jumat, 10/08/2012 19:21 WIB
Tak Berjodoh dengan Ducati, Rossi Kembali ke Pelukan Yamaha
Getty Images/Mirco Lazzari
Roma - Valentino Rossi gagal memenuhi ekspektasi besar yang dibebankan kepadanya selama membela Ducati. Sebuah catatan tak mengesankan yang "menodai" prestasi gemilang yang dia dapat di masa sebelumnya.
Saat kepindahan Rossi ke Ducati diumumkan pada Agustus 2010, banyak pihak yang memprediksi Rossi akan kembali ke tangga juara dunia. Power motor Ducati yang besar dan skill membalap Rossi yang kelas wahid dianggap sebagai kombinasi yang sempurna. Belum lagi soal kesamaan asal negara Rossi dan Ducati, Italia, yang juga ikut mendorong kepindahannya ini.
Publik masih mencoba maklum saat Rossi mengalami kesulitan di masa-masa awal bersama Ducati. Selain karena masalah adaptasi dengan motor baru, The Doctor saat itu juga belum dalam kondisi prima pasca operasi.
Namun, setelah ditunggu sekian lama, Rossi tak kunjung berprestasi. Dia cuma sekali naik podium ketiga di musim 2011, yakni di Le Mans. Inilah kali pertama dalam kariernya Rossi tidak sekali pun menang selama semusim.
Akhirnya, di musim itu dia cuma menempati posisi ketujuh di klasemen akhir pebalap dengan 139 poin, terpaut 211 poin dari Casey Stoner yang jadi kampiun. Sebagai informasi, Rossi tak pernah menempati posisi seburuk itu di klasemen akhir sejak tahun 1997. Dalam kariernya di balap motor grand prix, posisi terjelek yang dia tempati adalah posisi kesembilan, itu pun dia raih di musim debut kelas 125cc pada tahun 1996. Selebihnya, dia selalu masuk tiga besar hingga tahun 2010.
Catatan buruk Rossi ternyata masih berlanjut di musim keduanya. Setelah sepuluh seri berlalu, rider 33 tahun ini baru sekali naik podium, yakni saat menempati posisi kedua di Le Mans. Sisanya, dia lebih sering finis di luar lima besar.
Rossi saat ini menduduki posisi kedelapan di klasemen pebalap dengan raihan 82 poin, tertinggal 123 poin dari Jorge Lorenzo yang ada di puncak. Dia bahkan ada di bawah rekan setimnya, Nicky Hayden, yang punya dua poin lebih banyak.
Apa yang membuat performa Rossi begitu merosot setelah pindah ke Ducati? Banyak pendapat soal ini, mulai dari lawan yang makin kompetitif, usia yang tak muda lagi, sampai perbedaan karakter motor. Namun, yang selama ini paling banyak dikeluhkan oleh Rossi adalah motor Desmosedici yang tak kunjung sesuai dengan keinginannya.
Rossi memang dikenal sebagai pebalap yang bukan cuma menunggangi motor, namun juga berperan dalam pengembangannya. Oleh karena itu, dia akan "rewel" dan banyak memberi masukan ke kru teknisnya.
Sebagai contoh adalah di tengah musim 2011. Karena tak puas dengan performa Desmosedici GP11, Rossi akhirnya diberi motor yang lebih gres dalam bentuk Desmosedici GP11.1. Belum juga mendapatkan hasil bagus, Rossi memakai sasis baru yang terbuat dari aluminium. Hasilnya? Tetap tak menggembirakan.
Kenangan-kenangan tak menyenangkan di atas akan segera menjadi masa lalu Rossi. Kini, juara dunia kelas MotoGP ini harus bersiap mengucapkan selamat tinggal kepada Ducati. Dia sudah dipastikan akan kembali lagi ke Yamaha mulai musim depan.
Yamaha memang tempat dimana Rossi mencapai puncak kejayaan. Pada periode 2004-2010, pebalap yang identik dengan nomor motor 46 ini empat kali jadi juara dunia, yakni di tahun 2004, 2005, 2008, dan 2009. Dari 117 balapan bersama tim Garpu Tala, dia naik podium 85 kali dan menang 46 kali. Sebuah catatan yang fantastis bukan?
(mfi/rin)
Saat kepindahan Rossi ke Ducati diumumkan pada Agustus 2010, banyak pihak yang memprediksi Rossi akan kembali ke tangga juara dunia. Power motor Ducati yang besar dan skill membalap Rossi yang kelas wahid dianggap sebagai kombinasi yang sempurna. Belum lagi soal kesamaan asal negara Rossi dan Ducati, Italia, yang juga ikut mendorong kepindahannya ini.
Publik masih mencoba maklum saat Rossi mengalami kesulitan di masa-masa awal bersama Ducati. Selain karena masalah adaptasi dengan motor baru, The Doctor saat itu juga belum dalam kondisi prima pasca operasi.
Namun, setelah ditunggu sekian lama, Rossi tak kunjung berprestasi. Dia cuma sekali naik podium ketiga di musim 2011, yakni di Le Mans. Inilah kali pertama dalam kariernya Rossi tidak sekali pun menang selama semusim.
Akhirnya, di musim itu dia cuma menempati posisi ketujuh di klasemen akhir pebalap dengan 139 poin, terpaut 211 poin dari Casey Stoner yang jadi kampiun. Sebagai informasi, Rossi tak pernah menempati posisi seburuk itu di klasemen akhir sejak tahun 1997. Dalam kariernya di balap motor grand prix, posisi terjelek yang dia tempati adalah posisi kesembilan, itu pun dia raih di musim debut kelas 125cc pada tahun 1996. Selebihnya, dia selalu masuk tiga besar hingga tahun 2010.
Catatan buruk Rossi ternyata masih berlanjut di musim keduanya. Setelah sepuluh seri berlalu, rider 33 tahun ini baru sekali naik podium, yakni saat menempati posisi kedua di Le Mans. Sisanya, dia lebih sering finis di luar lima besar.
Rossi saat ini menduduki posisi kedelapan di klasemen pebalap dengan raihan 82 poin, tertinggal 123 poin dari Jorge Lorenzo yang ada di puncak. Dia bahkan ada di bawah rekan setimnya, Nicky Hayden, yang punya dua poin lebih banyak.
Apa yang membuat performa Rossi begitu merosot setelah pindah ke Ducati? Banyak pendapat soal ini, mulai dari lawan yang makin kompetitif, usia yang tak muda lagi, sampai perbedaan karakter motor. Namun, yang selama ini paling banyak dikeluhkan oleh Rossi adalah motor Desmosedici yang tak kunjung sesuai dengan keinginannya.
Rossi memang dikenal sebagai pebalap yang bukan cuma menunggangi motor, namun juga berperan dalam pengembangannya. Oleh karena itu, dia akan "rewel" dan banyak memberi masukan ke kru teknisnya.
Sebagai contoh adalah di tengah musim 2011. Karena tak puas dengan performa Desmosedici GP11, Rossi akhirnya diberi motor yang lebih gres dalam bentuk Desmosedici GP11.1. Belum juga mendapatkan hasil bagus, Rossi memakai sasis baru yang terbuat dari aluminium. Hasilnya? Tetap tak menggembirakan.
Kenangan-kenangan tak menyenangkan di atas akan segera menjadi masa lalu Rossi. Kini, juara dunia kelas MotoGP ini harus bersiap mengucapkan selamat tinggal kepada Ducati. Dia sudah dipastikan akan kembali lagi ke Yamaha mulai musim depan.
Yamaha memang tempat dimana Rossi mencapai puncak kejayaan. Pada periode 2004-2010, pebalap yang identik dengan nomor motor 46 ini empat kali jadi juara dunia, yakni di tahun 2004, 2005, 2008, dan 2009. Dari 117 balapan bersama tim Garpu Tala, dia naik podium 85 kali dan menang 46 kali. Sebuah catatan yang fantastis bukan?
(mfi/rin)
"Jangan ketinggalan info Update MotoGP, Tekan *123*369*10*5# sekarang! (khusus pengguna XL)"
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Saran Carragher untuk Suarez
0 share this. -
Thriller Tujuh Gol, Italia Taklukkan Jepang 4-3
0 share this. -
'Kedatangan Cassano Akan Jadi Kado untuk Parma'
0 share this. -
Soal Zaha, Palace Pasrahkan Kepada MU
0 share this. -
Hadapi Tahiti, Spanyol Ingin Cetak Gol Sebanyak Mungkin
0 share this.
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
-
Kamis, 20/06/2013 03:55 WIB
Pedrosa: Motor 2014 Tak Akan Digunakan di Waktu Dekat
-
Kamis, 20/06/2013 00:57 WIB
Ujicoba MotoGP Aragon
Kalahkan Duo Honda, Lorenzo Tercepat di Aragon
-
Rabu, 19/06/2013 19:00 WIB
Dorna Siap Bahas Kans Indianapolis Tinggalkan MotoGP Lebih Dini
-
Rabu, 19/06/2013 08:35 WIB
Honda: RC213V 2014 Bisa Lakukan Debut Tahun Ini
-
Rabu, 19/06/2013 03:18 WIB
Di 2015, Suzuki Berharap Bisa Langsung Imbangi Yamaha dan Honda
- Kamis, 20/06/2013 04:32 WIB
Ujicoba Aragon Hilangkan Masalah Rem Rossi
- Kamis, 20/06/2013 03:55 WIB
Pedrosa: Motor 2014 Tak Akan Digunakan di Waktu Dekat
- Kamis, 20/06/2013 00:57 WIB
Ujicoba MotoGP Aragon
Kalahkan Duo Honda, Lorenzo Tercepat di Aragon
- Rabu, 19/06/2013 08:30 WIB
Honda: RC213V 2014 Bisa Lakukan Debut Tahun Ini
- Rabu, 19/06/2013 03:13 WIB
Di 2015, Suzuki Berharap Bisa Langsung Imbangi Yamaha dan Honda
- Rabu, 19/06/2013 01:22 WIB
Ujicoba MotoGP Aragon
Hujan Deras Hambat Ujicoba, Honda Luncurkan Motor 2014
- Rabu, 19/06/2013 16:26 WIB
Singapura Open Superseries
Ahsan/Hendra, Bella ke Babak Kedua
- Rabu, 19/06/2013 11:42 WIB
Kalahkan Spurs Lewat OT, Heat Paksakan Gim Ketujuh
- Rabu, 19/06/2013 13:02 WIB
Singapura Open Superseries
Lindaweni, Alvent/Kido dan Tontowi/Liliyana Lewati Ujian Pertama
- Rabu, 19/06/2013 16:18 WIB
Moyes membawa Manchester United lawan Swansea
- Minggu, 16/06/2013 19:59 WIB
Lorenzo Menang Lagi di Barcelona
284 Komentar - Minggu, 16/06/2013 06:49 WIB
Rossi: Penting untuk Start dengan Bagus & Jaga Ritme
257 Komentar - Sabtu, 15/06/2013 04:56 WIB
Pirlo Merasa Muda Lagi di Juventus
225 Komentar - Selasa, 18/06/2013 14:27 WIB
Rossi Cukup Puas dengan Uji Coba di Catalunya
182 Komentar - Minggu, 16/06/2013 13:22 WIB
Terima Kritik Fans, Moratti Janji Inter Akan Kompetitif Musim Depan
148 Komentar - Sabtu, 15/06/2013 20:19 WIB
Pole Milik Pedrosa
137 Komentar - Jumat, 14/06/2013 14:05 WIB
Dapat Kontrak Baru, Samuel Ingin Bawa Inter Bangkit Musim Depan
131 Komentar - Jumat, 14/06/2013 20:15 WIB
Rossi Ungguli Lorenzo di Sesi Kedua
131 Komentar - Senin, 17/06/2013 02:26 WIB
Nyaris Celaka Lagi, Rossi Kritik Bautista
130 Komentar - Jumat, 14/06/2013 08:56 WIB
Rossi: Saya Bisa Salip Lorenzo, Jika Dia Mau Menunggu
110 Komentar
MustRead
close
-
Senin, 17/06/2013 10:21 WIB WIB
Menangi Gim Kelima, Spurs Selangkah Lagi Juara
-
Senin, 17/06/2013 07:28 WIB WIB
Marquez Sudah Senang Bisa Bayangi Pedrosa dan Lorenzo





.gif)







