Ukuran Bukan Masalah Buat Park
Selasa, 29/12/2009 12:24 WIB
FOTO:Reuters
Jakarta - Bahkan untuk pesepakbola Asia, Park Ji Sung tergolong berbadan kecil. Namun karena size doesn't matter, Park bisa menjadi orang Asia pertama yang tampil di final Liga Champions dan di saat bersamaan terus menginspirasi Korea Selatan.
Lahir 25 Februari 1981 di ibukota Korea Selatan, Seoul, Park Ji-Sung justru dibesarkan di Suwon, sebuah kota satelit berjarak 30 km sebelah selatan Seoul. Saat masih di bangku sekolah menengah atas, ia pernah ditolak sejumlah klub profesional karena ukuran badannya yang kecil.
Park mencoba bermain di Myongji University setelah pelatih SMA-nya merekomendasikan sang pemain ke pelatih universitas. Pada tahun 2000, setelah satu musim dihabiskan di tim kampus, Kyoto Purple Sanga menawarkan kontrak kepada Park, peluang yang langsung disambut antusias oleh Park.
Park bergabung dengan klub Jepang yang baru saja terlempar ke J2. Semusim kemudian klub memenangi kejuaraan Divisi 2 dan promosi ke divisi utama.
Pada tahun 2002, pemain yang berposisi sebagai gelandang serang dan sayap ini memimpin timnya melaju ke final Piala Emperor untuk menantang Kashima Antlers. Dalam pertandingan itu, ia mencetak gol penyeimbang dan memberi assist bagi gol kemenangan Teruaki Kurobe. Kyoto Purple akhirnya memenangi partai final dengan skor 2-1 sehingga menjadi gelar Piala Emperor pertama dalam sejarah klub tersebut.
Setelah Piala Dunia, Guus Hiddink terpilih menjadi pelatih klub Belanda, PSV Eindhoven. Sebagai mentor dan mantan pelatih timnas Korsel, Hiddink mengajak Park dan rekan setimnya Lee Young-Pyo untuk bergabung ke PSV Eindhoven. Di saat Lee cepat beradaptasi dengan tim utama, Park sulit karena cedera.
Walau begitu, di akhir musim 2003-2004, Park mulai beradaptasi dengan Belanda, baik di dalam maupun di luar lapangan. Pada musim 2004-2005, kepindahan Arjen Robben dari PSV ke Chelsea membuka kesempatan bagi Park untuk lebih banyak main sejak awal. Bersama Johann Vogel, DaMarcus Beasley, Mark van Bommel dan Philip Cocu, Park membentuk lini tengah PSV dengan kecepatan dan umpannya.
Gol pertama Park di PSV dibikin saat semifinal Liga Champions melawan Milan. PSV menang 3-1 di kandang, tetapi kekalahan 2-0 di San Siro memupus harapan para pendukung PSV. Pada bulan penutup musim 2004-2005, Park memilih hijrah ke Manchester United. Dia menandatangani kontrak dengan klub Premier League itu dengan nilai empat juta euro.
Park menjadi orang Asia pertama yang mengenakan ban kapten MU. Itu terjadi ketika Ryan Giggs diganti lalu ia memasangkan ban kaptennya ke Park dalam laga Liga Champions 2005-2006 melawan Lille. Pada 29 April 2008, Manchester United melangkah ke final Liga Champions setelah melewati hadangan Barcelona. Dalam laga semifinal itu, Park terpilih sebagai man of the match.
Publik MU sangat terkejut ketika nama Park tidak disertakan dalam skuad menghadapi Chelsea di laga final yang berlangsung di Moskow itu. Banyak dari mereka percaya bahwa performa Park saat melawan Barcelona harusnya bisa memastikan sang pemain masuk di susunan pemain Sir Alex Ferguson di pertandingan final.
Park membuat penampilan ke-100 bersama MU dalam pertandingan tandang melawan Tottenham Hotspurs yang berkesudahan 0-0. Pada 7 Maret 2009, Park membuat gol pertama di ajang Piala FA saat MU membantai Fulham 4-0 di Craven Cottage.
Pada 5 Mei 2009, gol pertama Park di Liga Champions tercipta di leg kedua semifinal melawan Arsenal di Emirates. Kemenangan 3-1 di kandang Arsenal itu (agregat 4-1), memastikan MU dapat satu tempat di final secara beruntun. Park menjadi pemain Asia pertama yang main di final Liga Champions, meski MU gagal memenangkan laga.
Park memulai karir internasionalnya di usia 19 tahun sebagai gelandang bertahan. Ia pertama kali dipilih dalam skuad Korsel U-23 Olimpiade Sydney 2000 yang ketika itu dilatih Huh Jung-Moo. Saat Guus Hiddink menjadi pelatih kepala, posisi Park dipindahkan ke sayap. Sejak itu, Park menjadi pemain yang bisa di segala posisi: gelandang tengah, kanan dan kiri serta striker sayap.
Park mencetak satu gol yang penuh memori selama Piala Dunia 2002. Selama penyisihan grup, Korsel menang di partai pembuka melawan Polandia kemudian seri melawan AS. Agar lolos, mereka harus minimal seri melawan Portugal. Park akhirnya mencetak gol kemenangan di menit 70 dimana dia memenangi duel dengan Sergio Conceicao sebelum menendang voli pakai kaki kiri untuk menaklukkan kiper Vitor Baia. Gol ini menyingkirkan Portugal dan meloloskan Korsel untuk pertama kalinya ke babak knock-out.
Sukses Park di Piala Dunia berlanjut di Jerman 2006. Dia mencetak gol penyeimbang di pertandingan kedua Grup G melawan Perancis sekaligus terpilih sebagai man of the match. Dalam dua putaran final Piala Dunia, nomor kaus Park berubah dari 21 ke 7.
Pada 11 Oktober 2008, dia menjadi kapten timnas untuk pertama kalinya dalam pertandingan persahabatan versus Uzbekistan. Korsel menang 3-0.
( din / a2s )
Lahir 25 Februari 1981 di ibukota Korea Selatan, Seoul, Park Ji-Sung justru dibesarkan di Suwon, sebuah kota satelit berjarak 30 km sebelah selatan Seoul. Saat masih di bangku sekolah menengah atas, ia pernah ditolak sejumlah klub profesional karena ukuran badannya yang kecil.
Park mencoba bermain di Myongji University setelah pelatih SMA-nya merekomendasikan sang pemain ke pelatih universitas. Pada tahun 2000, setelah satu musim dihabiskan di tim kampus, Kyoto Purple Sanga menawarkan kontrak kepada Park, peluang yang langsung disambut antusias oleh Park.
Park bergabung dengan klub Jepang yang baru saja terlempar ke J2. Semusim kemudian klub memenangi kejuaraan Divisi 2 dan promosi ke divisi utama.
Pada tahun 2002, pemain yang berposisi sebagai gelandang serang dan sayap ini memimpin timnya melaju ke final Piala Emperor untuk menantang Kashima Antlers. Dalam pertandingan itu, ia mencetak gol penyeimbang dan memberi assist bagi gol kemenangan Teruaki Kurobe. Kyoto Purple akhirnya memenangi partai final dengan skor 2-1 sehingga menjadi gelar Piala Emperor pertama dalam sejarah klub tersebut.
Setelah Piala Dunia, Guus Hiddink terpilih menjadi pelatih klub Belanda, PSV Eindhoven. Sebagai mentor dan mantan pelatih timnas Korsel, Hiddink mengajak Park dan rekan setimnya Lee Young-Pyo untuk bergabung ke PSV Eindhoven. Di saat Lee cepat beradaptasi dengan tim utama, Park sulit karena cedera.
Walau begitu, di akhir musim 2003-2004, Park mulai beradaptasi dengan Belanda, baik di dalam maupun di luar lapangan. Pada musim 2004-2005, kepindahan Arjen Robben dari PSV ke Chelsea membuka kesempatan bagi Park untuk lebih banyak main sejak awal. Bersama Johann Vogel, DaMarcus Beasley, Mark van Bommel dan Philip Cocu, Park membentuk lini tengah PSV dengan kecepatan dan umpannya.
Gol pertama Park di PSV dibikin saat semifinal Liga Champions melawan Milan. PSV menang 3-1 di kandang, tetapi kekalahan 2-0 di San Siro memupus harapan para pendukung PSV. Pada bulan penutup musim 2004-2005, Park memilih hijrah ke Manchester United. Dia menandatangani kontrak dengan klub Premier League itu dengan nilai empat juta euro.
Park menjadi orang Asia pertama yang mengenakan ban kapten MU. Itu terjadi ketika Ryan Giggs diganti lalu ia memasangkan ban kaptennya ke Park dalam laga Liga Champions 2005-2006 melawan Lille. Pada 29 April 2008, Manchester United melangkah ke final Liga Champions setelah melewati hadangan Barcelona. Dalam laga semifinal itu, Park terpilih sebagai man of the match.
Publik MU sangat terkejut ketika nama Park tidak disertakan dalam skuad menghadapi Chelsea di laga final yang berlangsung di Moskow itu. Banyak dari mereka percaya bahwa performa Park saat melawan Barcelona harusnya bisa memastikan sang pemain masuk di susunan pemain Sir Alex Ferguson di pertandingan final.
Park membuat penampilan ke-100 bersama MU dalam pertandingan tandang melawan Tottenham Hotspurs yang berkesudahan 0-0. Pada 7 Maret 2009, Park membuat gol pertama di ajang Piala FA saat MU membantai Fulham 4-0 di Craven Cottage.
Pada 5 Mei 2009, gol pertama Park di Liga Champions tercipta di leg kedua semifinal melawan Arsenal di Emirates. Kemenangan 3-1 di kandang Arsenal itu (agregat 4-1), memastikan MU dapat satu tempat di final secara beruntun. Park menjadi pemain Asia pertama yang main di final Liga Champions, meski MU gagal memenangkan laga.
Park memulai karir internasionalnya di usia 19 tahun sebagai gelandang bertahan. Ia pertama kali dipilih dalam skuad Korsel U-23 Olimpiade Sydney 2000 yang ketika itu dilatih Huh Jung-Moo. Saat Guus Hiddink menjadi pelatih kepala, posisi Park dipindahkan ke sayap. Sejak itu, Park menjadi pemain yang bisa di segala posisi: gelandang tengah, kanan dan kiri serta striker sayap.
Park mencetak satu gol yang penuh memori selama Piala Dunia 2002. Selama penyisihan grup, Korsel menang di partai pembuka melawan Polandia kemudian seri melawan AS. Agar lolos, mereka harus minimal seri melawan Portugal. Park akhirnya mencetak gol kemenangan di menit 70 dimana dia memenangi duel dengan Sergio Conceicao sebelum menendang voli pakai kaki kiri untuk menaklukkan kiper Vitor Baia. Gol ini menyingkirkan Portugal dan meloloskan Korsel untuk pertama kalinya ke babak knock-out.
Sukses Park di Piala Dunia berlanjut di Jerman 2006. Dia mencetak gol penyeimbang di pertandingan kedua Grup G melawan Perancis sekaligus terpilih sebagai man of the match. Dalam dua putaran final Piala Dunia, nomor kaus Park berubah dari 21 ke 7.
Pada 11 Oktober 2008, dia menjadi kapten timnas untuk pertama kalinya dalam pertandingan persahabatan versus Uzbekistan. Korsel menang 3-0.
( din / a2s )
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaruIndeks »
-
Minggu, 11/07/2010 05:40 WIB
Dulu Pele, Kini Mueller
-
Sabtu, 10/07/2010 12:13 WIB
'Senna Muda' yang Rendah Hati
-
Kamis, 08/07/2010 06:19 WIB
Xavi Sang Sutradara
-
Rabu, 07/07/2010 09:57 WIB
Siapa Bisa Hentikan Van Marwijk?
-
Rabu, 07/07/2010 06:11 WIB
Vitalnya Gio
-
Sabtu, 26/05/2012 22:00
Inter Tundukkan Indonesia Selection 4-2
-
Sabtu, 26/05/2012 21:30
Timnas Futsal Dipastikan Tersingkir dari Piala Asia
-
Sabtu, 26/05/2012 23:13
Zanetti Ingin Kembali Lagi ke Indonesia
-
Sabtu, 26/05/2012 21:05
IPL
PSM Kalahkan Persiraja, Persijap Bekuk Bontang FC
-
Sabtu, 26/05/2012 20:47
ISL
PSPS Berimbang Lawan Pelita
Klasemen
| No | Team | M | M | S | K | SG | Nilai |
| 1 | Juventus | 38 | 23 | 15 | 0 | 68-20 | 84 |
| 2 | Milan | 38 | 24 | 8 | 6 | 74-33 | 80 |
| 3 | Udinese | 38 | 18 | 10 | 10 | 52-35 | 64 |
| No | Team | M | M | S | K | SG | Nilai |
| 1 | Manchester City | 38 | 28 | 5 | 5 | 93-29 | 89 |
| 2 | Manchester United | 38 | 28 | 5 | 5 | 89-33 | 89 |
| 3 | Arsenal | 38 | 21 | 7 | 10 | 74-49 | 70 |
| No | Team | M | M | S | K | SG | Nilai |
| 1 | Real Madrid | 38 | 32 | 4 | 2 | 121-32 | 100 |
| 2 | Barcelona | 38 | 28 | 7 | 3 | 114-29 | 91 |
| 3 | Valencia | 38 | 17 | 10 | 11 | 59-44 | 61 |
| No | Team | M | M | S | K | SG | Nilai |
| 1 | Borussia Dortmund | 34 | 25 | 6 | 3 | 80-25 | 81 |
| 2 | Bayern Munchen | 34 | 23 | 4 | 7 | 77-22 | 73 |
| 3 | FC Schalke 04 | 34 | 20 | 4 | 10 | 74-44 | 64 |
HasilAkhir
| Tanggal | Home | Score | Away |
| 14/05/2012 | Napoli | 2 - 1 | Siena |
| 14/05/2012 | Genoa | 2 - 0 | Palermo |
| 14/05/2012 | Chievo | 1 - 0 | Lecce |
| Tanggal | Home | Score | Away |
| 13/05/2012 | Swansea City | 1 - 0 | Liverpool |
| 13/05/2012 | Norwich City | 2 - 0 | Aston Villa |
| 13/05/2012 | Tottenham Hotspur | 2 - 0 | Fulham |
| Tanggal | Home | Score | Away |
| 14/05/2012 | Espanyol | 1 - 1 | Sevilla |
| 14/05/2012 | Racing Santander | 2 - 4 | Atletico Osasuna |
| 14/05/2012 | Getafe | 0 - 2 | Real Zaragoza |
| Tanggal | Home | Score | Away |
| 05/05/2012 | Werder Bremen | 2 - 3 | FC Schalke 04 |
| 05/05/2012 | FC Augsburg | 1 - 0 | Hamburger SV |
| 05/05/2012 | Hertha Berlin | 3 - 1 | TSG Hoffenheim |













.gif)
