Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Persiter Ternate, Apa Kabarmu Kini?

    Lucas Aditya - detikSport
    Tampak depan Stadion Stadion Kie Raha (Foto: Lucas Aditya/detikSport) Tampak depan Stadion Stadion Kie Raha (Foto: Lucas Aditya/detikSport)
    Jakarta - Di pertengahan tahun 2000, Stadion Kie Raha amat semarak saat Persiter Ternate mementaskan laga di Liga Indonesia. Kini, apa kabar tim dari daerah yang banyak mengahsilkan banyak pemain nasional itu?

    Kalau menanyakan pemain nasional asal Ternate, untuk saat ini jawabannya langsung tertuju pada Rizky Pora dan Zulham Zamrun. Mereka merupakan dua penggawa tim nasional Indonesia yang menjadi runner-up di Piala AFF 2016 lalu.

    Setelah generasi itu, ada Ilham Udin Armaiyn dan Mahdi Fahri Albar, dua pemain yang mengantarkan Timnas U-19 menjadi juara Piala AFF di tahun 2013. Gelar juara itu yang kemudian dirayakan sebagai obat puasa gelar tim nasional.

    Jauh sebelum keempat pemain itu, Ternate pernah menyumbangkan satu striker tajam bernama Rahmat Rivai. Anggota timnas Baretta generasi kedua itu yang mencicipi begitu menggeliatnya sepakbola Ternate di kasta tertinggi kompetisi antarklub di Indonesia kala itu.

    Kini, Liga Indonesia sudah kembali hidup lagi usai mati suri. Tapi, ingar-bingar pesta dan semarak liga yang kini bertajuk Liga 1 atau Liga 2 itu tetap tak dirasakan bumi Kie Raha. Persiter tak menjadi bagian dari dua pesta itu.

    Persiter Ternate, Apa Kabarmu Kini?Zulham Zamrun saat menjalani sesi latihan bersama Timnas Indonesia (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)


    Stadion Kie Raha Representasi Persiter

    Stadion Kie Raha saat ini sedang dalam renovasi. Sisi barat yang merupakan tribune VIP kini sedang dibangun kembali. Stand ini merupakan satu-satunya yang ada atapnya.

    Stadion ini mempunyai kapasitas sebanyak 15 ribu pasang mata, tribun terbukanya hanya berupa cor semen seperti tangga, yang mengitari sekitar 3/4 lapangan bola.

    Kondisi lapangan tak representatif untuk menggelar pertandingan level tinggi sepakbola. Lapangannya tak terselimuti rumput 100 persen, juga tanahnya amat keras.

    Bagi publik Ternate, Stadion Kie Raha, menjadi kebanggaan. Ingatan mereka selalu tertuju pada Persiter yang begitu sulit dikalahkan saat berlaga di sana.

    Salah satu yang sangat membekas salah saat Persiter menghadapi Persipura Jayapura di tahun 2006 silam. Juara Liga Indonesia 2005 itu dibuat tak berkutik oleh tim tuan rumah. Mereka menang dengan skor telak 3-0, hingga wajar kalau hasil laga pada 25 Januari sembilan tahun silam itu terus diingat.

    Rekor unbeaten di kandang juga disandang oleh Persiter di musim 2007. Kala itu, Jacksen F Tiago menjadi arsiteknya. Persiter sempat menjadi penguasa Grup Timur hingga akhir putaran pertama, tapi akhirnya finis di posisi enam klasemen untuk bisa berlaga di Liga Super.

    Stadion Kie Raha sedang diupayakan untuk terus direnovasi. Nominal sekitar Rp 60 miliar disebut menjadi dana yang dibutuhkan untuk memperbaiki stadion agar layak untuk menggelar pertandingan kelas nasional.

    Keunggulan stadion Kie Raha saat ini hanya pada penerangan untuk menggelar pertandingan malam hari. Lampu penerangan memang sudah terpasang di empat lapangan.

    Kie Raha yang dalam perbaikan itu sama nasibnya dengan Persiter yang masih berjuang di level divisi amatir, mengejar mimpi berlaga di liga yang lebih tinggi.

    Masa Kelam Persiter Sewindu Silam

    Sejam musik 2008/2009, Liga Indonesia berganti format. Format kompetisi menjadi satu wilayah, PSSI mulai menerapkan verifikasi 5 aspek lisensi klub profesional sesuai dengan yang dikeluarkan oleh AFC dan FIFA.

    Persiter merupakan salah satu klub yang lolos ke kompetisi Liga Super, dari format dua kompetisi di musim sebelumnya. Tapi, langkah mereka untuk tetap bertahan di kasta tertinggi sepakbola nasional terganjal aspek infrastruktur.

    Stadion Kie Raha kandang Persiter, tak lolos verifikasi yang dilakukan PSSI. Lapangan tak mempunyai drainase yang bagus, hingga kondisinya menjadi tergenang air saat menggelar laga kala hujan. Selain Persiter, klub lain yang terganjal masalah yang sama adalah Permin Minahassa.

    Pada prosesnya, PSIS Semarang dan Bontang FC diputuskan oleh PSSI lewat Badan Liga Indonesia, menjadi pengganti kedua klub asal Timur Indonesia itu menjadi pelengkap konstestan Liga Super Indonesia yang perdana.

    Sial bagi Persiter, pengurus mereka memutuskan untuk tak mengikuti kompetisi di tahun yang sama. Persoalan dana menjadi masalah utamanya, tentu saja selain persoalan infrastruktur yang menjadi ganjalan.

    Persoalan pemilihan kepala daerah Maluku Utara yang panas di tahun 2008 juga membuat Persiter kian tak mungkin lagi mengikuti kompetisi. Izin untuk menggelar pertandingan dari pihak keamanan jelas tak akan keluar di saat itu.

    Rentetan nasib buruk itu yang membuat Persiter harus memulai kompetisi dari level terbawah, divisi amatir. Sudah sudah sewindu lamanya, mereka berkutat di level terbawah kompetisi antarklub di Liga Indonesia.

    Kondisi itu yang membuat Rahmat 'Poci' Rivai akhirnya harus hijrah. Persipura dan Sriwijawa FC menjadi dua klub yang pernah dia bela. Dia meraih kesuksesan besar bersama 'Mutiara Hitam' dengan raihan gelar juara Liga Super Indonesia 2010/2011. Musim sebelumnya menjadi juara Piala Indonesia bersama 'Laskar Wong Kito'.

    Misi Persiter Kini Pembinaan

    Persiter saat ini masih berlaga di kompetisi amatir yang di musim lalu bernama Liga Nusantara. Prestasi mereka cukup oke dengan menjadi juara wilayah Maluku Utara di musim lalu.

    Tapi, mimpi publik Ternate untuk melihat tim idolanya berlaga di level profesional masih jauh panggang dari api.

    Persiter Ternate, Apa Kabarmu Kini?Anak-anak kecil melakukan latihan sepakbola di Persiter Ternate (Foto: Lucas Aditya/detikSport)


    APBD menjadi sumber utama pembiayaan dari Persiter. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 sudah melarang pengunaan APBD untuk klub sepakbola profesional.

    Andai terus masih di liga amatir, Persiter bisa akan mendapatkan kucuran APBD. Hal itu merupakan tindak lanjut atas instruksi Presiden Ri Joko Widodo di tahun ini.

    Ketua umum Persiter, Burhan Abdurrahman, sudah mengungkapkan apa yang menjadi fokus tim asal salah satu kesultanan tertua di Indonesia itu. Bukan berlaga di kompetisi level atas, tapi pembinaan usia dini.

    "Persiter itu dulu bisa bangkit, ke divisi utama lalu ke Liga Super karena pembiayaan APBD. Setelah ada larangan penggunaan APBD, otomatis kami sulit dalam hal pendanaan," kata Burhan beberapa waktu lalu.

    "Itu menjadi kendala utama, padahal pemainnya cukup banyak. Bibit-bibitnya cukup banyak, ada banyak pemain nasional lahir dari sini."

    "Untuk melibatkan swasta susah. Ternate ini kota kecil, tidak ada sumber daya alam tambang, di sini hanya jasa perdagangan. Untuk ikut divisi utama itu cukup besar puluhan miliar untuk sekali kompetisi."

    "Kami fokus pada menciptakan atlet, setelah itu terserah dia mau berkembang, seperti Ilham Udin Armaiyn, ada seleksi timnas U-19, dan diambil, ya silahkan. Pemain Persiter kini ada di mana-mana," imbuh pria yang juga menjabat sebagai walikota Ternate itu.



    ===

    * Penulis adalah reporter detikSport. Beredar di dunia maya melalui akun @LucasAdityA (cas/din)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    detik-insider