Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Menyambut Monchi, Menerima Roma yang Semenjana

    Rifqi Ardita Widianto - detikSport
    Foto: Dennis Grombkowski/Getty Images Foto: Dennis Grombkowski/Getty Images
    Jakarta - Menjadi penggemar sebuah klub sepakbola, seringkali yang tersulit adalah menerima kenyataan. Kenyataan yang paling pahit? Tentu saja status sebagai klub semenjana.

    Apa yang membuat sebuah klub disebut besar? Gelar-gelar juara? Sejarahnya? Basis penggemarnya?

    Jika melihat gelar juara, Roma tak sepantasnya menyandang predikat tim besar. Giallorossi baru tiga kali juara Liga Italia dan yang teranyar adalah pada musim 2000/2001 silam.

    Gelar yang paling akrab dengan Roma adalah titel juara Coppa Italia, yang sudah sembilan kali dimenangi. Tapi yang terakhir kali pun sudah cukup lama yakni pada 2007/2008 lalu. Trofi lain yang pernah dirasakan Roma adalah Piala Super Italia, yang direngkuh dua kali dan terakhir dirasakan pada 2007.

    Dari catatan itu pula otomatis terlihat ahwa Roma tak pernah benar-benar jadi tim kuat di Italia. Secara sejarah, I Lupi tak punya kultur juara yang kuat seperti tim-tim rivalnya dari utara Italia. Meski cukup konsisten di level atas, Roma lebih sering, atau terlalu sering, berada di belakang si nomor satu.

    Maka satu-satunya yang bisa membuat Roma menyebut diri sebagai tim besar adalah basis penggemarnya. Roma adalah satu dari dua klub besar di kota Roma bersama Lazio. Tapi hal itulah yang kemudian memunculkan simalakama untuk Roma.

    Menyambut Monchi, Menerima Roma yang SemenjanaSkuat AS Roma musim 200/2001 (Foto: Alex Livesey /Allsport)


    ***

    24 April 2017 barangkali bakal dikenang sebagai hari bersejarah dan tonggak oleh para penggemar Roma. Di hari itu, seorang pria bernama Ramon Rodríguez Verdejo menginjakkan kaki ke klub.

    Pria plontos itu lebih akrab disebut Monchi, yang dalam beberapa hari selanjutnya resmi menjadi Direktur Olahraga Roma. Sebagian penggemar Roma menyambut kedatangannya dengan antusias. Monchi bahkan disebut-sebut sebagai transfer terbaik Roma setelah sekian lama, dan dia bahkan bukan seorang pemain.

    Yang membuat Monchi disambut antusias adalah reputasinya. Dia dikenal sebagai ahli transfer yang punya 'penciuman super tajam' terhadap pemain-pemain bertalenta namun undervalued.

    Kiprahnya selama 17 tahun sebagai Direktur Olahraga di Sevilla menjadi bukti. Adalah Monchi yang berjasa menemukan sosok antara lain Sergio Ramos, Jesus Navas, Jose Antonio Reyes, Adriano, Dani Alves, Federico Fazio, juga Ivan Rakitic. Juga masih banyak pemain top lainnya, yang ditemukan Monchi saat masih berstatus tak terlacak oleh klub-klub besar.

    Roma juga harus antusias karena Monchi datang dengan bekal besar: sistem pemantauan bakat yang telah dibangun selama bertahun-tahun di Sevilla. Setelah ditunjuk jadi Direktur Olahraga Sevilla pada tahun 2000, mantan kiper itu memang bekerja keras membangun jaringan pemandu bakat di seluruh dunia.

    Lewat jaringan inilah dia mengumpulkan data pemain. Setelah bertahun-tahun, datanya terus bertambah dan saat Sevilla butuh pemain, Monchi punya daftar lengkap untuk posisi yang diperlukan.

    Roma beruntung, karena Monchi tak perlu lagi memulai dari nol. Roma kini cuma perlu bersabar dan percaya pada Monchi.

    ***

    Berapa lama waktu yang dibutuhkan Sevilla meraih gelar pertama sejak menunjuk Monchi jadi Direktur Olahraga? Enam tahun. Tentu relatif untuk menyebutnya cepat atau terlalu lama.

    Tapi yang pasti Sevilla perlahan mampu membangun kultur juara. Gelar pertama di era Monchi itu adalah trofi Liga Europa, yang kemudian dimenangi juga di 2006/2007, 2013/2014, 2014/2015, dan 2015/2016. Los Rojiblancos juga juara Copa del Rey di 2006/2007 dan 2009/2010.

    Sevilla menjuarai Liga Europa 2014/2015Sevilla menjuarai Liga Europa 2014/2015 (Foto: Michael Regan/Getty Images)


    Meski sampai saat ini Sevilla masih belum mampu menyaingi tiga tim top yakni Barcelona, Real Madrid, dan Atletico Madrid untuk gelar Liga Spanyol, tapi setidaknya mereka sudah membangun hal krusial. Bersaing untuk gelar Liga Spanyol jelas sulit mempertimbangkan aspek persaingan finansial dan faktor mentalitas serta pengalaman. Sevilla setidaknya mulai mendapatkan hal yang kedua.

    Manajemen Roma sejauh ini sudah melakukan langkah tepat untuk membuat klubnya tumbuh semakin besar. Roma butuh membangun kultur juara dan Monchi punya kemampuan membangun tim untuk misi tersebut.

    Roma butuh sentuhan ajaib Monchi, untuk menemukan pemain-pemain setengah jadi untuk dimatangkan dan naik level di klub. Baik itu untuk dijadikan andalan di tim, maupun untuk dijadikan komoditas. Sebab Roma juga butuh perputaran uang yang lancar dalam beberapa musim ke depan, yang akan diharapkan datang dari partisipasi di Liga Champions dan penjualan pemain.

    Mereka sedang berencana membangun stadion dan itu jelas akan menguras tenaga dan uang. Roma akan cukup berhemat dan Monchi diharapkan bisa tetap menyediakan tim yang kompetitif di tengah situasi itu.

    Yang menjadi persoalan adalah seberapa sabar para penggemar. Sebab fans Roma diperkirakan masih bakal harus membatasi ekspektasi untuk beberapa musim nanti sebelum, mungkin untuk benar-benar bersaing dengan Juventus untuk Scudetto.

    ***

    Roma adalah sebuah kotak berisi madu sekaligus racun. Mereka punya basis penggemar yang terbilang besar dan setia, tapi seringkali justru menimbulkan tekanan besar untuk timnya sendiri.

    Terlalu sering ada ketidakpuasan di Roma, yang akhirnya memberikan atmosfer negatif di tim. Rasa haus akan sukses yang menyelimuti 'Serigala Ibukota' tak diimbangi dengan kesadaran bahwa dalam berbagai aspek, Roma memang belum pernah benar-benar siap untuk bersaing di puncak.

    Atmosfer negatif itu menghambat para pemain muda tumbuh, sementara pemain-pemain bagus bermain dengan rasa takut. Ada ekspektasi yang terlalu besar untuk Roma.

    Menyambut Monchi, Menerima Roma yang SemenjanaMonchi mengangkat trofi Liga Europa yang dia menangi bersama Sevilla (Foto: Dennis Grombkowski/Getty Images)


    Menunjuk Monchi seharusnya menjadi sebuah sinyal kuat. Bahwa untuk saat ini Roma harus mengubah cara berpikir dan menurunkan ekspektasi. Singkatnya, menerima ke-medioker-an tim untuk sementara, dan mulai membangun diri dari titik itu.

    Para penggemar Roma masih akan sering melihat sejumlah pemain bagusnya pergi ke tim-tim top. Juga mungkin finis kedua atau ketiga di Liga Italia, sementara membangun mental juara di kompetisi-kompetisi level dua.

    Karena untuk semua yang semenjana, berprogres butuh proses.

    ===

    * Penulis adalah reporter detikSport. Beredar di dunia maya melalui akun Twitter @EkiArdito (raw/din)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game