Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Gear

    'Sepatu Anggur' Untuk Pirlo yang Seperti Anggur

    Rossi Finza Noor - detikSport
    Foto: Getty Images/Mike Stobe Foto: Getty Images/Mike Stobe
    Jakarta - Untuk seorang pemain spesial, sepatunya juga harus spesial. Kalau bisa, sepatunya juga harus benar-benar merepresentasikan si pemain yang mengenakannya.

    Si pemain yang spesial itu adalah Andrea Pirlo. Kendati pun sudah menjauh dari keriuhan sepakbola Eropa, Pirlo adalah sosok yang tetap dihormati. Melabelinya dengan sebutan "maestro" lini tengah rasa-rasanya tidak berlebihan.

    Yang menarik dari Pirlo, dirinya lambat tenar. Awalnya bermain sebagai seorang gelandang serang, Pirlo justru kesulitan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Nasibnya berubah ketika Carlo Mazzone, pelatihnya di Brescia dulu, menyadari bahwa kemampuan Pirlo bakal keluar jika dialihfungsikan sebagai gelandang yang berdiri lebih dalam.

    Maka, bermainlah Pirlo dalam peran yang membuatnya mendunia, yakni deep-lying playmaker. Sebagai deep-lying playmaker, Pirlo bisa dengan bebas mengekspresikan kreativitasnya dan menjadi metronom tim dari posisi yang nyaris tidak tersentuh. Satu-satunya cara untuk mengganggu kinerja Pirlo hanya dengan menaruh seorang defensive forward --seperti yang dilakukan Sir Alex Ferguson dengan memainkan Park Ji-Sung pada peran tersebut.

    Dari peran tersebut jugalah Pirlo mendapatkan citra sebagai pemain yang elegan dan penuh kelas. Dengan rambut gondrong dan jenggot yang rapi, penampilan Pirlo nyaris sama flamboyannya dengan gaya mainnya.

    Dengan bermain sebagai deep-lying playmaker pula, Pirlo mampu menjaga kariernya tetap berada di level teratas hingga memasuki usia senja untuk ukuran pesepakbola. Ia baru meninggalkan kancah sepakbola Eropa ketika usianya menginjak 36 tahun. Seperti anggur, Pirlo makin tua makin enak untuk dinikmati (permainannya).

    Bukan kebetulan pula kalau Pirlo punya hasrat tinggi terhadap anggur. Ia juga seorang connoisseur dan memiliki sebuah perkebunan anggur, yang kabarnya menghasilkan hingga belasan ribu botol per tahun.

    Jika pensiun nanti, Pirlo tidak khawatir. Ia sudah punya kegiatan lain yang disukainya --ya, mengelola perkebunan anggurnya itu. "Nenek saya memiliki ladang anggur di sana. Sejak kecil saya bersama kerabat memanen anggur. Saya selalu minum anggur sejak kecil, ibu saya mencampurnya dengan sedikit air," kata Pirlo.

    Kalau nanti Pirlo sudah menghilang dari lapangan hijau, kita mungkin bisa menemukannya di Coller, sebuah bukit di Brescia, tempat kebun anggur keluarganya terletak, tempat mereka bisa membuat empat jenis anggur: mawar, putih, dan dua jenis anggur merah.






    Untuk menghormati (dan mungkin juga merayakan) citra elegan yang dimiliki Pirlo, Nike, sebagai sponsor Pirlo, pun membuatkannya sepatu khusus. 'Nike Tiempo Pirlo' yang khusus dibuatkan olehnya terinspirasi oleh sebotol anggur; ia berwarna merlot dan dikemas dalam sebuah kotak kayu. Tidak ketinggalan pula insole di bagian dalam sepatu terdapat tulisan "aged since 1994" --tahun di mana Pirlo memulai kariernya di Brescia-- dengan gaya klasik.

    "Sejarah Pirlo dengan wine bermula pada masa kecilnya di Flero, di mana dia banyak menghabiskan waktunya memanen anggur di sebuah perkebunan lokal. Hasratnya terhadap minuman anggur membuat dia dan keluarganya membuka perkebunan sendiri bernama Pratum Coller," demikian pernyataan Nike.

    Kalau Anda ada yang tertarik, 'Nike Tiempo Pirlo' dibuat terbatas dan baru akan dirilis pada 19 September mendatang.

    (roz/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    gear