Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Champions: Juventus 2-1 Monaco

    Juventus Manfaatkan Ketidaksempurnaan Skema Tiga Bek Monaco

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Juventus vs Monaco di Turin (Foto: REUTERS/Alberto Lingria) Juventus vs Monaco di Turin (Foto: REUTERS/Alberto Lingria)
    Jakarta - Monaco terhenti di semifinal Liga Champions 2016/2017. Pada laga leg kedua, Rabu (10/5/2017) dinihari WIB, Monaco takluk dengan skor 1-2 di markas Juventus. Tiket final jadi milik Juventus dengan agregat 4-1.

    Seperti pada leg pertama, Juventus tampil lebih superior dibanding Monaco. Apalagi kali ini mereka bertindak sebagai tuan rumah. Juventus cukup dominan dan nyaman saat melancarkan serangan. Hanya di 15 menit pertama saja Juventus kerepotan.

    Di kubu Monaco sendiri terjadi perubahan ekstrem pada susunan pemain dan formasi. Pada laga ini, formasi 4-4-2 andalan ditinggalkan untuk mengakomodasi skema 3-4-1-2. Hal ini dikarenakan Nabil Dirar yang sudah disiapkan bermain sejak menit pertama mengalami cedera saat melakukan pemanasan.

    Juventus Manfaatkan Ketidaksempurnaan Skema Tiga Bek Monaco

    Ketidaksiapan Monaco Main dengan Skema Tiga Bek

    Satu jam sebelum pertandingan dimulai, Monaco merilis skuat dengan Nabil Dirar ada di dalamnya. Formasi 4-4-2 pun kemungkinan akan kembali diandalkan seperti leg pertama. Sedikit perubahan ada pada sektor bek kanan dengan menyiapkan Andrea Raggi, dan sektor gelandang tengah yang kini menduetkan Joao Moutinho dan Tiemoue Bakayoko.

    Ketika Dirar cedera, Pelatih AS Monaco Leonardo Jardim secara mengejutkan tidak memasang Thomas Lemar yang biasa bermain di sayap dan justru memilih Benjamin Mendy. Padahal pada konferensi pers, Mendy dikatakan Jardim tidak siap tampil karena belum pulih 100% dari cedera.

    Jardim tampak melakukan perjudian besar dengan skema 3-4-1-2 ini. Lagipula pola 3-4-1-2 ini berlaku hanya saat menyerang. Saat tak menguasai bola, pola formasi Monaco membentuk 4-4-2 atau 4-2-3-1.

    Pada laga ini, Kylian Mbappe memang bermain agak melebar ke kiri. Tampaknya kecepatan Mbappe disiapkan untuk mengeksploitasi sisi kanan pertahanan Juventus yang diisi oleh Daniel Alves dan Andrea Barzagli.

    Skema ini kemudian tampak efisien pada awal-awal laga. Pada 15 menit pertama, Monaco langsung menciptakan dua peluang, sementara Juventus baru mencetak peluang pertamanya pada menit ke-16. Monaco juga pada laga ini menerapkan pressing dengan garis pertahanan tinggi.

    Juventus awalnya seperti tidak siap menghadapi Monaco yang bermain dengan pendekatan strategi berbeda dari leg pertama tapi perlahan Juventus mulai mengontrol pertandingan. Si Nyonya Tua begitu nyaman saat menguasai bola. Mereka bisa melancarkan serangan balik cepat ataupun menguasai bola lebih lama. Juventus menyerang benar-benar menunggu momentum yang tepat.

    Skema tiga bek Monaco ini kemudian ditemukan kelemahannya oleh Juventus. Hal ini terlihat ketika lini pertahanan Monaco berantakan setelah mereka gagal menyerang. Ya, transisi dari menyerang ke bertahan Monaco tidak terorganisir dengan rapi.

    Situasi ini yang dimanfaatkan Juventus untuk mencetak gol pertama. Setelah gagal sepak pojok, Juventus melancarkan serangan balik melalui sisi kiri, melalui kecepatan Alex Sandro. Di depan kotak penalti, Paulo Dybala kemudian dengan leluasa menguasai bola dan memindahkan arah serangan ke sisi kanan, pada Daniel Alves. Dari situ Alves memberikan umpan silang tajam pada Mario Mandzukic yang awalnya tidak terlibat dalam skema serangan balik Juventus.




    Sebelum gol ini, beberapa peluang terbuka sudah diciptakan Juventus. Selain peluang lain dari Mandzukic, Juve juga mencatatkan peluang emas dari Dybala dan Gonzalo Higuain. Skemanya pun hampir serupa, memanfaatkan transisi dari menyerang ke bertahan Monaco yang buruk.

    Mario Mandzukic Pemain Terbaik

    Daniel Alves memang mencetak satu assist dan satu gol pada laga ini. Golnya pun dicetak cukup spektakuler. Namun secara strategi menyerang, Juventus tampaknya harus berterimakasih pada permainan gemilang Mandzukic.

    Kontribusi Mandzukic pada laga ini tidak semata hanya dari gol pembuka Juventus pada menit ke-33. Namun penyerang asal Kroasia ini memiliki peran penting dalam strategi sang pelatih, Massimilliano Allegri, pada laga ini terutama dalam menjaga penguasaan bola.

    Monaco bermain dengan pressing garis pertahanan tinggi. Mereka berusaha mengganggu build-up serangan Juventus yang biasanya berawal dari umpan pendek Gianluigi Buffon pada pemain belakang. Terlebih Juventus memiliki Leonardo Bonucci, pemain bertahan yang bisa berlagak layaknya seorang playmaker.

    [Baca juga: Kualitas, Mentalitas dan Loyalitas Leonardo Bonucci]

    Secara kasat mata, pressing Monaco tersebut berhasil membuat Juve tidak bisa memainkan umpan-umpan pendek. Karena pada laga ini, Juve justru lebih banyak mengandalkan umpan-umpan panjang langsung ke depan.

    Namun umpan panjang Juventus tak berarti Bianconeri membuang bola dengan panik. Karena sepanjang pertandingan, Juventus terus mengarahkan bola ke kedua sayap, memanfaatkan tidak maksimalnya transisi menyerang ke bertahan Monaco.

    Juventus Manfaatkan Ketidaksempurnaan Skema Tiga Bek Monaco
    Grafis operan Juventus (via: squawka.com)

    Bola-bola umpan panjang memang tak membuat Juventus lepas penguasaan bola. Dan pemain yang paling berjasa dalam menjaga penguasaan bola Juventus ini adalah Mario Mandzukic. Karena setiap bola panjang yang mengarah padanya, Mandzukic selalu bisa menjaga penguasaan bola Juventus.

    Indikasi ini terlihat dari 24 duel udara Juventus, 12 di antaranya dilakukan oleh Mandzukic. Dan 10 dari 12 duel udara, mantan penyerang Bayern Munich dan Atletico Madrid tersebut berhasil memenangkan duel. Ini tidak termasuk operan Mandzukic melalui kepala tanpa duel. Bahkan dua operan kepalanya berhasil menjadi umpan kunci.

    Juventus Manfaatkan Ketidaksempurnaan Skema Tiga Bek MonacoGrafis operan Mandzukic melalui sundulannya (via: squawka.com)


    Juventus Manfaatkan Ketidaksempurnaan Skema Tiga Bek Monaco
    Grafis duel udara Mandzukic (via: squawka.com)

    Berkat Mandzukic juga, serangan sisi kiri Juventus lebih hidup. Dengan Mbappe yang bermain melebar lebih ke kanan pertahanan Juventus, praktis Daniel Alves cukup sibuk membantu pertahanan di sisi kanan. Saat itulah sisi kiri Juventus memecah kebuntuan. Bersama Alex Sandro, Mandzukic terus menebar ancaman di sisi kiri. Ia mencatatkan lima tembakan pada laga ini, tiga on target yang salah satunya menjadi gol.

    Kesimpulan

    Juventus kembali tampil superior dibanding Monaco. Hal ini tak terlepas dari cederanya Dirar saat pemanasan, yang membuat Monaco mengubah skema permainannya. Skema 4-4-2 diubah menjadi 3-4-1-2, yang tidak dibarengi dengan transisi dari menyerang ke bertahan yang maksimal. Ini yang kemudian dimanfaatkan Juventus untuk mencetak gol pertama.

    Monaco memang bisa memperkecil ketinggalan pada pertengahan babak kedua melalui gol Mbappe. Namun gol tersebut tercipta berawal dari sepak pojok. Karena lewat open play, Monaco memang cukup kesulitan membongkar kokohnya pertahanan Juventus. Belum lagi penampilan cemerlang Gianluigi Buffon di bawah mistar gawang. Juventus memang lebih layak melangkah ke partai puncak Liga Champions musim ini.


    (krs/cas)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    match-analysis