Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Pratinjau Atletico Madrid vs Real Madrid

    Comeback Bukan Hal yang Mustahil bagi Atletico

    Dex Glenniza - detikSport
    Real Madrid vs Atletico Madrid di leg pertama lalu (Foto: Clive Rose/Getty Images) Real Madrid vs Atletico Madrid di leg pertama lalu (Foto: Clive Rose/Getty Images)
    Jakarta - Dalam tiga pertandingan terakhir di Liga Champions UEFA, Atlético Madrid selalu kalah dari Real Madrid. Dua di antara tiga pertandingan tersebut terjadi di final dan selalu berakhir lebih dari 120 menit.

    Kedua kesebelasan akan kembali bertemu di semifinal leg kedua, Kamis (11/05/2017) dinihari WIB. Madrid memiliki modal berharga setelah berhasil memenangi pertandingan leg pertama dengan skor 3-0.

    Melakukan comeback dari ketinggalan 0-3 bukan sesuatu yang mustahil, tapi kita harus tahu jika itu adalah hal yang sangat sulit. Diego Simeone, pelatih Atlético, bukan hanya butuh kesebelasannya untuk mencetak banyak gol, tetapi juga untuk tidak kebobolan.

    Untuk kesebelasan yang dinilai bermain defensif, kebobolan tiga kali (di leg pertama) tentunya bukan sesuatu yang menggembirakan. Di leg kedua nanti, jika saja Atlético kebobolan satu gol, apalagi itu adalah gol pertama, maka tamatlah sudah riwayat Atlético dan Simeone di Liga Champions musim ini.

    Berseberangan dengan itu, gol pertama ini lah yang akan dikejar oleh Zinedine Zidane, entrenador Madrid. Ia tahu sekadar bermain bertahan saja tidak akan membuat El Real melaju ke final. Lagipula, Madrid tidak terkenal sebagai kesebelasan yang pandai bertahan selama ini, justru sebaliknya, mereka adalah kesebelasan yang menyerang.

    Real Madrid Incar Gol Cepat

    Selama lebih dari satu tahun, Madrid tidak pernah gagal mencetak gol. Madrid sudah berhasil mencetak gol dalam 60 pertandingan terakhir mereka. Terakhir kali Los Blancos gagal mencetak satu gol pun di segala kompetisi adalah ketika leg pertama semifinal Liga Champions musim lalu melawan Manchester City. Saat itu, bukan kebetulan juga Cristiano Ronaldo absen akibat cedera.

    Seperti yang Zidane katakan dalam konferensi pers, ia akan melakukan pendekatan pertandingan tunggal pada laga nanti. Artinya, ia tidak akan menganggap adanya leg pertama. Jika benar demikian, kita bisa berekspektasi Madrid akan tetap menyerang seperti biasanya pada laga nanti.

    Biasanya Madrid bisa memulai pertandingan dengan cepat, dengan menyerang. Sementara sebaliknya, Atlético biasanya lebih lambat.

    Namun, Simeone juga bisa mengingat bahwa Atlético benar-benar pernah mengalahkan Madrid dengan skor 4-0 di Vicente Calderón pada Februari 2015, saat Atlético mampu mencetak dua gol cepat pada 20 menit awal pertandingan. Saat itu Simeone menghadapi Madrid yang dipimpin oleh Carlo Ancelotti. Pelatih asal Italia tersebut saat itu harus kehilangan Luka Modric, Pepe, Sergio Ramos, dan Marcelo.

    Akan tetapi, hal yang sama tidak akan mudah terjadi pada Real yang dilatih oleh Zidane. Peracik taktik asal Prancis ini sebelumnya selalu mampu memecahkan masalah cedera pemainnya, ditambah juga respons taktiknya hampir selalu jitu.

    Gareth Bale masih cedera, sehingga Zidane kemungkinan besar tetap akan memainkan Isco. Pada leg pertama, Isco berperan sebagai playmaker yang bergerak ke dalam, bertindak sebagai gelandang keempat alih-alih penyerang ketiga. Ini membuat skema 4-3-3 andalan Zidane berubah menjadi 4-4-2 berlian ketika Isco bermain.

    Selain memadatkan lini tengah, ini juga mengubah operasional penyerangan Madrid, dengan Ronaldo dibiarkan terus berada di depan (tanpa kewajiban bertahan) dengan bertandem bersama Karim Benzema. Hal ini membuat Madrid menyerang dengan mengonsentrasikan kepada umpan-umpan silang menuju kotak penalti.

    Dengan cara seperti ini, Zidane pastinya mengincar gol cepat untuk mengubur harapan Atlético yang akan bermain di hadapan pendukung mereka sendiri di Calderón.

    Kemungkinan Atlético Ubah Skema

    Selama Atlético dilatih oleh Simeone, mereka sudah terkenal sebagai kesebelasan Eropa yang paling terorganisir dan paling disiplin secara taktikal. Mereka bisa melakukannya karena pendekatan Simeone yang berkonsentrasi saat Atlético bermain tanpa bola (off the ball).

    Atlético biasanya memainkan garis pertahanan rendah dan justru seperti "mengundang" lawan. Dengan bermain menyempit, mereka juga biasanya menekan secara lateral (membuat lawan terdesak ke pinggir lapangan) bukan vertikal (membuat lawan terdesak ke belakang).

    Pendekatan ini sebenarnya jitu pada leg pertama. Atlético berhasil mematikan dua full-back Real, Dani Carvajal, dan Marcelo. Kedua pemain ini adalah pemain yang paling mendukung permainan melebar Madrid.

    Namun, Zidane merespons tekanan tersebut dengan memenuhi lini tengah dan menciptakan umpan-umpan silang dan bola-bola panjang dari gelandang-gelandang mereka (terutama Toni Kroos). Hal ini lah yang tidak bisa disikapi dengan baik oleh Simeone.

    [Baca kembali: Adu Taktik, Rencana Simeone, dan Respons Tepat dari Zidane]

    Pada leg kedua nanti, Simeone bisa saja tetap menekan Madrid sambil melakukan transisi dari bertahan ke menyerang dengan baik, yaitu dengan memadatkan juga lini tengah mereka. Kira-kira, bagaimana cara Simeone melakukan ini?

    Ada beberapa cara taktikal, seperti memainkan skema tiga bek agar pemain lainnya selain ketiga bek tersebut, bisa lebih berkonsentrasi di lini tengah dan lini depan. Namun, tantangan jika Atlético akan memainkan skema tiga bek adalah sosok wing-back kanan yang akan mengeksploitasi Yannick Carrasco atau Nicolás Gaitán (keduanya biasa bermain sebagai winger) atau bahkan Koke (gelandang), karena Juanfran dan Šime Vrsaljko (keduanya adalah full-back kanan murni) masih harus absen karena cedera.

    Pada leg pertama, Lucas Hernández bermain sebagai full-back kanan, padahal posisi alaminya adalah bek tengah.

    Masalahnya, Simeone tidak bisa begitu saja mengubah skema, taktik, atau formasi yang tidak biasa. Tentunya ia bisa belajar banyak dari kegagaln skema tiga bek Monaco pada dini hari tadi (10/05) saat dikalahkan Juventus, karena Monaco belum terbiasa memainkan formasi tiga bek tersebut.

    [Baca juga: Juventus Manfaatkan Ketidaksempurnaan Skema Tiga Bek Monaco]

    Jika Simeone tidak bisa memaksimalkan kesebelasannya untuk memainkan skema tiga bek, ia melakukan cara lain, yaitu dengan mengeksploitasi kelemahan Real. Sejauh ini, Real lemah saat menghadapi umpan silang. Ini cukup ironis, mengingat Real mengandalkan umpan silang saat menyerang.

    Akan tetapi, Pepe dikabarkan sudah mulai berlatih sementara Raphaël Varane sudah bisa bermain bersama dengan Ramos serta Nacho. Dengan sudah bisa bermainnya bek-bek tengah Real tersebut, membuat skema umpan silang pun tidak akan semudah itu bisa menembus gawang Keylor Navas.

    Adu Taktik dan Lima Kunci pada Pertandingan Nanti

    Atlético bisa saja mengubah skema atau memanfaatkan kelemahan lawan (dalam hal ini adalah umpan silang). Yang jelas, mereka tidak bisa jika hanya mengandalkan skema mereka seperti biasanya, yaitu dengan bermain 4-4-2 sejajar menyempit dan mengandalkan pressing lateral untuk melakukan serangan balik.

    Mereka mungkin bisa belajar mengenai pantang menyerah dari Barcelona yang bisa bangkit untuk membalikkan ketertinggalan 0-4 saat menghadapi Paris Saint-Germain di babak 16 besar Liga Champions musim ini.

    Sementara itu, pendekatan Zidane yang (katanya) akan tetap menyerang membuat kita bisa berekspektasi lebih. Biar bagaimanapun, jika Madrid bisa mencetak gol pembuka, maka itu yang akan menjadi kunci kesuksesan mereka melaju ke final di Cardiff.

    Secara umum, kepadatan lini tengah akan menjadi kunci. Madrid melakukannya dengan memainkan 4-4-2 berlian dengan Isco sebagai gelandang ekstra, sementara Atlético bisa melakukannya dengan mengubah skema mereka. Akan tetapi, hal ini bisa saja berubah kembali (jika Atlético memadatkan lini tengah juga) dengan Zidane yang kembali memainkan permainan sayap dengan memasukkan pemain-pemain seperti Lucas Vázquez atau Marco Asensio.

    Jadi, ada lima kunci pada pertandingan dinihari nanti: mengubah skema, mengeksploitasi kelemahan lawan, pergantian pemain yang efektif, pantang menyerah, dan juga tambahan bagi Atlético, yaitu dukungan penonton karena bertindak sebagai tuan rumah.

    Meskipun Real memiliki modal kemenangan 3-0 di leg pertama yang sangat berharga, tapi adu taktik antara Simeone dan Zidane akan kembali tersajikan dinihari nanti, terutama bagaimana Simeone memulainya dan bagaimana Zidane meresponsnya. Tapi ingat, semuanya bisa saja buyar jika Real mampu mencetak gol terlebih dahulu.


    -----


    * Penulis biasa menulis soal sport science untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @dexglenniza


    (krs/mrp)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    match-analysis