Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Pratinjau AS Roma vs Juventus

    Agar Roma Tak Perlu Melihat Juventus Berpesta di Olimpico

    Randy Aprialdi S - detikSport
    Juventus vs Roma bulan Desember lalu (Foto: Valerio Pennicino/Getty Images) Juventus vs Roma bulan Desember lalu (Foto: Valerio Pennicino/Getty Images)
    Jakarta - Untuk kesekian kalinya AS Roma berada di situasi dilematis jelang akhir musim Serie-A. Musim lalu Roma mengalahkan Napoli yang artinya memastikan juara bagi rivalnya dalam perburuan Scudetto, Juventus. Kali ini Roma berada di dalam situasi yang lebih di ujung tanduk lagi. Roma akan menjamu Juventus di Stadion Olimpico, Senin (15/5/2017) dinihari WIB. Jika Roma tak menang maka kandang mereka akan jadi tempat pesta Juventus yang memastikan Scudetto.

    Roma di peringkat dua, terpaut tujuh poin dengan Juventus selaku pimpinan klasemen sementara. Jarak angka itu memang cukup sulit untuk dikejar bagi Roma yang menyisakan tiga pertandingan lagi di Serie A 2016/2017, termasuk menghadapi Juventus. Atas sisa pertandingan dan jarak, tentu Juventus tinggal selangkah lagi mendapatkan Scudetto. Tapi tentunya Roma tidak ingin melihat rivalnya itu dapat Scudetto lebih cepat, apalagi berpesta di Olimpico.

    Artinya, tidak bisa tidak bahwa kemenangan wajib diraih Roma pada laga nanti. Namun ambisi itu tidaklah mudah bagi kesebelasan berjuluk I Lupi (Si Serigala) tersebut. Tengok saja dari pemain yang disiapkan pada laga nanti. Juventus memang tidak bisa diperkuat Sami Khedira karena cedera, tapi posisinya di poros ganda pada formasi 4-2-3-1 mereka masih memiliki Claudio Marchisio untuk menemani Miralem Pjanic. Cedera Daniele Rugani dan Marko Pjaca pun tidak terlalu memberatkan karena bukan pemain utama Juventus.

    Sebaliknya Roma lebih menderita dibanding kompetitor kuatnya itu. Kevin Strootman dilarang tampil karena berhadapan dengan hukuman kartu. Hal paling krusial adalah absennya Edin Dzeko yang mendapatkan cedera jelang pertandingan nanti. Luciano Spalletti sebagai pelatih Roma harus memutar otak dan menentukan penyerang yang tepat karena Dzeko mesin gol tidak tergantikan di musim ini. Ia adalah pencetak gol terbanyak Roma dengan koleksi 27 gol. Bahkan penyerang asal Bosnia itu merupakan pencetak gol terbanyak sementara di Serie A 2016/2017.

    Agar Roma Tak Perlu Melihat Juventus Berpesta di OlimpicoPrediksi line-up Roma vs Juventus

    Jangan Biarkan Juventus Nyaman Menguasai Bola

    Sebetulnya absennya Dzeko bisa diakali dengan Spalletti seperti musim sebelumnya, yaitu menggunakan Diego Perotti sebagai penyerang palsu. Bahkan Perotti bisa lebih diandalkan melakukan pressing di lini depan Roma. Apalagi pemain asal Argentina itu memiliki mobilitas yang tinggi di lini depan. Perotti juga terbiasa membantu pertahanan Roma ketika menjalani peran sebagai penyerang sayap kiri. Mantan pemain Genoa itu berhasil melakukan 1,4 tekel bersih di setiap pertandingannya.

    Mobilitas Perotti dalam melakukan pressing akan memudahkan Roma jika ingin menerapkan garis pertahanan tinggi. Sistem pertahanan tersebut setidaknya akan cukup memberikan perlawanan menghadapi Juventus dalam beberapa pertandingan terakhir. Pertahanan garis tinggi dan pressing dimaksudkan agar Juventus tidak nyaman melakukan penguasaan bola, terutama sejak berada di lini pertahanannya. Tekanan dengan garis tinggi itu bisa membuat Juventus kesulitan memainkan umpan-umpan pendek di lini pertahanannya sendiri.

    Ketika penguasaan bola pendek dari lini belakang terhambat, maka Juventus akan melepaskan umpan panjang langsung ke depan. Biasanya, target umpan panjang Juventus diarahkan ke sisi kiri di mana terdapat Mario Mandzukic yang baik dalam duel udara maupun menahan bola. Mandzukic juga merupakan pemain paling tinggi rataan duel udara di Juventus. Dari 26 penampilannya, ia berhasil memenangkan 2,6 duel udara di setiap laganya. Mandzukic jugalah yang menjadi salah satu kunci permainan umpan-umpan panjang Juventus ketika mengalahkan AS Monaco di semifinal leg kedua Liga Champions 2016/2017.

    Tapi Mandzukic tidak akan bisa memenangi duel udara dengan mudah pada laga nanti. Hal itu karena Roma memiliki bek yang sangat kuat dalam duel udara pada diri Federico Fazio. Catatan duel udara Fazio lebih baik ketimbang Mandzukic, yaitu memenangi 3,3 duel udara dari 32 laganya. Jumlah itu merupakan yang terbanyak kedua setelah Dzeko dengan memenangkan 3,8 duel udara di setiap pertandingannya. Tapi pengawalan Fazio kepada Mandzukic bisa juga berdampak baik bagi Juventus.

    Dikatakan baik karena Fazio merupakan bek tengah bersama Antonio Rudiger atau Kostas Manolas. Pergerakan Fazio yang terlalu lebar ke kanan bisa membuat celah besar dari duetnya di lini pertahanan. Maka pemain Roma lainnya mesti sigap menutupi celah yang ditinggalkan Fazio, entah itu bek sayap kanan maupun gelandang bertahannya. Tapi biasanya yang menutupi celah di bek tengah Roma selalu dilakukan gelandang bertahannya. Hal itu karena full-back kanan yang kerap dilakoni Bruno Peres bernaluri lebih menyerang.

    Serangan Balik Juventus Bisa Lebih Berbahaya Pada Babak Dua

    Para pemain Juventus memiliki tingkat kejelian yang tinggi, terutama di lini belakangnya yang kerap mengambil bagian penguasaan bola. Gianluigi Buffon dkk. tahu kapan harus melancarkan serangan balik cepat maupun menguasai bola lebih lama. Penguasaan bola yang lama dilakukan karena menunggu momentum yang tepat untuk melancarkan serangan balik yang cepat. Apalagi lini belakang Juventus memiliki Leonardo Bonucci yang menjadi build-up serangan Juventus dari area tersebut.

    Serangan balik Juventus terjadi ketika menemukan momentum terlambatnya lawan melakukan transisi bertahan. Biasanya, area yang paling sering terlambat melakukan transisi bertahan adalah bek sayap. Maka dari itu Juventus kerap melancarkan serangan balik cepat melalui sisi lapangan. Apalagi kesebelasan berjuluk Si Nyonya Tua itu memiliki full-back cepat semacam Alex Sandro di sisi kiri. Ia bisa melakukan overlap ke sepertiga akhir lapangan ketika bola sedang ditahan Mandzukic.

    Sisi kanan Juventus pun tidak kalah cepat walau Dani Alves maupun Stephan Lichsteiner sudah berusia tua. Namun transisi menyerang mereka terbantu oleh kecepatan Juan Cuadrado. Alves maupun Lichsteiner pun memiliki umpan-umpan panjang yang mumpuni. Alves saja mampu melepaskan 3,7 umpan panjang dari setiap pertandingannya. Rataan itu merupakan yang terbesar ke enam di skuat Juventus setelah bek tengah dan kiper yang lebih sering diandalkan membangun serangan dari lini belakang.

    Mungkin pada awal-awal pertandingan, Juventus akan kesulitan menembus sayap Roma karena memiliki full-back yang cepat melakukan transisi bertahan dan menyerang. Tapi Biasanya kecepatan kedua full-back Roma itu akan menurun pada pertengahan babak kedua. Hal itu karena gelandang Roma jarang melebar ke sisi lapangan ketika menyerang maupun bertahan. Justru kedua full-back itulah yang terus dipaksa bekerja keras menyisir sisi lapangan.

    Tugas menyisir lapangan itu lebih ringan dilakukan Emerson karena penyerang sayap kirinya sering diinstruksikan turun membantu pertahanan. Sementara di sisi kanan, biasanya Mohammed Salah jarang ditugaskan turun ke belakang karena disiapkan menyambut serangan balik di depan. Maka dari itu stamina Peres lebih sering terkuras di setiap pertandingan Roma. Apalagi di areanya nantilah yang menjadi kemungkinan Juventus bisa mengeksploitasinya melalui Mandzukic dan Sandro.

    Kesimpulan

    Tidak semua kesebelasan berhasil menaklukan Juventus walau menerapkan pressing dengan garis pertahanan tinggi sekalipun. Padahal strategi itu sering menjadi antitesis dari berbagai kalangan sebagai satu-satunya strategi yang bisa mengalahkan Juventus. Tapi masalahnya adalah Massimiliano Allegri yang menjadi pelatih Juventus sering menemukan alternatif lain ketika kesebelasannya tertekan. Tapi materi pemain dan sistem permainan Roma saat ini seharusnya bisa memecahkan antitesis tersebut.

    Roma memiliki materi pemain yang cukup untuk meredam permainan Juventus, dari ketika melancarkan pressing maupun mengantisipasi serangan balik Juventus. Tapi sistem permainan Roma yang masih diragukan untuk memenangkan pertandingan ini. Apalagi faktor tanggung jawab yang besar dari sayap yang menguras energi sehingga bisa menjadi kesempatan Juventus untuk mencetak gol, terutama pada babak kedua.


    -----

    Akun Twitter penulis @Randynteng dari @panditfootball




    (krs/fem)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    match-analysis