Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Indonesia: Persib 1-0 Sriwijaya FC

    Tumpulnya Lini Depan Persib dan Kejelian Subangkit di Babak II

    - detikSport
    ANTARA/Agus Bebeng ANTARA/Agus Bebeng
    Bandung -

    Persib Bandung memetik kemenangan di laga pembuka Indonesia Super League (ISL) 2014. Meski sempat ditahan tamunya Sriwijaya FC selama 83 menit, namun gol tunggal Makan Konate pada menit 83 melalui titik putih membuat Pangeran Biru dapat mengemas tiga poin.

    Tim tamu Sriwijaya FC (SFC) memang tidak banyak memiliki kesempatan peluang jika dibandingkan dengan tuan rumah. Karena penguasaan bola 60% - 40% dikuasai oleh Persib Bandung. Meski begitu SFC juga sebenarnya masih memiliki beberapa peluang.

    Bahkan pada babak kedua Sriwijaya memiliki lebih banyak peluang dibandingkan dengan Persib, tujuh berbanding empat. Buruknya lini depan kedua tim membuat hanya ada satu gol yang tercipta sepanjang pertandingan.

    Susunan Pemain dan Formasi

    Laskar Wong Kito datang ke Bandung tidak dengan pasukan terbaik. Pelatih Subangkit harus dipusingkan dengan absennya sang kapten, Lancine Kone, yang masih tergeletak di Rumah Sakit akibat luka di tangannya.

    Tidak hanya itu beberapa anak asuh lainnya juga belum dapat tampil dengan alasan beragam. Maman Abdurahman, Firdaus Ramadhan, dan M. Hamzah masih mengalami cedera. Sedangkan Syakir Sulaiman masih terkendala masalah transfer dari klub lamanya, Persiba Balikpapan.

    Nasib hampir serupa juga dialami Persib Bandung, meski tidak separah kubu tamu. M. Ridwan, Djibril, dan Firman Utina sebelum pertandingan dikabarkan masih cedera. Meski nama yang disebutkan terakhir, ternyata masih ada di bangku cadangan dan sempat diturunkan pada pertengahan babak kedua.

    Tidak adanya sosok sentral Ridwan (Persib) dan Kone (SFC), inilah yang akhirnya membuat kedua tim bermain berbeda dibanding gelaran Inter Island Cup lalu.

    Ridwan adalah kekuatan utama dalam skema serangan sayap yang menjadi andalan Maung Bandung. Dialah pemain non-striker dengan raihan gol terbanyak di ISL musim lalu. Sedangkan Sriwijaya FC tanpa sang kapten, Lancine Kone, membuat hilangnya sosok pemimpin sekaligus ujung tombak andalan.


    Formasi awal kedua tim

    Tanpa Segitiga Andalan

    Sejak musim lalu kombinasi antara Supardi-Ridwan-Firman di sayap kanan menjadi kekuatan utama Persib dalam menyerang. Uniknya adalah ketiganya justru terbentuk sejak dalam tim lawan Sriwijaya FC, dan menjadi faktor penentu gelar juara pada tahun 2012.

    Namun di pertandingan kali ini dua orang sekaligus absen menjadi starter. Supardi terpaksa bekerja seorang diri di sisi kanan, walaupun masih ada Tantan yang rajin bergerak ke sayap kanan. Sebagai pemain yang bukan berposisi natural sebagai penyisir lapangan, Tantan memang lebih banyak berada di area kotak penalti dekat dengan striker Ferdinand Sinaga.

    Hilangnya pola ini justru menimbulkan skema baru yang memaksa para gelandang Persib menjadi lebih kreatif. Tantan, Konate, dan Atep secara bergantian mampu melakukan rotasi posisi. Sesuatu yang jarang terlihat ketika ada M. Ridwan.

    Tugas untuk mendorong bola ke depan dan penanggung jawab sektor kanan menjadi milik Supardi seorang diri. Sisi ini pula yang kemudian sebenarnya menjadi titik lemah Persib Bandung. Namun SFC gagal memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan Supardi, karena sering terlambat turun tersebut.

    Siswanto yang mengisi pos sayap kiri SFC tidak mendapat bantuan dari pemain lainnya. Akibatnya, meski dapat melakukan akselerasi ke depan, tetapi Siswanti masih sangat kesulitan masuk ke area sepertiga akhir.


    Persib yang seolah bermain dengan 3 bek, karena Supardi yang jarang turun

    Cara Kerja Gelandang Bertahan Sriwijaya FC

    Kedua tim memiliki formasi dasar yang sebernarnya sama, yaitu 4-2-3-1. Perbedaan ada pada cara kerja kedua poros ganda. Jika Persib membagi tugas Hariono bertahan dan Taufik menyerang, tidak demikian dengan SFC. Duet Mofu dan Asri Akbar terlalu fokus pada pertahanan.

    Meski Asri akhirnya harus digantikan oleh Hafit Ibrahim karena cedera pada akhir babak pertama, namun tidak ada perbedaan yang terjadi. Kondisi ini diperparah dengan ketidakmampuan gelandang bertahan ini dalam berduel dengan Konate. Bahkan ketika duel 1 lawan 2, masih dapat dilewati dengan mudah oleh Konate. Sehingga tugas untuk melakukan intersepsi atau merebut bola untuk melindungi bek menjadi tidak ada. Penguasaan bola menjadi mutlak milik Persib sepanjang pertandingan.




    Konate yang mampu memenangi duel bola melawan poros ganda SFC

    Kedua poros ganda SFC lebih banyak bermain terlalu rapat dengan para bek, membuat gelandang Persib menjadi leluasa bergerak bebas dan melakukan rotasi. Dengan skema ini formasi Sriwijaya seakan terbagi menjadi 2, pemain bertahan dan penyerang. Tidak ada penghubung yang bertugas mengalirkan bola pada keduanya.

    Mematikan Ferdinand dan Tantan

    Cara bermain SFC di atas memang membuat mereka kesulitan membangun serangan. Tapi cara ini cukup efektif untuk meredam serangan Persib begitu memasuki final-third.

    Sebagai pemain yang ditempatkan di posisi ujung tombak, Ferdinand kesulitan betul menembus pertahanan SFC yang memasang garis pertahanan yang dalam. SFC berhasil memaksa Ferdinand untuk terus membelakangi gawang yang dijaga Fauzi Toldo.

    Dari sini terlihat bahwa Ferdinand memang jauh lebih mematikan jika dibiarkan leluasa bermain melebar. Sebagai ujung tombak yang harus berkali-kali membelakangi gawang SFC, dia seringkali gagal melindungi bola yang diarahkan padanya. Berkali-kali Ferdinand kehilangan bola saat duet center-back SFC, Vali dan Maiga, memberi tekanan dari arah belakang.

    Sementara Tantan bermain baik di awal-awal pertandingan, tapi seiring berjalannya waktu performanya terus menurun. Dia kadang mampu menembus sisi kanan pertahanan SFC, tapi lambat laun anak asuh Subangkit bisa meredamnya.

    Subangkit tampak tahu bagaimana "mematikan" Tantan, maklum Tantan musim lalu bermain di SFC di bawah asuhan Subangkit. Bek kiri SFC, Erol Iba yang masuk menggantikan Jeki, mampu meredam kecepatan Tantan. Bek kiri yang sudah malang melintang di berbagai klub dan timnas ini tidak membiarkan dirinya diajak adu lari oleh Tantan dan memilih menjaga jarak dan menunggu dari kedalaman pertahanan.

    Tidak Ada Kepercayaan Tim Kepada Syamsir Alam?

    Faktor yang paling banyak mendapat sorotan dari kekalahan Sriwijaya FC adalah absennya sang kapten, Lancine Kone. Striker pengganti Syamsir Alam dianggap tidak mampu memerankan peran Kone sebagai striker tunggal dengan baik.

    Selain tidak ada striker tajam yang mampu melakukan konversi peluang menjadi gol, sepertinya SFC juga kehilangan sosok kapten sebagai pemimpin tim. Mantan pemain DC United dan CS Visse ini mendapat kritik karena jarang mendapatkan bola, posisinya dianggap seringkali tidak tepat dan tidak mau menjemput bola.

    Namun tercatat ada 3 peluang di mana posisi Syamsir seharusnya memiliki kans lebih besar membahayakan gawan I Made. Anehnya adalah para gelandang Sriwijaya FC seakan enggan untuk memberikan bola kepadanya.

    Pemain yang pernah bermain di Eropa dan sempat bergabung ke DC United tersebut bahkan sudah menunjukan gestur, berupa gerakan tangan dan teriakan meminta bola. Tidak hanya pada 3 peluang tersebut, sikap ini juga terjadi pada beberapa skema open play biasa. Dimana para pemain SFC lebih memilih memberikan bola ke belakang atau pemain lain daripada menuju Syamsir Alam.


    Bulatan merah adalah posisi Syamsir, dan hitam merupakan gerakan bola

    Entah sikap ini memang kebetulan atau memang karena sifat individualistis dari pemain Sriwijaya. Namun dari pola yang berulang sepanjang pertandingan, apakah memang ada krisis kepercayaan kepada Syamsir?

    Babak II SFC Menekan Vujovic

    Peran Vladimir Vujovic sangat sentral bagi Persib. Dia bukan hanya pemimpin di barisan belakang, tapi juga orang yang paling rajin membangun serangan dari bawah. Kehendak Djajang Nurdjaman mencari pemain bertahan yang bisa membangun serangan terlihat bisa dijawab oleh Vujovic.

    Jika pembaca jeli, sepanjang babak I, Vujovic adalah orang pertama yang membangun serangan Persib. Sangat sering pemain yang pernah 3 kali memperkuat timnas Montenegro ini naik membawa bola sampai garis tengah. Taufik atau Konate kemudian menjemput bola dari Vujovic sehingga aliran bola Persib bisa rapi sejak dari bawah. Jika kesulitan memberi umpan pendek, pemain yang sepanjang karir profesionalnya sebagai pemain bertahan ini telah mencetak 30 gol ini tak jarang memberi umpan-umpan panjang yang cukup akurat.

    Gol Tantan yang dianulir wasit pada awal babak I memperlihatkan skema serangan lewat Vujovic ini. Dia membawa bola sampai melewati garis tengah. Lalu dia mengirim umpan terobosan lambung yang langsung disambut oleh Tantan. Sayang Tantang sudah terjebak offside.

    Jika SFC bisa keluar dari tekanan pada babak II, dan berkali-kali bisa memberi ancaman pada Persib, salah satunya disebabkan karena Subangkit menginstruksikan anak buahnya untuk berani memberi tekanan pada Persib. Memang bukan high-pressing, tapi ini praktis membuat Persib kesulitan membangun serangan dari bawah.

    Tidak heran jika di babak II ini, Vujovic tidak seleluasa babak I. Jarang dia bisa merengsek sampai garis tengah. Akibatnya, jika pun ingin menginisiasi serangan, Vujovic terpaksa mengirimkan umpan-umpan lambung yang tidak efektif.

    Strategi Pergantian Pemain

    Dari 6 pergantian pemain yang dilakukan kedua tim, pergantian Firman oleh Taufik adalah pergantian yang paling signifikan dalam mempengaruhi laju permainan. Sampai batas tertentu, pergantian ini justru memudahkan SFC untuk lebih menakan Persib, terutama lewat serangan balik.

    Firman memang dimasukkan untuk meningkatkan daya dobrak Persib yang sangat bernafsu mencetak gol. Dalam skema ini, Persib bermain dengan 2 gelandang menyerang pada sosok Firman dan Konate seraya meninggalkan Hariono sendirian melindungi duet Vujovic-Jupe. Mungkin karena Firman sebenarnya belum terlalu fit, serangan Persib tidak semakin tajam. Peluang yang didapat pada babak II lebih sedikit dibanding babak I.

    SFC justru mendapat "angin segar" karena pergantian ini. Meninggalkan Hariono sendirian di depan Vujovic-Jupe, ditambah Supardi yang sibuk menyisik sisi kanan pertahanan SFC, menghasilkan lubang besar di pertahanan Persib.

    Situasi ini dieksploitasi oleh Subangkit dengan memaksimalkan skema serangan balik. Dan tiap kali SFC bisa memasuki final third, mereka selalu terlihat berbahaya. Dalam beberapa kesempatan, SFC bahkan unggul jumlah pemain di pertahanan Persib tiap kali melakukan serangan balik.


    Situasi 4 vs 3 karena Supardi dan gelandang terlambat turun

    Kesimpulan

    Kehilangan banyak pemain membuat pelatih Subangkit tidak punya banyak opsi dalam permainan. Hal ini terlihat dengan skema sepanjang pertandingan yang monoton. Apalagi dengan ditambah keluarnya dua pemain yakni Asri Akbar dan Sumardi karena cedera.

    Hasil 1-0 ini memang tidak terlalu memuaskan bagi Persib mengingat di babak I mereka harusnya bisa mencetak minimal 1 gol dari begitu banyak peluang terbuka di dalam kotak penalti. Persib bisa dikatakan mendapat “berkah” karena tangan Nabar menyentuh bola di kotak penalti dalam situasi yang sebenarnya tidak terlalu berbahaya. Walaupun harus diakui juga, SFC juga mendapat “berkah” karena harusnya Persib mendapat penalti di babak I karena salah seorang pemain bertahan SFC terlihat jelas menyentuh bola dengan tangannya di kotak penalti.

    Kemenangan ini masih menyisakan PR besar terutama di sektor depan. Banyaknya peluang yang gagal dikonversi menjadi gol menjadi bukti, buruknya penyelesaian akhir 'Maung Bandung'. Sementara dari variasi serangan yang mulai muncul pada pertandingan kali ini, memberi angin segar karena tidak lagi hanya mengandalkan duet Supardi–Ridwan.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini

    (roz/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game