Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Champions: Bayern Munich 0-4 Real Madrid

    Perubahan Taktik Pep dan Kesalahan Mendasar Bayern dalam Bertahan

    - detikSport
    REUTERS/Michael Dalder REUTERS/Michael Dalder
    Jakarta -

    "Saya menyukai penguasaan bola. Alasan mengapa kita (Bayern Munich) kalah malam ini adalah karena kita tidak mendapatkan penguasaan bola," ujar Pep Guardiola, sang arsitek Bayern Munich, setelah timnya kalah telak 0-4 dari Real Madrid di leg kedua semifinal Liga Champions, dan sang juara bertahan tersingkir.

    Pendapat Pep itu, hingga batas tertentu, ada benarnya. Pada babak pertama, seolah menyerah pada kritik yang bertubi-tubi datang, Pep mengubah gaya permainan anak-anak asuhnya. Ia meninggalkan ball possession dan memaksa Bayern bermain dengan umpan-umpan vertikal secara cepat.

    Bahkan, pada 10 menit pertama seluruh pemain Bayern nyaris tak pernah berlama-lama menguasai bola. Kecuali Arjen Robben dan Franck Ribery, seluruh pemain Bayern hampir tidak pernah memegang bola lebih dari 3 sentuhan.

    Tapi sayang, perubahan gaya bermain tersebut tak dibarengi dengan perbaikan koordinasi lini pertahanan mereka, khususnya dalam antisipasi bola mati.

    Dalam waktu 45 menit saja Real Madrid sudah menjebol gawang Manuel Neuer tiga kali, yang dua di antaranya dari bola mati. Ya, Pep bisa saja menyatakan bagaimana para kritikus salah tentang pentingnya ball possession. Tapi nyatanya Bayern kalah karena kesalahan-kesalahan mendasar dalam bertahan.

    Kondisi berbeda terjadi pada Real Madrid. Mereka datang tanpa beban, meski sang lawan pasti akan bermain kesetanan untuk mengejar defisit gol.

    Namun, kondisi tersebut tak membuat Carlo Ancelotti gugup. Don Carlo menginstruksikan anak didiknya untuk tetap disiplin menjaga pertahanan, dan sesekali menyerang lewat serangan balik, persis seperti yang dilakukan pada pertemuan pertama. Hanya saja ia kini memiliki amunisi lebih tajam karena Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale sudah pulih total.

    Terbukti, pilihan taktik pelatih asal Italia ini berhasil membuat Bayern malu bukan kepalang di depan pendukungnya sendiri.



    Tambil Beda

    Di babak pertama Bayern tampil tak seperti biasanya. Kali ini Pep menginstruksikan anak didiknya untuk tak berlama-lama menguasai bola. Hal itulah yang menjadikan permainan Bayern tadi malam begitu berbeda dengan leg pertama. Kali ini mereka mengalirkan bola dengan cepat, baik dari belakang ke depan, maupun dari kanan ke kiri.

    Pun dalam soal menyerang. Malam tadi Bayern tak melulu melakukan serangan lewat duo inverted winger mereka, Robben dan Ribery. Di babak pertama mereka lebih mengandalkan umpan terobosan untuk membongkar rapatnya barisan pertahanan Madrid. Namun sayang, variasi serangan Philip Lahm dkk. dapat dengah mudah digagalkan oleh poros ganda Madrid, Xabi Alonso dan juga Luca Modric. Keduanya sukses melakukan screening dan melindungi backfour dari serangan lawan.

    Hal inilah yang membuat Mario Madzukic seperti terisolir di depan. Bahkan, sepanjang 45 bermain, sang ujung tombak hanya mampu mencatatkan 17 sentuhan, dan hanya 1 attempt yang melenceng.

    Lazimnya, jika dalam kondisi seperti itu Thomas Mueller harus bertugas untuk membuka ruang ataupun menarik perhatian barisan belakang Madrid. Namun hal itu tak bisa dilakukan Muller karena ia pun tak bisa keluar dari penjagaan yang dilakukan Pepe.

    Begitu juga dengan Robben dan Riberry. Tak hanya Carvajal ataupun Coentrao yang harus mereka hadapi, tapi juga Bale dan Di Maria, yang rajin turun membantu pertahanan.

    Ya, inilah yang disebut dengan pertahanan yang solid, atau ketika seluruh tim bahu membahu mengorganisasi pertahanan. Center back menjadi porosnya, dan pemain lain menjaga poros tersebut agar tidak ditembus oleh lawan.

    Kerapatan barisan pertahanan Madrid inilah yang kembali membuat pemain-pemain Bayern kebingungan ketika bola berada di sepertiga lapangan akhir lawan. Meski menguasai 71% penguasaan bola di babak pertama, Bayern hanya berhasil melepaskan enam tembakan ke gawang, dan empat di antaranya dari luar kotak penalti.


    [Grafik attempts Bayern Munich babak I]

    Melihat lawannya tampil beda, Ancelotti pun menginstruksikan trio penyerang mereka, Bale-Benzema-Ronaldo, untuk melakukan high pressing. Hal ini dimaksudkan untuk mengganggu konsentrasi pemain Bayern saat membangun serangan.

    Perubahan di Babak Dua

    Di babak dua Bayern kembali memainkan gaya khasnya, yaitu mengutamakan penguasaan bola dan operan dari kaki ke kaki. Ini juga tercermin dari pergantian pemain yang dilakukan Guardiola, dengan menarik Mandzukic dan menggantinya dengan Javi Martinez. Tujuannya adalah untuk memperkuat lini tengah dan berlama-lama dengan bola.

    Untuk memanfaatkan ruang sempit di area pertahanan Madrid, Pep lalu mendorong Mueller untuk bermain sedikit ke depan dan berperan sebagai false 9. Ribery dan Robben, yang sebelumnya berkutat di area sayap, pun sedikit ditarik ke tengah untuk rapat dengan Mueller. Keduanya dan diinstruksikan untuk rajin melancarkan tembakan dari luar kotak penalti.

    Taktik ini sebenarnya memberi sedikit angin segar. Di babak kedua, Die Roten berhasil melakukan percobaan tembakan ke gawang lebih banyak dibanding babak pertama.


    [Grafik attempts Bayern Munich babak I]

    Tapi melihat lawannya kembali memainkan gaya aslinya, Ancelotti tak serta merta menginstruksikan anak didiknya untuk bertahan total. Mereka juga tetap memainkan ball possesion, dengan tetap mengandalkan serangan balik cepat.

    Serangan Balik Super Cepat

    Meski sepenuhnya bertahan, Madrid kembali mengandalkan serangan balik yang cepat. Salah satu yang membuat serangan balik El Real menjadi berbahaya adalah amunisi yang dimiliki. Apalagi jika bukan kecepatan pemainnya. Siapa yang meragukan kecepatan Ronaldo atau Bale, baik tanpa ataupun dengan bola.

    Seperti pada leg pertama, pemain Madrid dengan sabar menunggu pemain-pemain Bayern untuk naik meninggalkan posnya. Dan, ketika bola telah dikuasai Los Blancos, mereka akan mengarahkan bola ke arah Benzema yang berdiri di area sayap.

    Pemain no 9 yang berperan sebagai decoy ini pun dengan tenang menahan bola sebentar, untuk menunggu Bale dan Ronaldo naik. Oleh karenanya, semalam Madrid tampak bermain dengan skema bola-bola panjang diagonal, dari sayap kanan ke kiri dan sebaliknya.

    Dan, sebagaimana terjadi pula pada leg pertama, Bayern begitu keteteran kala menghadapi serangan balik super cepat ini. Gol ketiga Madrid yang dicetak Ronaldo adalah buktinya.

    Pada saat Bale berhasil mengintersep bola, ia lalu memberikan bola pada Di Maria dan langsung berlari ke depan, mendekati Benzema untuk meminta bola.


    [Grafik terjadinya gol ketiga Real Madrid]

    Bayern yang hanya meninggalkan duo center back, Dante dan Boateng, akhirnya keteteran. Kecepatan Bale-Ronaldo telah memaksa situasi menjadi 2 vs 3. Ketika Dante sibuk menjaga Benzema, Boateng seolah dibuat kebingungan memilih, apakah Ronaldo atau Bale yang hendak ia jaga. Hal ini juga tidak terlepas dari kurang disiplinnya dua poros ganda Bayern yang Mereka sering terlambat untuk turun, dan mengantisipasi kecepatan Bale ataupun Ronaldo.

    Lubang Besar pada Skema Bola Mati

    Pertandingan semalam adalah bukti bagaimana Bayern masih saja bermasalah dalam mengantisipasi bola-bola mati. Bagaimana tidak, dua gol yang dicetak Sergio Ramos semuanya bermula dari bola mati. Ketika menghadapi bola mati, pemain-pemain Bayern terlalu terpaku melakukan penjagaan pada Ronaldo, Bale,dan Benzema. Mereka seolah lupa bahwa Ramos ataupun Pepe juga sering naik manakala Madrid mendapat tendangan bebas, ataupun tendangan penjuru.


    [Grafis gol pertama Real Madrid]

    Pada gol pertama, jelas terlihat bahwa pemain-pemain Bayernterlalu terpaku menjaga trio lini depan Madrid. Dante sibuk menjaga Ronaldo, sementara Boateng sibuk menjaga Benzema. Lalu, ketika Ronaldo dan Dante gagal menggapai bola, Ramos yang tanpa pengawalan pun mampu dengan mudah menceploskan bola.

    Kesalahan elementer ini kembali diulangi Bayern empat menit kemudian. Ramos, yang tanpa penjagaan, kembali menjebol gawang Neuer dengan sundulan. Lagi-lagi, pemain-pemain Bayern terlalu terpaku untuk menjaga Ronaldo. Gol kedua Madrid ini juga tak lepas dari kecerdikan Ronaldo dalam menarik pemain lawan, sesaat sebelum Di Maria melepaskan umpan.



    Pesona Pepe

    Pepe memang tak mencetak gol layaknya Ramos. Tapi, sebagai centerback ia menunaikan tugasnya dengan baik. Saat Bayern mengandalkan umpan crossing, Pepe berhasil memenangi 5 dari 6 duel udara.

    Sementara itu, saat Bayern mencoba membongkar pertahanan Madrid lewat umpan terobosan, ia juga dapat membacanya dengan baik. Bek asal Portugal ini berhasil mencatatkan 12 clearence, 4 intersepsi, dan juga berhasil melakukan 4 tekel dari 5 percobaan. Pepe juga berhasil menjalankan instruksi Don Carlo untuk menutup ruang gerak Mueller. Satu lagi, ia berhasil melakukan tugas sebagai provokator, membuyarkan konsentrasi pemain-pemain lawan.

    Kesimpulan

    Demi menjawab kritik, Pep Guardiola mengubah gaya bermainnya. Sejak awal ia menginstruksikan anak didiknya untuk tak berlama-lama dengan bola. Namun, perubahan gaya permainan tersebut tak dibarengi dengan adanya perbaikan koordinasi lini belakang.

    Sama halnya dengan pertemuan pertama, Ancelotti menginstruksikan anak asuhnya untuk tetap disiplin menjaga posnya masing-masing. Mereka sengaja membiarkan pemain-pemain Bayern mengusai bola. Layaknya pertemuan pertama, serangan balik yang cepat tetap menjadi andalan.

    Namun, dengan taktik yang nyaris sama dengan pertemuan pertama ini, Ancelotti justru mampu menundukkan Bayern 4-0 di kandangnya sendiri. Tak hanya itu, Don Carlo pun sukses mengantarkan Real Madrid ke final setelah 12 tahun lamanya Los Galacticos tak pernah mencicipi aroma partai puncak Liga Champions.

    (a2s/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game