Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Champions: AS Roma 1-7 Bayern Munich

    Taktik Melebar Bayern Kuliti 'Serigala' di Olimpico

    - detikSport
    REUTERS/Alessandro Bianchi REUTERS/Alessandro Bianchi
    Jakarta -

    Kenangan buruk AS Roma kembali tercipta. Kekalahan telak 7-1 yang pernah mereka dapat dari Manchester United pada perempatfinal Liga Champions tahun 2007 terulang kembali.

    Bedanya, kali ini mereka kalah menyakitkan dengan skor 1-7 tepat di depan pendukung mereka sendiri. "Serigala" Roma terkapar tak berdaya di Stadion Olimpico, Rabu (22/10) dinihari tadi.

    Bayern Munich dengan bangga membawa pulang tiga poin dari Italia. Kemenangan itu mereka dapatkan lewat gol Arjen Robben pada menit ke-8 dan ke-30, Mario Goetze (23), Robert Lewandowski (25), tendangan penalti Thomas Mueller (36), Franck Ribery (78), dan tendangan Xherdan Shaqiri di menit ke-80.

    Kemenangan ini semakin memantapkan posisi Bayern sebagai pemuncak klasemen Grup E dengan sembilan poin. Beruntung bagi Roma, kekalahan memalukan ini masih membuat mereka berada di peringkat kedua dengan empat poin, menyusul hasil seri yang didapatkan Manchester City dan CSKA Moskow.



    Memasang Tiga Bek

    Pep Guardiola membuat kejutan dengan tidak menerapkan formasi 4-3-3, dan lebih memilih menerapkan pola 3-4-3. Di lini belakang, Pep memasang David Alaba, Jerome Boateng, dan Mehdi Benatia. Sementara itu Juan Bernat dan Phillip Lahm dipasang sebagai wingback di posisi sayap.

    Dengan komposisi ini Pep dengan mudah mengbah pola dari 4 menjadi 3 bek tanpa melakukan pergantian pemain. Pep tinggal menarik mundur Lahm ke belakang, atau mendorong Bernat sebagai fullback ke kiri dan menukar posisi Alaba ke fullback kanan – tepat berada di belakang Lahm.

    Hanya saja, dalam penerapannya terdapat cara bermain yang berbeda kala Bayern menggunakan empat bek dan tiga bek. Hal ini terlihat secara gamblang saat mereka menyerang atau bertahan.

    Di awal musim Pep sempat ketar ketir karena formasi 3-4-3 yang diusungnya tak berjalan sesuai rencana. Namun, kehadiran Xabi Alonso yang ditransfer dari Real Madrid membuat Pep memiliki sejumlah opsi skema permainan yang akan digunakan.

    Penggunaan tiga bek ini sebenarnya mengejutkan karena saat bertahan, Bayern rentan akan serangan lewat sayap. Padahal, Roma memiliki dua pemain sayap cepat: Iturbe yang baru sembuh dari cedera, dan Gervinho yang sengaja diistirahatkan untuk menghadapi Liga Champions.

    Dengan 3-4-3 pun Pep sulit memeragakan penguasaan bola atau tiki-taka seperti yang ia lakukan di Barcelona, dan di musim pertamanya bersama Bayern Munich. Namun, Pep tahu benar bahwa kekuatan Bayern ada di kedua sayap. Dengan 3-4-3 ia ingin kekuatan sayap dimaksimalkan. Syaratnya adalah Bayern bermain terbuka dan menyerang.

    Menekan Sejak Awal

    Sejak kickoff pemain Bayern langsung menekan saat bola dikuasai pemain Roma. Awalnya, Danielle De Rossi dan kolega masih mampu melawan tekanan tersebut dengan bermain tenang lewat umpan-umpan pendek. Pertandingan baru memasuki menit ke-5, kesalahan demi kesalahan mulai dilakukan Roma. Mereka pun terpancing untuk segera mengirimkan umpan lambung, yang disambut dengan jebakan offside.



    Dari grafik di atas terlihat umpan Roma didominasi mengarah ke sisi kanan penyerangan yang dihuni Gervinho. Dari 24 umpan, hanya dua yang mencapai bibir kotak penalty Bayern. Sisanya hanya bergulir di lini tengah.

    Sepanjang babak pertama, skema pressing ini dimaksimalkan Pep untuk mengeksploitasi kelemahan di lini pertahanan Roma. Ini pula yang menjadi alasan tidak berfungsinya trio gelandang De Rossi, Radja Nainggolan, dan Miralem Pjanic.

    Membiarkan Dua Sisi Tanpa Pengawalan

    Dilihat dari sisi manapun, formasi 3-4-3 Bayern pastilah akan memanfaatkan dua sisi sayap. Sayangnya hal tersebut tidak mendapat perhatian lebih dari Rudi Garcia. Biasanya, tim yang memiliki trio gelandang yang fokus mengeksploitasi lini tengah, akan menginstruksikan dua penyerang sayapnya untuk turun membantu pertahan. Trio gelandang diinstruksikan untuk menahan serangan dari lini kedua.

    Skema tersebut tak terlihat dalam pertandingan semalam. Pola melebar yang diterapkan Robben dan Mueller membuat dua pemain ini bergerak di kedua sisi bebas tak terjaga. Hal ini terjadi karena dua fullback Roma yang diisi Ashley Cole di kiri dan Vasilis Torosidis di kanan lebih merapat bersama dua bek tengah, Kostas Manolas dan Mapou Yanga-Mbiwa di dalam kotak penalti. Ini yang membuat pasokan bola untuk Robben dan Mueller begitu lancar tanpa hambatan.


    [Proses gol pertama Bayern. Terlihat bagaimana Robben mampu memanfaatkan ruang yang ada]

    Gol pertama Bayern tercipta karena kelengahan tersebut. Robben yang bebas bergerak di sisi kiri pertahanan Roma, langsung cut inside. Melihat ada celah, ia pun menendang bola langsung ke gawang Morgan De Sanctis.

    Gol ketiga pun bermula dari kelengahan lini pertahanan Roma menjaga sisi kiri yang disisir Bernat. Tidak ada satu pun pemain Roma yang berada dekat dengan Bernat. Mereka semua fokus di dalam kotak penalti menjaga Goetze, Mueller, Lewandowski dan Robben. Meski fokus di tengah, lini pertahanan Roma tak mampu mengawal Lewandowski yang bebas menyundul bola.

    Konsentrasi lini pertahanan Roma benar-benar buyar saat tak mampu menahan pergerakan Robben di sisi kanan. Gol keempat yang dicetak pemain timnas Belanda tersebut, bermula dari pergerakan Lewandowski yang tidak mampu ditahan trio gelandang Roma. Dengan bebas Lewandowski mengirimkan umpan kepada Robben yang tidak terkawal. Cole yang mestinya ada di sisi tersebut terlalu terpaku pada bola sehingga Robben bergerak bebas tak terjaga.



    Proses gol kelima Bayern mirip dengan gol ketiga. Bola diarahkan ke sisi kiri penyerangan, di mana Alaba melakukan overlap dengan menyisir sisi kotak penalti. Ia mengirimkan bola mendatar yang mengenaik tangan Manolas yang menjatuhkan diri. Wasit pun memberi hadiah penalti yang diselesaikan tuntas oleh Mueller.

    Kacaunya Lini Tengah AS Roma

    Trio gelandang Roma biasanya bermain umpan pendek dari kaki ke kaki. Mereka menginvasi lini tengah lawan dan mengontrol jalannya pertandingan. Kombinasi Nainggolan, De Rossi, dan Pjanic menjadi motor serangan Roma. Bola diarahkan kepada Totti ke tengah, untuk kemudian dipantulkan ke kedua sayap yang biasa diisi Iturbe atau Matia Destro, dan Gervinho.

    Peran dua pemain sayap ini menjadi penting karena mereka menjadi ujung tombak serangan Roma. Saat penyerang tengah mengirim umpan, mereka biasanya menusuk langsung ke gawang lawan, dan menendang bola sebagai penyelesaian akhir. Opsi lain yakni memberikan bola pada Totti atau lini kedua Roma.

    Dalam pertandingan semalam, Bayern sukses mematikan sistem kerja lini pertahanan Roma. Trio gelandang tersebut bermain tidak disiplin dan kerap kehilangan posisi. Tugas mereka dalam pertandingan ini sebenarnya untuk menghalau lini kedua Bayern. Atau setidaknya, memaksa Bayern terus-terusan mengalirkan bola ke sayap dan memberi umpan silang.

    Gol kedua Bayern terjadi karena tiga gelandang mereka tak mampu menahan pergerakan Goetze yang memberikan umpan pada Lewandowski. Menggunakan tumit, Lewandowski mengembalikan bola pada Goetze yang dengan cepat melesakkannya ke gawang Roma.

    Proses yang sama juga terjadi pada gol ketujuh Bayern. Pergerakan Rafinha di lini tengah seolah dibiarkan. Dengan bebas ia menendang bola langsung ke gawang yang ditepis De Sanctis. Shaqiri pun menuntaskan peluang dengan mencocor bola dan menutup keunggulan Bayern menjadi 7-1.

    Sulit membangun kepercayaan diri di lini tengah Roma. Terlebih pada menit ke-59 Pep menarik Lewandowski dan memasukkan Rafinha.

    Dengan hal ini Pep menggunakan empat bek yang diisi Benatia-Boateng di tengah serta Rafinha dan Bernat sebagai fullback. Posisi Alaba sengaja ditarik mengganti posisi Bernat. Tujuannya adalah menguatkan lini tengah demi menahan kecepatan Gervinho dan Iturbe.


    [kiri: passing Bayern 45 menit pertama. Kanan: passing Bayern 45 menit kedua]

    Dari grafis umpan di atas, sebenarnya tidak terlihat perubahan skema permainan yang signifikan. Pemain Bayern selalu mengirimkan umpan ke sayap yang kemudian diteruskan dengan menyisir sayap dan memberi umpan. Selalu seperti itu. Garcia tidak dengan jeli menahan pergerakan dua sisi pertahanannya sehingga Bayern terkesan bebas menguasai bola.

    Kesimpulan

    Pep membuat keputusan yang mengejutkan dengan menggunakan tiga bek sejak menit awal. Ia menginstruksikan pemainnya untuk terus menekan Roma . Hal ini berakibat buruk bagi Roma. Belum sempat menemukan skema yang tepat, pemain Roma sudah mulai melakukan kesalahan sendiri. Sejumlah umpan lambung diperagakan tanpa perhitungan. Akibatnya bola tidak menemui sasaran.

    Kekuatan Bayern di kedua sisi nyatanya tak ditutup dengan baik oleh lini pertahanan Roma. Mereka seolah membiarkan Robben dan Mueller mengeksploitasi sisi tersebut untuk memberi peluang dan menciptakan gol.

    Permainan Totti bisa dibilang tak berkembang karena tidak adanya suplai. Bola selalu dikirimkan pada Gervinho yang dianggap memiliki peluang mencetak gol yang tinggi. Baik Gervinho maupun Iturbe tidak memiliki peran dalam membantu pertahanan. Padahal, mereka dapat menjadi hambatan pertama serangan sayap Bayern sebelum mencapai area pertahanan.

    Kegagalan paling nyata tentu tidak jalannya sistem di lini tengah Roma. Mereka dimatikan oleh pressing ketat pemain Bayern dan aliran bola yang selalu menuju sayap. Padahal, motor serangan Roma ada di tiga gelandang tersebut. Dengan dimatikannya pergerakan mereka, membuat serangan Roma berakhir sia-sia. Kekalahan ini menandakan kekalahan taktik Garcia atas Pep Guardiola.


    ====

    * Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini

    (a2s/mfi)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game