Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Man Utd 3-0 Spurs

    Penguasaan Bola ala Van Gaal yang Membuahkan Tiga Poin

    - detikSport
    Getty Images/Michael Regan Getty Images/Michael Regan
    Jakarta - Pada lima pertemuan terakhir, Manchester United tidak pernah menang melawan Tottenham Hotspur. Pada lima pertemuan tersebut pertandingan berakhir tiga kali seri dan dua kali kekalahan untuk The Red Devils.

    Akan tetapi, pada pertemuan di Stadion Old Trafford semalam (Minggu, 16/3), anak asuh Louis van Gaal berhasil mempercundangi Tottenham tiga gol tanpa balas. Tiga gol yang seluruhnya tercipta di babak pertama oleh Maroune Fellaini ('9), Michael Carrick ('19) dan ditutup Wayne Rooney ('34).

    Tiga gol yang bersarang di gawang The Lilywhites gagal membuat kesebelasan yang diasuh Mauricio Pochettino menembus peringkat enam besar Liga Primer Inggris. Kini Tottenham tertahan di peringkat tujuh klasemen dengan raihan 50 poin.

    Padahal Pochettino cukup pede dengan susunan pemain awal karena hampir semua pemain andalannya bisa diturunkan tanpa kendala cedera atau hukuman. Hanya Mousa Dembele yang disimpan di bangku cadangan dan posisinya di gelandang serang kanan digantikan Andros Towsend.

    Kekuatan pemain The Lilywhites yang hampir penuh tersebut berbeda dengan situasi di United. Di kubu tuan rumah, mereka tanpa diperkuat Angel Di Maria dan Jonny Evans yang terkena hukuman kartu dan Robin Van Persie yang masih terlilit cedera.

    Absennya Van Persie membuat Rooney, dalam beberapa laga terakhir, menikmati peran alaminya sebagai penyerang pada formasi 4-1-4-1 Van Gaal. Termasuk Carrick dan Juan Mata yang juga bisa kembali ke susunan pemain. Absennya Di Maria, misalnya, menjadi berkah tersendiri bagi Mata yang akhirnya bisa kembali bermain sebagai starter.



    Permainan Menyerang United Berhasil Mengurung Tottenham

    Sejak dimulainya pertandingan, The Red Devils langsung dengan gencar melakukan serangan. Rooney dkk. konsisten terus menyerang dengan determinasi tinggi, umpan-umpan pendek yang rapi dan serangan tertata namun punya kecepatan.

    Serangan United dimotori Ander Herrera di tengah kemudian dialirkan menuju kedua sayap yang ditempati Ashley Young dan Mata. Sementara pertahanan Tottenham meladeni intensitas serangan United dengan santai dan tidak terburu-buru mengambil bola. Mereka menunggu di belakang dan tidak diinstruksikan untuk melakukan tekanan sejak dini.

    Walau begitu, upaya barisan Tottenham untuk merebut bola dari lawan ketika serangan United sudah memasuki pertahanan sendiri sangat buruk. Tidak ada satupun tekel berhasil yang dilakukan Kyle Walker, Jan Veronghen dan Eric Dier. Cuma Danny Rose satu-satunya bek yang berhasil melakukan tekel bersih yakni sebanyak tujuh kali. Sisanya nihil.



    Grafis tekel empat bek Tottenham. Hanya tujuh tekel yang dilakukan dan itu semua cuma dilakukan Danny Rose selama pertandingan. Sumber: Squawka.


    Bertahan tanpa intentistas menekan, juga buruk dalam merebut bola saat lawan sudah memasuki pertahanan sendiri, membuat anak asuh Pochettino ini terkurung di wilayah sendiri. Hampir seluruh pemain tengah pun sampai harus turun membantu pertahanan yang terus digempur United.

    Alih-alih bisa menyapu serangan di pertahanan sendiri, ketika mereka melepaskan tekanan di tengah, Spurs justru bebeapa kali melakukan kesalahan sendiri. Salah satu yang fatal adalah kesalahan Nabil Bentaleb, yang gagal mengoper bola, dan malah bisa direbut Rooney.

    Kesalahan Bentaleb dalam mengoper bola itu tidak disia-siakan Rooney untuk menjebol gawang Tottenham yang dikawal Hugo Lloris pada menit ke-34. Rooney bisa dengan mudah mengelabui tiga bek Spurs yang berjaga di kedalaman. Buruk sekali mutu pertahanan Spurs pada gol Rooney itu, juga pada seluruh waktu di laga ini.

    Pertahanan Garis Tinggi United Mematikan Serangan Tottenham

    Tottenham dibuat frustasi oleh pola pertahanan garis tinggi United. Serangan-serangan yang coba dibangun Tottenham harus lebih cepat kandas sejak di area 20 meter mereka. Akibat terus tertekan, para pemain tengah terpaksa membantu pertahanan, yang akibat lanjutannya adalah mereka kesulitan menyerang bahkan untuk melakukan serangan balik sekali pun.

    Sejak serangan mulai dibangun, Tottenham harus melewati sekat lini tengah yang dijaga Carrick yang dibantu Ander Herrera. Nama terakhir berhasil melancarkan empat tekel sukses dan tiga diantaranya berhasil dilakukan kepada Kane ujung tombak andalan Totenham.

    Ketika berhasil mengelabui Carrick dan Herrera pun, The Lilywhites tidak dengan gampang bisa menembus pertahanan United. Bek United, Chris Smalling, beberapa kali dengan cepat naik ke atas, melakukan tekanan secepat mungkin, tiap kali Spurs berhasil menembus blokade lini tengah United.



    Grafis tekel para pemain United (atas) yang tidak yang cuma sekali dilakukan di dalam kotak penalti. Grafis operan Tottenham (bawah) menunjukan tidak ada Cuma dua operan berhasil yang masuk ke kotak penalti United selama 90 menit. Sumber: Squawka

    Memainkan umpan-umpan panjang dari belakang ke depan pun terbukti sia-sia saja bagi Spurs. Sebab praktis hanya Harry Kane seorang di ujung serangan. Kane seringkali harus menghadapi dua hingga tiga pemain United tanpa mempunyai opsi lain karena rekan-rekannya kerap terlambat naik.

    Garis pertahanan tinggi United juga bekerja dengan baik. Ketika lini tengah mereka naik memberi tekanan kepada Spurs, barisan pertahanan United juga ikut naik. Tidak ada kecemasan mengenai kemungkinan Kane bisa lolos dari hadangan. Semuanya berjalan sempurna bagi United semalam, bola-bola panjang Spurs untuk Kane pun tak efektif, karena Kane bisa dijebak, setidaknya, dua kali offside.

    Kane betul-betul tidak diberikan kesempatan oleh bek United. Kurangnya suplai yang sudah kandas sejak di lapangan tengah membuatnya tak bisa memberikan ancaman. Praktis sepanjang laga ia hanya bisa membuat satu kali tembakan tepat sasaran. Satu tembakan ke gawang itu pun cuma terjadi di menit ke-89 – sangat terlambat. Dan menyedihkannya, itulah satu-satunya percobaan mencetak gol Spurs yang tepat sasaran.

    Bahkan Towsend, gelandang serang Tottenham, tidak berkutik sama sekali. Pengganti Dembele itu tidak melepaskan satu pun percobaan tendangan ke gawang, tanpa satu pun umpan kunci dan tanpa satu pun dribel sukses. Maka dari itu Towsend cuma bertahan di lapangan 31 menit karena diganti Dembele.

    Pergantian itu menjadi semakam pengakuan betapa Pochettino salah menyusun komposisi pemain dan ia ingin selekasnya memperbaiki keadaan. Itu harus dilakukan karena The Lilywhites memang mengandalkan serangan dari sisi kanan yang menjadi area yang dikuasai Towsend. Sisi yang diandalkan justru mati kutu, maka pergantian dini pun terpaksa dilakukan.

    Kombinasi Rooney dan Fellaini Kacaukan Pertahanan Tottenham

    Rooney menunjukan kelasnya sebagai penyerang United karena berhasil mengelabui pertahanan Tottenham pada laga Premier League pekan ke-29 ini saat memaksimalkan kesalahan umpan Bentaleb. Tapi peran Rooney bukan hanya mencetak satu gol, tapi apik juga memerankan diri sebagai pemantul di ujung serangan.

    Dirinya menjadi pembagi bola yang baik di lini serang United, rela lebih turun ke bawah untuk melancarkan aliran-aliran bola kepada rekan-rekannya. Akurasi operan Rooney semalam mencapai 82% dan melahirkan dua umpan kunci.

    Pemain United bernomor 10 tersebut membangun kerja sama apik dengan Fellaini. Rooney dengan Fellaini sering bertukar posisi untuk masuk ke kotak penalti Spurs. Ketika Rooney turun ke tengah maka Fellaini yang berada di kotak penalti Tottenham, begitu pun sebaliknya. Bahkan tidak jarang keduanya berada di sepertiga akhir seakan United memakai dua penyerang.



    Strategi seperti itu berhasil membuat pemain belakang Tottenham kocar-kacir. Terkadang berhasil memancing Dier atau Vertonghen keluar dari areanya dan beberapa kali terlihat keduanya tidak tahu siapa mengawal siapa.

    Terlebih baik Rooney maupun Fellaini dimanjakan oleh suplai-suplai bola dari lini tengah. Carrick memberikan umpan-umpan panjang, Herrera menjadi pembagi bola yang adil ke semua lini, begitu pun dengan Young dan Mata yang terus memberikan tekanan di kedua sisi sayap.

    Gol yang dicetak Fellaini merupakan buah hasil dari pertahanan Spurs yang kesulitan melakukan penjagaan karena cairnya pergerakan United saat menyerang. Para bek Tottenham terlalu terfokus kepada Rooney, Young dan Mata sehingga tidak menyadari kemunculan Fellaini dari lini kedua.


    Umpan terobosan yang diarahkan ke sepertiga akhir rupanya tidak diberikan kepada Rooney, melainkan Fellaini yang tidak terduga ada di sepertiga akhir dan mengkonversinya menjadi gol. Tentunya sebuah kerugian bagi Tottenham harus kebobolan ketika waktu laga baru berjalan sembilan menit berkat pergerakan Fellaini tidak terduga itu.


    Grafis peta pergerakan Fellaini selama 90 menit. Sumber:Squawka.

    Kelonggaran United yang Tidak Dimanfaatkan Totenham

    Babak pertama diakhiri dengan skor berjarak besar untuk kemenangan United dengan tiga gol tanpa balas. Usai turun minum para anak asuh Van Gaal mulai menurunkan tempo permainan menjadi lebih lambat dan santai.

    Sebaliknya Tottenham mulai bermain dengan determinasi yang tinggi. Tekanan-tekanan coba mereka lakukan, termasuk kini lebih agresif dalam upaya merebut bola dari pemain United sejak lini tengah. Terlihat Spurs ingin menebus kelonggaran yang mereka berikan pada babak pertama, dengan berusaha secepat mungkin merebut bola.

    Maka para pemain United tidak dibiarkan mengolah si kulit bundar terlalu lama dan mulai mendapatkan tekanan. Bola yang berhasil dicuri pemain Tottenham langsung digiring untuk menemukan celah pertahanan United.

    Setidaknya upaya tersebut memberikan kesempatan para anak asuh Pochettino untuk mencoba melepaskan tendangan. Dalam rentang waktu 20 menit awal babak kedua, tiga percobaan tendangan ke gawang berhasil dilakukan. Walaupun upaya menendang Dembele ('48), Ryan Mason ('54) dan Kyle Walker ('67) semuanya melenceng dan jauh dari sasaran.

    Sayangnya intensitas permainan Tottenham yang meningkat itu cuma berlaku di 20 menit awal babak kedua saja. United berhasil kembali menguasai pertandingan dalam rentang waktu menit 70 sampai menit 80an.
     
    Kesimpulan

    United menang segala-galanya atas Tottenham di Stadion Old Trafford. Dari penguasaan bola pun sudah jelas jika The Red Devils unggul dengan penguasaan 52% sedangkan Tottenham 48%. Pertandingan pun berakhir dengan kedudukan 3-0 dengan kemenangan telak United yang sanggup membuat tendangan ke arah gawang sebanyak 11 kali.

    United Superior dalam angka dan dalam realitas permainan di lapangan.

    Penguasaan bola yang dikuasai United karena determinasi serangan yang tinggi ditambah pergerakan Mata, Young, Fellaini dan Rooney sangat merepotkan Spurs. Vertonghen, dkk., kelabakan di di wilayah sendiri, disulitkan oleh pertukaran posisi yang baik antara Rooney-Fellaini dan terhambat melakukan serangan balik ke pertahanan United karena lini tengah mereka tertekan habis-habisan.

    Hasil ini, juga performa United, mungkin di luar dugaan Pochettino sendiri. Kekalahan dari Arsenal di Piala FA, yang sebagian besar disebabkan oleh kesalahan van Gaal sendiri dalam melakukan pergantian pemain, sama sekali tak mengendurkan kepercayaan diri United. Mereka tetap yakin dengan taktik penguasaan bola ala van Gaal, dan tak peduli dengan kritik banyak orang terkait banyaknya backpass yang dilakukan.

    Sebuah hasil yang menginjeksi moral bagi Rooney, dkk. Kemenangan dan performa yang memadai untuk menjemput laga super melawan Liverpool akhir pekan berikutnya.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

    (roz/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game