Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Menyadari Ruang, Menyadari Kehadiran Iniesta

    Sandy Firdaus - detikSport
    Andres Iniesta dalam kejaran pemain Sevilla. Foto: Alex Caparros/Getty Images Andres Iniesta dalam kejaran pemain Sevilla. Foto: Alex Caparros/Getty Images
    Jakarta - Menjadi pemain tengah, berarti memilih untuk berada di ruang sunyi. Pemain tengah Barcelona Andres Iniesta Lujan, yang berulang tahun ke-32 di hari ini (11/5/2017), sudah pasti paham betul.

    Pertama-tama, jangan salah paham dulu mengenai "ruang sunyi" yang saya maksud. Ya, saya tahu jika daerah tengah lapangan, daerah permainan seorang gelandang tengah, adalah daerah yang paling ramai dan paling sibuk untuk dilalui oleh bola. Tapi tujuan sepakbola yang berwujud pada gol (gawang), menjadikan sosok penyerang (si pembikin gol) dan penjaga gawang (si penggagal gol) adalah sosok yang berada di "ruang ramai".

    Sekarang kita bisa melihat pada sebuah pertunjukan teater, ibaratnya, pemain tengah adalah seorang foil character. Dalam pertunjukan ansambel macam pertunjukan teater, sendratari, ataupun band, akan ada beberapa karakter atau pemain yang tidak terlalu menonjol, tapi ada di dalam ruang-ruang tak terlihat untuk memperkuat karakter atau pemain yang menjadi karakter atau pemain utama.

    Dalam teater, peran ini dijalankan oleh seorang foil character. Karakter ini menghidupkan karakter lain dari ruang-ruang tak terlihat dalam sebuah pertunjukan. Ia memang bukan pemeran utama, tapi hidupnya karakter pemeran utama dalam pertunjukan adalah karena andil dari foil character dalam pertunjukan tersebut. Kita tahu bahwa pemeran utama berkarakter baik karena ada foil character yang berkarakter buruk, atau sebaliknya.

    Namun menjadi foil character, ataupun pemeran-pemeran ruang tak terlihat dalam sebuah pertunjukan ansambel, memiliki risiko tersendiri. Bagi pribadi yang terlihat ingin menonjol, tentunya menjadi foil character dalam sebuah pertunjukan teater ataupun menjadi pemain drum dalam sebuah band, misalnya, adalah sesuatu yang sebaiknya tidak dipilih, karena peran-peran tersebut berisiko tidak dilirik oleh orang lain.

    Tapi bagi pribadi yang mementingkan kesuksesan pertunjukan atau penampilan, mengambil peran di ruang-ruang tak terlihat seperti foil character dalam sebuah pertunjukan teater ataupun pemain drum dalam sebuah band memiliki arti yang lain. Selain karena mungkin pemalu, pribadi ini biasanya lebih mengutamakan keseimbangan dalam pertunjukan atau penampilan tersebut, walau pada akhirnya ia tahu risikonya: ia takkan mendapatkan atensi berlebih dari pihak-pihak yang menyaksikan sebuah pertunjukan atau penampilan.

    Begitu pula dalam sepakbola. Mengambil peran di ruang tak terlihat macam menjadi gelandang tengah, maka akan ada risiko yang diambil. Ia tidak akan mendapatkan exposure sebanyak penyerang yang menjadi tumpuan dengan gol yang ia cetak, ataupun menjadi penjaga gawang yang menjadi dewa pelindung dengan catatan penyelamatan menawan. Menjadi pemain tengah, berarti mengambil jalan sunyi di ruang yang gelap, tapi menjadi penghidup baik itu bagi pertahanan maupun penyerangan.

    Risiko inilah, yang dipahami betul oleh Iniesta.

    Menjadi Gelandang Tengah, Menjadi Sosok yang Terlupakan

    Iniesta lahir di Fuentealbilla, sebuah daerah di provinsi Albacete, Spanyol. Pada usia 12 tahun, orang tuanya yang memang sudah mengetahui perihal akademi La Masia di Barcelona, memindahkan Iniesta ke sana. Perjalanan karier sepakbola Iniesta, sebagaimana yang diketahui oleh banyak orang, dimulai dari akademi yang juga terhitung aktif memproduksi pemain-pemain berbakat ini.

    Walau sempat dihiasi tangisan saat ia pindah ke La Masia, seperti yang diakui oleh Iniesta dalam tulisan Sid Lowe di kolom The Guardian, akhirnya ia pun berkembang menjadi tokoh sentral di tim Barcelona muda. Ia bahkan sukses mengantarkan Barcelona U15 menjuarai Nike Premier Cup pada 1999, dan menjadi pemain terbaik pada turnamen tersebut.

    Terima kasih kepada Louis van Gaal, Iniesta masuk ke tim senior Barcelona pada musim 2005-06. Setelahnya dia mulai berkembang seiring jam terbang yang didapatkannya. Akan tetapi, posisi yang ia pilih untuk bermain dan berkembang adalah posisi yang cukup sunyi, yaitu gelandang tengah.

    Seperti halnya pemain-pemain tengah di tim lain, kesunyian pun melanda Iniesta. Dalam masa-masa jaya Barcelona ketika ditangani Pep Guardiola, ia hanya diingat lewat gol penentu yang ia cetak ke gawang Chelsea pada 2009 silam. Gol yang mengantarkan Blaugrana ke final di Roma menghadapi Manchester United. Sisanya orang hanya mengingat umpan-umpan manis yang kerap ia lesakkan kepada tridente Barcelona di lini depan, salah satunya ada Lionel Messi di dalamnya.

    Penghargaan individu pun lebih banyak mendarat ke lemari trofi pribadi Messi daripada dirinya. Ini tak lepas dari penilaian cetakan gol yang menjadi salah satu dasar penentuan pemberian gelar "Pemain Terbaik". Iniesta termasuk jarang mencetak gol bagi Barcelona. Dari 404 penampilannya bersama Barca sejak 2002 silam, total ia hanya mencatatkan 34 gol saja.

    Namun, bicara siapa yang bisa mengaktifkan Messi yang menjadi tokoh protagonis Barcelona selama beberapa tahun ke belakang, nama Iniesta tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Ia menjadi konduktor bagi Messi, juga penyerang-penyerang serta pemain-pemain Barcelona yang lain. Bahkan selepas Xavi pergi, Iniesta masih bisa menanggung beban itu sendiri.

    Ketika MSN (Messi, Luis Suarez, Neymar) menjadi pusat perhatian setelah Barca meraih treble kembali pada 2015. Sosok gelandang berambut tipis itu ada di tengah lapangan, membangkitkan trio MSN sehingga sampai meledak-ledak seperti itu lewat umpan-umpan magis yang kerap ia lesakkan. Walau pada akhirnya, ia tetap menjalani jalan sunyi karena perhatian lebih tertuju pada MSN.

    Menyadari Ruang dan Kecepatan Berpikir

    Secara fisik, Iniesta tidak dianugerahi tubuh yang kelewat kekar ataupun atletis. Ia memiliki tinggi badan 1,71 meter dan berat badan 68 kg. Beradu badan dengan para pemain tengah lain yang memiliki fisik lebih baik, Iniesta tentu akan terpelanting dan akan kalah.

    Tapi Andrés memiliki keunggulan lain yang membuatnya menjadi seorang gelandang tengah jempolan: kecepatan dalam berpikir dan kesadaran akan ruang.

    Pada laga final Liga Champions 2006, kala Barcelona dan Arsenal bersua di Paris, Frank Rijkaard sempat mengesampingkan dirinya dan memilih gelandang-gelandang bertubuh kekar dalam diri Edmilson dan Mark van Bommel. Tugas distribusi bola diserahkan kepada Deco. Barcelona pun kerepotan, sampai akhirnya kesempatan bagi Iniesta muncul saat Edmilson ditarik keluar karena cedera.

    Iniesta muda pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Rijkaard. Dengan kecepatan berpikir dan kesadaran akan ruang yang ia miliki (berkat latihan pass, receive, dan offer yang ia lakukan selama di akademi) membuatnya mampu menjadi pembeda. Umpan manis kepada Samuel Eto'o yang berujung menjadi gol adalah cermin dari kecerdasan berpikir dan juga mampunya Iniesta memanfaatkan ruang sekecil apapun.

    Dengan postur tubuh yang kecil dan fisik yang tak kelewat kekar, Iniesta masih mampu bersaing dengan gelandang tengah yang lain lewat kecepatan berpikir dan kesadarannya yang baik akan ruang. Tak perlu beradu dengan pemain lain, ia sudah bisa mendapatkan ruangnya sendiri lewat kecepatan berpikirnya. Ia sudah bisa memprediksi ke mana bola akan mengalir dan dialirkan, sehingga ia bisa langsung menciptakan ruang agar bisa menerima bola tersebut dalam keadaan bebas, tanpa harus bertabrakan atau beradu fisik dengan gelandang lain.

    Kesadaran dan kecepatannya dalam berpikir juga memungkinkannya untuk memahami pergerakan-pergerakan pemain lain, termasuk pergerakan para pemain depan.

    Bahkan sampai usianya sekarang sudah memasuki 32 tahun hari ini, kecepatan berpikir dan pemahaman Iniesta akan ruang belum berkurang. Hanya saja, kekuatan fisiknya yang perlahan-lahan sudah mulai melemah, tidak sekuat dulu lagi.

    ***
    Memilih untuk menjadi penghuni ruang sunyi di lini tengah adalah pilihan sulit. Tapi Iniesta berhasil muncul dan dikenal publik karena kecepatan berpikir dan pemahamannya akan ruang. Sekalipun pada akhirnya bisa dibilang ia hanya menjadi foil character bagi keberhasilan Barcelona dan juga tim nasional Spanyol dalam beberapa tahun terakhir, yang orang anggap merupakan andil dari Lionel Messi.

    Jika Anda memiliki waktu, cobalah untuk berkunjung ke ruang-ruang sunyi yang ada di lini tengah Barcelona dan Spanyol, terutama Barcelona. Maka Anda akan menemukan Andrés Iniesta di sana, berpikir, mengatur permainan, dan melepaskan umpan-umpan brilian kepada para pemain depan Barcelona.

    Karena dengan memahami dan menyadari ruang, maka Anda akan memahami dan menyadari kehadiran Iniesta di sepakbola.


    (rin/cas)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game