Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    St. Pauli, Cinta Sejati dari Kota Hamburg

    Randy Aprialdi S - detikSport
    Logo Tengkorak kebanggaan St Pauli (Foto: MALTE CHRISTIANS/DPA/AFP) Logo Tengkorak kebanggaan St Pauli (Foto: MALTE CHRISTIANS/DPA/AFP)
    Jakarta - Selama satu tahun ke belakang ini, salah satu lagu Black T-Shirt berjudul "Di Sini Saja" akrab didengar telinga saya. Black T-Shirt merupakan band punk asal Bandung yang sudah ada sejak medio 1990-an. Lagu berjudul "Di Sini Saja" merepresentasikan anti-kemapanan di dalam ranah kaum punk itu sendiri. Coba simak saja liriknya seperti ini:

    "Tumpuk uangmu, setinggi gunung itu, jadi terkaya sedunia.

    Aku di sini saja... aku di sini saja... aku di sini saja... aku di sini saja...

    Semoga kamu terkenal, semoga banyak penggemar, jadi idola sedunia.

    Aku di sini saja... aku di sini saja... aku di sini saja... aku di sini saja..."

    Lirik yang singkat, padat, dan jelas untuk merepresentasikan anti-kemapanan para penganut ideologi punk. Dan lagu itu rasanya cocok bagi St. Pauli sebagai fenomena kesebelasan sepakbola punk rock yang jarang terjadi di dunia ini. Lagu "Di Sini Saja" cocok untuk menjadi lagu selamat ulang tahun di Indonesia bagi St. Pauli yang hari ini, 15 Mei, menginjak 107 tahun. St. Pauli merupakan salah satu kesebelasan yang berkarier di 2. Bundesliga, divisi kedua Liga Jerman.

    Kendati berkiprah di 2. Bundesliga, St. Pauli merupakan kesebelasan yang eksentrik walau belum promosi kembali ke Bundesliga (divisi pertama Liga Jerman) sejak 2009/2010. Sejak berdiri pada 15 Mei 1910, St. Pauli pun tidak meraih prestasi yang benar-benar mentereng. Raihan terbaiknya mungkin hanya mencapai semifinal kejuaraan nasional Jerman setelah perang dunia ke II pada 1947/1948. Prestasi sepakbola terakhir yang diraih St. Pauli pun hanya menjadi runner-up 2. Bundesliga 2009/2010 yang membawa promosi ke Bundesliga 2010/2011. Ketika promosi ke Bundesliga pun cuma bertahan satu musim karena harus kembali degradasi ke 2. Bundesliga 2011/2012.

    Tapi sejatinya bahwa keberadaan St. Pauli di divisi Liga Jerman manapun, bukanlah masalah bagi klub maupun pendukungnya. Dan klubnya pun tidak pernah dituntut pendukungnya agar bisa berprestasi mentereng atau sekaya Bayern Munich, Borussia Dortmund, dan Borussia Moenchenglabdach yang sudah meraih gelar Bundesliga lebih dari lima kali. Atau bisa seperti kesebelasan-kesebelasan lainnya yang pernah berbicara di Eropa semacam SV Wender Bremen, VfB Stuttgart, VfL Wolfsburg, Bayer Leverkusen, bahkan Hamburger SV, sebagai rival satu kotanya sekali pun.

    Bagi pendukung St. Pauli, pergerakan sosial lebih penting ketimbang menjadi kesebelasan yang bergelimang uang dan prestasi. Pernjualan atribut St. Pauli oleh pihak klub maupun pendukungnya pun lebih banyak diperuntukan penggalangan dana sosial. Hasil uang tersebut disumbangkan untuk daerah-daerah kekurangan air bersih, korban perang saudara, maupun isu-isu sosial lainnya. Bahkan para pendukung St. Pauli pernah menjual atributnya untuk menolong kesebelasannya itu dari kebangkrutan pada 2003/2004 lalu.

    Sisanya, para pendukung St. Pauli hanya ingin berkumpul, meminum bir, bernyanyi, dan menonton pertandingan kesebelasannya tanpa memedulikan hasil akhir. Pernah suatu ketika St Pauli di ambang degradasi ke divisi tiga pada pada 2. Bundesliga 2014/2015, tapi para suporter di belakang gawang tetap berteriak "Forza St. Pauli!" sambil mengibarkan logo tengkorak yang mereka banggakan.

    Aksi-aksi dari dalam maupun luar lapangan, St. Pauli memang lebih menarik daripada jejak rekam prestasi kesebelasannya sendiri. Adanya kereta sosis dan bir di tribun stadion serta dua sarang lebah yang dipelihara di stadion untuk menyoroti populasi lebah madu di seluruh dunia pun sudah menjadi wacana menarik bagi kesebelasan ini. Selebihnya, hal yang lebih menarik adalah terdapat kepentingan berkomunal di St. Pauli itu sendiri. Klub ini telah menjadi wadah bagi orang-orang yang kecewa karena keserakahan dan kebohongan sepakbola modern.

    St. Pauli pun dijadikan kekuatan untuk menyebarkan fakta bahwa dakwah sosialis itu lebih penting ketimbang prestasi. Jika ditinjau dari logo tengkorak bajak laut St. Pauli pun sudah bisa menjelaskan sebuah tren pemberontakan untuk menangkal kelompok pendukung sayap kanan fasisme. Para pendukung St. Pauli memang selalu lantang menentang rasisme, seksisme, homofobia, dan fasisme, yang di mana bahwa faham-faham itu justru menjadi kultus di sebagian besar sepakbola Jerman penganut fasisme dan dianggap para pendukung St. Pauli sebagai ancaman sepakbola dunia.

    St. Pauli, Cinta Sejati dari Kota HamburgFoto: AFP PHOTO / ODD ANDERSEN

    Dan St. Pauli beserta suporternya merupakan kesebelasan pertama di Jerman yang melarang aliran sayap kanan. Pada 2006 silam, Washington Post dibuat kagum oleh para pendukung kesebelasan dari Hamburg ini. Washington Post seolah tidak percaya jika di tribun Stadion Millerntor, kandang St. Pauli, dipenuhi orang-orang yang bisa dibilang 'buangan' di Jerman, seperti punk, kelas pekerja, tunawisma, waria, dan lainnya.

    Mungkin itulah yang menjadikan St. Pauli sebagai satu-satunya kesebelasan 2. Bundesliga yang selalu mendekati 100% target penonton pertandingan kandang. Bahkan St. Pauli merupakan pemilik tiket musiman lebih banyak daripada kebanyakan kesebelasan Bundesliga. Dengan sekitar 11 juta penggemar di jerman dan lebih dari 500 kelompok resmi di seluruh dunia, St Pauli bisa dibilang salah satu klub terbesar di jerman.

    "Saya menantikan pekerjaan di St. Pauli dan bermain di depan kerumunan yang sangat besar. Saya terus memperhatikan berbagai pertandingan St Pauli dan pendukungnya selalu berada di belakang tim," jawab Marvin Ducksch ketika ditanya rela pindah dari Borussia Dortmund ke St. Pauli pada bursa transfer musim panas lalu.

    Situasi St. Pauli yang merupakan kesebelasan sosialis bukan tanpa kritik. Thomas Meggle yang merupakan mantan pemain dan pelatih St Pauli, menyayangkan bahwa kesebelasannya itu tidak memiliki sistem panduan sepakbola yang berkelanjutan, salah satunya fokus kepada bisnis. "Para pendukung yang terhormat, klub ini berdiri untuk sesuatu. Tapi sayangnya, kami juga harus profesional," imbuh Meggle.

    Keluhan Meggle sudah terbukti ketika St. Pauli sempat hampir bangkrut karena kurangnya prestasi klub untuk mendongkrak keuangan, begitu juga sebaliknya. "Ini merupakan hasil dari proses yang lambat. Klub ini terlalu terjebak dalam zona nyaman," ungkap Meggle.

    Bukan berarti St. Pauli tidak pernah menatap ke arah lebih profesional soal bisnis. Ketika klub itu promosi ke Bundesliga pada pun pernah mecoba melangkah ke arah sana. Promosinya St. Pauli ke Bundesliga membuat banyaknya aturan baru, seperti adanya beberapa pertandingan yang melarang pendukung St. Pauli mendukung langsung di kandang lawan. Aturan itu pun diprotes para pendukungnnya karena dianggap mengekang kebebasan ekspresi dan dukungan kepada St. Pauli.

    Para pendukung St. Pauli juga pernah memaksa iklan-iklan di stadion Millerntor untuk disingkirkan. Kritik utama ditujukan kepada iklan majalah Maxim yang dinilai terlalu menyinggung urusan seksisme. Promosinya St. Pauli pun membuat harga tiket dinaikan dan mendapatkan protes dari para pendukungnya. Tapi yang jelas para pendukung St. Pauli itu tidak ingin kehilangan akar sepakbola. Mereka merasa lebih baik bertahan di divisi bawah ketimbang nilai-nilai sosial di tribun harus ditukar dengan komersialisme. Lebih baik di tempat mereka berada sekarang, seperti representasi lagu Di Sini Saja.

    Presiden St. Pauli Oke Gottlich pun tetap bersikeras jika St. Pauli akan tetap menjadi klub kepedulian sosial. Ia juga menganggap kesebelasan berjuluk Buccaneers of the League (Bajak Laut dari Liga) itu mampu lebih besar tanpa sokongan dana melimpah. "Kami akan selalu mengambil sikap melawan rasisme dan homophobia. Selalu memerhatikan kaum lemah dan miskin, karena itu penting bagi kami," tegas Gottlich.

    Ya, St. Pauli mungkin akan tetap selamanya seperti ini. Keriangan mereka lebih baik seperti biasanya seperti ketika lagu "Hells Bells" dari AC/DC menggema di Stadion Millerntor. Dengan situasi seperti ini, pendukung St. Pauli tetap bisa dibilang pendukung terbaik di dunia. Di sana semua ras dan orientasi seksual bisa sama-sama menyambut semua orang untuk mendukung St. Pauli. Ketika pertandingan, mereka akan tetap kembali menyanyikan lagu "Song 2" dari Blur. Para pendukung St. Pauli pun menolak labelisasi hooligan. Tapi mereka lebih suka jika motto dukungan mereka kepada St. Pauli adalah "Echte Liebe" yang artinya cinta sejati.


    -----

    Akun Twitter penulis @Randynteng dari @panditfootball


    Baca juga:

    Bagi-Bagi 1.000 Liter Bir ke Fans Setelah Hindari Degradasi
    St Pauli: Si 'Bajak Laut' Penghasil Madu
    Tengkorak St. Pauli (Bagian 1)
    Tengkorak St. Pauli (Bagian 2)



    (krs/krs)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game