Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Ego Franscesco Totti

    Ardy Nurhadi Shufi - detikSport
    Francesco Totti (Foto: REUTERS/Giorgio Perottino) Francesco Totti (Foto: REUTERS/Giorgio Perottino)
    Jakarta - AS Roma berhasil menjaga peluang juara Serie A 2016/2017 setelah mengandaskan sang pemuncak klasemen, Juventus, dengan skor 3-1, Senin (15/5/2017) dinihari WIB. Namun bisa jadi kemenangan tersebut hanya menggagalkan Juventus berpesta di Stadion Olimpico yang merupakan kandang milik Roma. "Si Nyonya Tua" sendiri hanya membutuhkan satu kemenangan dari dua laga sisa untuk mengunci trofi juara.

    Selain masih terbukanya perebutan scudetto, yang menarik lainnya dari laga Roma menghadapi Juventus dini hari tadi adalah sebuah "insiden" di akhir pertandingan. Saat para pemain Roma sedikit merayakan kemenangan di lapangan, sang kapten sekaligus legenda mereka, Francesco Totti, tampak terburu-buru menuju ruang ganti. Pada tayangan itu pun terlihat Totti mengabaikan sang pelatih, Luciano Spalletti.




    Meski Roma menaklukkan Juventus dan menjaga asa juara, wajah Totti tampak tak menunjukkan kebahagiaannya. Ia tampak gusar. Spekulasi bermunculan, yang mayoritas berpendapat bahwa Totti kecewa hanya bermain tiga menit saja pada laga tersebut, tanpa menyentuh bola sekalipun.

    Ego Franscesco TottiPelatih Roma Luciano Spalletti dan Francesco Totti (Foto: Reuters / Max Rossi)

    Sekali lagi ini menunjukkan hubungan Totti dan Spalletti yang kurang harmonis. Hubungan tak akur keduanya inilah yang rasanya menjadi pengganjal Roma untuk bisa mengakhiri puasa gelar Serie A selama lebih dari 15 tahun.

    Totti Tak Lagi Istimewa di Mata Spalletti

    Dalam dua musim terakhir, semua orang selalu bertanya-tanya akan masa depan Totti. Totti yang sepanjang kariernya membela AS Roma ini memang sudah tidak muda lagi. Namun, hingga usianya menyentuh 40 tahun pun belum ada tanda-tanda Totti akan gantung sepatu.

    [Baca juga: Totti Sang Peter Pan: Happy Forty!]

    Totti sendiri merasa masih mampu bermain untuk Roma. Pada musim lalu, ia kecewa karena Spalletti tak memberikannya banyak menit bermain. Bahkan secara terang-terangan Totti mengakui bahwa hubungannya dengan Spalletti tidak berjalan dengan baik.

    "Saya tak bisa terus tinggal di Roma jika seperti ini," ungkap Totti pada TG1. "Saya masih merasa seperti pemain yang secara fisik masih bagus dan saya ingin bermain. Cedera saya telah berakhir dan jika kini saya tidak bermain, maka itu murni karena keputusan taktik."

    Ketika Totti merasa masih sanggup bermain, tak demikian dengan Spalletti. Lebih jauh, Totti menganggap bahwa Spalletti tak menghargainya sebagai pemain yang terus berjuang sampai titik darah penghabisan untuk Roma.

    "Untuk semua yang saya lakukan untuk kesebelasan ini, saya minta untuk lebih dihormati lagi. Bagaimana hubungan saya dengan Spalletti? Kami saling menyapa 'selamat pagi' dan 'selamat malam'. Hanya itu saja. Ia mengatakan banyak hal baik kepada media, tapi tidak di hadapan saya secara langsung. Tapi saya menghargainya sebagai pelatih."

    Komentar tersebut lantas membuat Spalletti berang. Sebagai hukuman, Spalletti pun tidak mengikutsertakan Totti saat Roma bertandang menghadapi Palermo. Dari sini, hubungan keduanya kian meruncing.

    Akhir-akhir ini, Spalletti pun semakin menunjukkan ketidaknyamanannya dalam melatih Roma karena adanya Totti. Konsentrasinya memang terbagi, di samping harus mengejar Juventus, ia juga harus menghadapi ego besar Totti untuk bermain. Bahkan, mantan pelatih Udinese ini agak menyesal kembali ke Roma karena malah disudutkan atas masa depan Totti.

    "Jika saya bisa kembali ke masa lalu, saya tidak ingin melatih di sini (Roma)," ujar Spalletti usai Roma mengalahkan AC Milan dengan skor 4-1. "Jangan buat saya menjadi penjaga Totti dengan segala sejarah dan legendanya. Saya harus mengganggapnya sebagai seorang pesepakbola. Saya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan."

    Saat itu, Spalletti geram karena ketika Roma tampil gemilang dengan membenamkan Milan, bahkan enam kemenangan tandang beruntun, ia malah diberondong pertanyaan tentang masa depan Totti. Ini yang membuatnya mulai merasa bosan.

    "Semua ini membuat saya kecewa. Kita selalu membicarakan hal yang sama. Tim ini layak mendapatkan pujian. Tapi ketimbang membahas pencapaian ini, saya dianggap tidak menghormati seorang legenda karena hanya memainkannya selama lima menit. Begitu juga jika saya tidak memainkannya, saya akan disalahkan juga," tutur Spalletti seperti yang dikutip Mediaset.

    Pandangan Spalletti terhadap Totti yang semakin menua memang telah berubah. Pada periode pertama ia melatih Roma, 2005-2009, Totti adalah pemain andalan Spalletti di lini depan. Dalam empat musim di bawah asuhan Spalletti, Totti selalu menjadi pencetak gol terbanyak kesebelasan.

    Ego Franscesco TottiFrancesco Totti dan Luciano Spalletti di tahun 2006 (Foto: AFP PHOTO / Aris Messinis)

    Kala itu, Spalletti menjadikan Totti sebagai false nine dalam formasi 4-2-3-1. Total 82 gol diciptakan Totti di bawah asuhan Spalletti dalam 146 penampilan di segala ajang. Ketika itu, Roma pun tiga musim menempati peringkat kedua, sebelum akhirnya menempati peringkat enam (2008/2009) dan Spalletti mengundurkan diri.

    Tapi ketika Spalletti ditunjuk kembali menjadi pelatih Roma menggantikan Rudi Garcia pada Januari 2016 lalu, Totti mulai dilupakan Spalletti. Apalagi ketika Spalletti datang, Totti baru sembuh dari cedera yang membuatnya harus menepi selama tiga bulan. Ketika Totti merasa sudah pulih, Spalletti lebih banyak memasukkannya sebagai pemain pengganti, bahkan hingga saat ini.

    Dalam dua musim terakhir (2015-2017), tercatat hanya tujuh kali Totti bermain sejak menit pertama, tiga di Serie A dan empat di Liga Europa UEFA. Sisanya, 30 kali ia dimainkan sebagai pemain pengganti. Hanya 1114 menit total menit bermain Totti dalam dua tahun terakhir, yang jika dirata-ratakan Totti hanya bermain 12 menit per pertandingan. Padahal saat Roma ditangani Rudi Garcia pada musim 2014/2015, Totti mencatatkan 2267 menit bermain dalam satu musim, 31 kali bermain sebagai starter.

    Roma Memang Sudah Harus Move On dari Totti

    Sebenarnya yang dilakukan Spalletti ketika hanya memberikan menit bermain yang sedikit tidak sepenuhnya salah. Hal itu memang akan melukai hati Totti, hanya saja jika melihat Roma saat ini, tampaknya memang sudah tidak ada tempat untuk sang pangeran Roma ini.

    Dalam formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3, Roma bermain sangat cepat. Di lini depan, kesebelasan berjuluk Il Lupi ini memiliki Mohamed Salah, Stephan El Shaarawy, dan Diego Perotti. Para pemain sayap ini memiliki kecepatan yang bisa menjadi senjata andalan Roma. Tota 36 gol dan 21 assist diciptakan ketiganya.

    Ego Franscesco TottiPenyerang AS Roma Edin Dzeko (Foto: Getty Images/Paolo Bruno)

    Assist-assist-nya tersebut memanjakan Edin Dzeko yang kini menjadi ujung tombak Roma. Penyerang asal Bosnia & Herzegovina ini bahkan makin nyetel dengan kecepatan dan kemampuan para pemain sayap Roma yang cepat ini. Saat ini, mantan penyerang Manchester City tersebut menjadi pencetak gol terbanyak Serie A dengan 27 gol, unggul dua gol dari Andrea Belotti (Torino) dan Dries Mertens (Napoli).

    Spalletti tentu tak bisa begitu saja menggeser Dzeko di lini depan untuk memberikan tempat pada Totti. Dzeko punya kemampuan duel udara yang tidak dimiliki Totti. Dzeko juga bisa menjadi penyelesai akhir ideal bagi serangan sayap AS Roma. Di lini tengah pun Totti yang semakin melamban kemungkinan hanya akan memberikan pekerjaan tambahan pada gelandang-gelandang Roma, apalagi masih adanya Daniele De Rossi yang juga tidak unggul dalam kecepatan.

    Di tengah, Roma lebih membutuhkan Radja Nainggolan sebagai gelandang serang karena agresivitas dan kelincahannya dalam membantu serangan maupun pertahanan.

    Maka sudah sewajarnya Roma harus move on dari Totti. Totti harus sadar bahwa Roma saat ini sudah tampil cukup impresif walau tanpa dirinya di lapangan. Ia harus lebih legawa menerima kenyataan bahwa usianya yang sudah tak muda lagi tak bisa mengimbangi permainan Roma dengan para pemain pelari cepat. Spalletti tentu tahu bahwa Totti sekarang bukan Totti 10 tahun lalu yang ia tangani.

    Manajemen Roma sendiri tampaknya setuju dengan Spalletti. Ketika memperkenalkan Direktur Olahraga baru yang direkrut dari Sevilla, Ramon Rodrigo Vedrejo alias Monchi, Totti disebut-sebut sudah ditawari kontrak enam tahun sebagai Direktur Kesebelasan.

    Namun kemudian, Totti menyatakan bahwa dirinya belum ingin membicarakan masa depannya sampai musim ini berakhir. Di saat bersamaan, Spalletti pun menolak tawaran perpanjangan kontrak dengan Roma. Kontrak Spalletti bersama Roma akan berakhir pada Juni nanti. Karenanya, santer diberitakan Spalletti akan melatih Internazionale Milan yang belum lama ini merekrut mantan Direktur Olahraga Roma, Walter Sabatini.

    Bisa jadi, masa depan Totti di Roma tergantung pada siapa yang akan menjadi pelatih Roma musim depan. Selanjutnya, Totti akan melihat apakah dengan pelatih baru Roma nanti peluangnya untuk bermain masih ada atau tidak. Jika Spalletti ternyata di luar dugaan membawa Roma juara musim ini, bukan tidak mungkin Totti akan meninggalkan Roma dan Spalletti memperpanjang kontraknya dengan Roma.

    Tapi bagaimana pun, Totti harus sadar bahwa Roma saat ini sudah berada di jalur yang benar meski dirinya tak lagi menjadi pemain utama. Karena jika tidak demikian, setiap pelatih yang menukangi Roma akan mendapatkan masalah tambahan sepanjang musim seperti yang dialami Spalletti, selain harus memikirkan bagaimana caranya mengakhiri dominasi Juventus, ia juga harus menghadapi ego Francesco Totti.

    Selain ujian untuk pelatih, bukan hanya Spalletti, kadang di momen-momen seperti ini juga-lah Totti mendapatkan ujian, apakah ia harus mengedepankan ego dirinya atau kecintaannya kepada Roma.




    -----

    *penulis adalah editor di situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @ardynshufi.



    (krs/rin)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    pandit