Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Keputusan MU untuk Fokus ke Liga Europa Belum Tentu Tepat

    Mayda Ersa Pratama, Dex Glenniza - detikSport
    Jose Mourinho dan pemain MU di Liga Europa (Foto: David Ramos/Getty Images) Jose Mourinho dan pemain MU di Liga Europa (Foto: David Ramos/Getty Images)
    Jakarta - Sejak kalah 1-4 dari tuan rumah Chelsea pada 23 Oktober 2016 di Premier League Inggris, Manchester United sempat tak terkalahkan di liga sampai akhirnya mereka tunduk dari tuan rumah Arsenal (0-2 pada 7 Mei 2017) dan tuan rumah Tottenham Hotspur (1-2 pada 14 Mei 2017).

    Dari 23 Oktober tahun lalu sampai 7 Mei tahun ini tersebut adalah rentetan 25 pertandingan tak terkalahkan bagi skuat asuhan José Mourinho di Premier League.

    Namun, catatan tersebut seolah tidak terlalu menjadi momen yang baik bagi United karena mereka hanya mampu memenangi setengah dari seluruh pertandingan tersebut, sementara setengahnya lagi, tepatnya 12 pertandingan, berakhir imbang.

    Kebanyakan imbang ini yang membuat Mourinho mendapatkan julukan "The Special One Point" alias "Si Spesialis Satu Poin", merujuk imbang yang menghasilkan satu poin di klasemen. Sehingga tidak heran mereka dipastikan gagal mengakhiri musim di posisi empat besar.

    Kepastian tersebut didapatkan setelah MU dikalahkan oleh Spurs. Pertandingan yang menjadi laga terakhir White Hart Lane tersebut membuat United hanya bisa finis antara peringkat lima atau enam. Sementara untuk Spurs, kemenangan tersebut memantapkan mereka pada posisi kedua sampai akhir musim, di bawah sang juara, Chelsea.

    Pragmatis atau Realistis?

    Jauh sebelum United dikalahkan Arsenal dan Spurs, dan jauh sebelum United lolos ke final Liga Europa, Mourinho sudah menyatakan dilematismenya untuk berkonsentrasi di Premier League atau Liga Europa. Maklum, karena gelar juara Premier League sudah jauh dari jangkauan, ia tetap menginginkan kesebelasannya untuk lolos ke Liga Champions musim depan.

    Untuk lolos ke Liga Champions musim depan, berarti ia harus membawa kesebelasannya menduduki setidaknya peringkat keempat di klasemen akhir Premier League. Sementara hal tersebut menjadi target (yang seharusnya) minimal bagi kesebelasan sekelas United, ada cara lain untuk lolos ke Liga Champions, yaitu dengan menjuarai Liga Europa.

    Sebelumnya pada akhir Februari, sebenarnya Mourinho sudah berhasil memberikan gelar juara Piala Liga Inggris (EFL Cup) bagi "Setan Merah" setelah berhasil mengalahkan Southampton dengan skor 3-2 di final.

    Dengan menjuarai Piala Liga, United sebenarnya sudah mendapatkan jatah lolos ke Liga Europa andaikan mereka menduduki peringkat yang buruk sekalipun di liga, bahkan termasuk jika terdegradasi juga.

    Waktu terus berjalan sampai akhirnya United berhasil mengalahkan Celta de Vigo di semifinal Liga Europa. "[Lolos ke final Liga Europa] artinya sebuah kesempatan untuk memenangkan sebuah trofi, artinya sebuah kesempatan untuk kembali ke Liga Champions, artinya sebuah kesempatan untuk mengakhiri musim dengan cara yang sempurna, karena final [Liga Europa] adalah pertandingan terakhir di musim ini," kata Mourinho pada konferensi pers usai semifinal leg kedua melawan Celta tersebut.

    "Pertandingan [semifinal Liga Europa melawan Celta de Vigo] ini memang bukan pertandingan terpenting sepanjang sejarah kesebelasan ini, sepanjang sejarah [karier] aku. Namun ini hanyalah sebuah cara untuk mewujudkannya (lolos ke Liga Champions)."

    Di saat United tinggal satu pertandingan lagi menuju Liga Champions via juara Liga Europa, mereka ternyata masih harus memainkan dua pertandingan Premier League lagi. Dengan kekalahan atas Spurs yang membuat mereka dipastikan tidak bisa finis di posisi empat besar, ini artinya kita sudah tahu si realis Mourinho akan sepragmatis apa ke depannya.

    MU: Kesebelasan Tersibuk di Eropa

    Kita tidak bisa berbohong jika mengambil risiko adalah bagian dari kehidupan. Begitu juga dengan memilih antara finis empat besar di Premier League atau menjuarai Liga Europa, karena ganjaran dari keduanya adalah sama: lolos ke Liga Champions musim depan.

    Bagi pendukung "Setan Merah", mereka tentunya ingin agar United bisa finis empat besar sekaligus menjuarai Liga Europa. Hal ini dinilai lebih aman mengingat tidak akan ada risiko besar jika salah satunya gagal.

    Namun, Mourinho terus menyuarakan problematikanya. Ia menganggap bahwa rentetan pertandingan United terlalu sibuk, banyak pemain juga yang harus absen dan cedera, sehingga membuatnya harus memilih memprioritaskan salah satu antara Premier League atau Liga Europa.

    "Ketika orang mengatakan kami berjudi dengan fokus ke Liga Europa, sesungguhnya tidak. Kamu memang tidak bisa bermain dalam dua kompetisi besar dengan 15 pemain," kata Mourinho, dikutip dari Daily Mail. "Saat ini, Premier League bukanlah pertandingan yang ingin kami mainkan."

    Keputusan MU untuk Fokus ke Liga Europa Belum Tentu TepatKesibukan beberapa kesebelasan di Premier League, serta finalis Liga Champions dan Liga Europa – Oleh: Mayda Ersa Pratama

    Mari kita lihat faktanya. Selama April sampai akhir musim (dalam hal ini adalah 24 Mei saat final Liga Europa), United harus memainkan 16 pertandingan. Itu artinya ada satu pertandingan setiap 3,75 hari bagi United. Kemudian dengan modal 15 pemain, seperti yang Mourinho ucapkan, tentunya hal ini sangat sulit bagi United.

    Sekarang mari kita bandingkan dengan Chelsea yang sudah dipastikan menjuarai Premier League. The Blues hanya memainkan 12 pertandingan dalam rentang waktu awal April sampai final Piala FA melawan Arsenal (27 Mei), atau sekitar satu pertandingan setiap 4,75 hari.

    Kemudian seluruh pesaing United di Premier League hampir tidak ada yang memiliki jadwal sepadat United. Misalnya Spurs (satu pertandingan setiap 4,63 hari), Liverpool (setiap 5,67 hari), Manchester City (setiap 4,54 hari), dan Arsenal (setiap 4,30 hari).

    Kemudian dua finalis Liga Champions, Real Madrid dan Juventus, sama-sama memiliki rata-rata satu pertandingan setiap 3,93 hari. Rata-rata pertandingan Madrid dan Juventus ini termasuk yang sangat sibuk, tapi memang tidak sesibuk United.

    Masalahnya, kita mungkin akan mewajarkan Madrid yang bisa saja meraih gelar La Liga Spanyol dan Liga Champions, serta Juventus yang bahkan bisa meraih treble (Serie A Italia, Coppa Italia, dan Liga Champions).

    Sementara lawan United di final nanti, Ajax Amsterdam, hanya memainkan rata-rata satu pertandingan setiap 4,42 hari sehingga memiliki waktu istirahat yang lebih panjang dibandingkan dengan United.

    "Ajax sudah memikirkan final. Liga mereka (Eredivisie) selesai pada Hari Minggu (14/05), dan mereka akan memiliki 10 hari untuk menyiapkan final. Sementara kami memiliki tiga pertandingan Premier League di depan," kata Mourinho setelah pertandingan melawan Celta tersebut.

    "Semoga saja Crystal Palace tidak membutuhkan pertandingan terakhir mereka [untuk lolos dari degradasi], karena pada pertandingan terakhir aku akan melakukan banyak sekali perubahan. Tidak peduli apapun yang terjadi, dan tidak seorang pun bisa menyalahkan kami, karena kami akan bermain di final tiga hari setelahnya," tutupnya.

    Kutipan tersebut ia ucapkan sebelum Palace berhasil memenangkan pertandingan melawan Hull City yang membuat Palace dipastikan bertahan di Premier League, sementara Hull terdegradasi ke Divisi Championship bersama dengan Middlesbrough dan Sunderland.

    Tepat atau Tidaknya Keputusan Mourinho Akan Ditentukan 24 Mei Nanti

    Seperti tujuan sepakbola untuk mencetak gol dan memenangi pertandingan, kita bisa memainkan berbagai cara bahkan tidak harus dengan sepakbola menyerang, sepakbola bertahan (parkir bus) juga bisa membuat kita memenangkan pertandingan dan kompetisi.

    Begitu juga bagi Mourinho, untuk lolos ke Liga Champions musim depan, ia bisa memilih antara finis di empat besar Premier League atau mejuarai Liga Europa.

    Kemudian ketika finis empat besar sudah tidak memungkinkan secara matematis, maka ia hanya tinggal menggantungkan harapan untuk mengalahkan Ajax di final Liga Europa 24 Mei mendatang (atau 25 Mei dinihari WIB).

    Kita mungkin akan bertanya-tanya, sembari menakut-nakuti Mourinho untuk gagal mengalahkan Ajax. Tapi menurut saya, jika memang harus memilih salah satu (artinya tidak bisa fokus di keduanya), pilihan Mourinho untuk fokus di Liga Europa merupakan pilihan yang bijaksana.

    Dengan finis di peringkat keempat misalnya, United masih harus memainkan lebih banyak pertandingan di Premier League (tandang ke Spurs yang ternyata kalah, tandang ke Southampton, dan menjamu Palace) sekaligus sambil berharap kesebelasan rival mereka seperti Liverpool, City, dan Arsenal tidak mendapatkan hasil maksimal.

    Selain itu, kalaupun sudah berada di peringkat keempat di klasemen akhir musim ini, mereka masih harus memainkan pertandingan dua leg kualifikasi play-off league route di Liga Champions musim depan sebelum dipastikan lolos ke babak fase grup Liga Champions. Sungguh perjalanan yang panjang.

    Namun dengan menjuarai Liga Europa, maka United hanya tinggal satu pertandingan lagi saja untuk lolos langsung ke fase grup Liga Champions musim depan jika mereka berhasil juara. Tentunya ini lebih efisien dan sejujurnya lebih masuk akal.

    Beberapa orang yang mempertanyakan apakah United lantas bisa menjuarai Liga Europa sebenarnya juga bisa kita balik pertanyaannya: Memang kalau United fokus di Premier League, mereka pasti akan finis di empat besar?

    Namun, patut diakui juga dengan bermain di dua pertandingan terakhir tanpa passion seperti kalah melawan Arsenal pekan lalu dan Spurs semalam, ini bisa menjadi hal yang sangat mengecewakan bagi para suporter.

    Belum lagi jika kita percaya momentum, United akan kehilangan momentum dengan bermain tidak serius di dua pertandingan terakhir Premier League mereka sebelum kemudian harus bermain di final Liga Europa.

    Untuk mengembalikan momentum ini, Mourinho, sepragmatis apapun dirinya, seharusnya sudah tahu jika setidaknya saat melawan Southampton di tengah pekan ini, ia memainkan pemain-pemain terbaiknya untuk menciptakan ritme atau irama permainan yang positif karena tengah pekan ini adalah satu pekan sebelum final melawan Ajax.

    Sementara saat menghadapi Palace di pekan terakhir Premier League, atau tiga hari menjelang final Liga Europa, baru ia bisa memainkan pemain-pemain cadangan. Apalagi Palace juga sudah dipastikan lolos dari degradasi sehingga pertandingan tidak akan menentukan apa-apa bagi kedua kesebelasan.

    Setelah kalah melawan Spurs di akhir pekan lalu, itu berarti United hanya berhasil menang sekali dan kalah dua kali dari 6 pertandingan terakhir mereka, dan Mourinho-pun berkata: "Itu oke-oke saja untukku."

    Ya, tapi itu tidak akan oke-oke saja jika United tidak berhasil mengalahkan Ajax.


    ----

    Akun Twitter penulis, @dexglenniza dan @maydapratama, dari @panditfootball


    (krs/krs)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    pandit