Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Football Without Oknum is Nothing

    - detikSport
    Ilustrasi: AFP/Giuseppe Cacace Ilustrasi: AFP/Giuseppe Cacace
    Jakarta - Untuk setiap aib memalukan yang tidak mungkin diakui, bahasa Indonesia menyediakan jalan ke luar yang menyebalkan: oknum.

    Tidak ada yang salah sebenarnya dengan kata "oknum". Muncul dari tradisi Katolik, kata ini mulanya adalah kata ganti untuk menyebut Tuhan yang merupakan trinitas Bapak, Anak dan Roh Kudus. Entah bagaimana ceritanya, kata "oknum" ini lantas dilekati arti tambahan yang – menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia—berarti "orang atau anasir (dengan arti yang kurang baik)".

    Sebagai konsekuensi dari pengertian bahwa "oknum" adalah "orang atau salah satu bagian yang menyimpang dari suatu unit keseluruhan", maka kata "oknum" digunakan untuk menghindarkan keseluruhan, katakanlah sebuah sistem, dari aib penyimpangan yang dilakukan "si oknum". Dengan demikian, "oknum" adalah pengakuan sekaligus penyangkalan – seperti menelan tapi kemudian meludahkannya kembali.

    Dalam kalimat yang sederhana, penggunaan kata "oknum" bisalah digambarkan begini: "Memang ada yang menyimpang [pengakuan], tapi itu tak menggambarkan keseluruhan [penyangkalan], jadi itu bukan kami yang sebenarnya."

    Menyodorkan "oknum" sebagai kambing hitam adalah cara sebuah sistem untuk menyelamatkan dan melanggengkan dirinya sendiri. Ini cermin cara berpikir konservatif yang anti-perbaikan internal. Pendeknya: cara berpikir rezim yang anti-kritik.

    Mulanya, penggunaan kata "oknum" lahir dari birokrasi yang koruptif. Di era Orde Baru, kata "oknum" bertebaran di mana-mana tiap kali ada kejadian memalukan yang melibatkan personil dalam birokrasi pemerintah, baik sipil maupun militer. Seiring waktu, masyarakat akhirnya ikut-ikutan menggunakan logika "oknum" ala negara koruptif ini. Partai politik, LSM, sampai ormas ikut-ikutan terjangkiti penyakit "oknum" ini.

    Dan, akhirnya, sepakbola pun terjangkiti penyakit menyebalkan satu ini.

    **



    Dalam hal sepakbola di Indonesia, kata "oknum" sangat sering digunakan tiap kali terjadi kerusuhan, kekerasan, atau kerusakan yang dilakukan oleh suporter. Dan dalam kasus di dunia sepakbola ini, peng-oknum-an yang kerap dilemparkan kepada suporter ini mencerminkan keunikan posisi suporter.

    Suporter adalah bagian tak terpisahkan dari sepakbola, tapi suporter bukan elemen utama sepakbola. Dia melekat ke dalam sepakbola, tapi bukan bagian inheren dari permainan ini.

    Ada adagium klasik di kalangan suporter: "football without fans is nothing". Adagium ini, bagi saya, mencerminkan upaya sangat keras dari suporter untuk tetap diakui sebagai bagian inheren dari permainan ini. Mau disangkal dengan cara apa pun juga, tetap saja tak bisa menghapus fakta sangat sederhana: sepakbola lahir lebih dulu, barulah kemudian lahir suporter.

    Para suporter akan dengan gigih mengatakan bahwa adalah hak suporter untuk bisa menonton kesebelasan kesayangannya bertanding. Tentu saja itu benar. Tapi, perlu dicatat, hak itu melekat pada subyek. Tanpa subyek, tidak ada hak. Sebagai subyek, suporter itu lahir karena sepakbola.

    Itulah sebabnya para suporter marah jika mereka dilarang menonton kesebelasan kesayangannya bertanding. Kemarahan para suporter tiap kali kesebelasannya dihukum bertanding tanpa suporter, yang seringkali direspons dengan melemparkan adagium "football without fans is nothing", sebenarnya adalah kemarahan yang disebabkan ancaman eksistensial hilangnya diri mereka sendiri.

    Apalah artinya suporter tanpa sepakbola? Fans without football is nothing. Sementara sepakbola tetap saja sepakbola walaupun tanpa suporter. "The thing we call a rose would smell just as sweet if we called it by any other name," kata Shakespeare.

    ***

    Posisi suporter di hadapan permainan sepakbola seperti itulah yang membuat peng-oknum-an suporter oleh pengurus firm atau pengurus klubnya berbeda dengan peng-oknum-an seorang sersan oleh instansi militernya. Sampai batas tertentu, peng-oknum-an suporter memang berbeda konsekuensinya dengan peng-oknum-an seorang pegawai pemerintah oleh instansinya.

    Suatu praktik yang lazim jika seorang agen ganda tidak akan mendapat perlindungan dari negara yang mempekerjakannya jika tertangkap basah oleh negara lain. Itu sudah risiko pekerjaannya. Dan agen ganda itu, atau seorang sersan yang di-oknum-kan instansi militernya, toh menerima banyak benefit sebelumnya, menerima gaji dan penghasilan.

    Tapi suporter tidak digaji oleh klub. Suporter yang justru jadi salah satu faktor penting yang menghidupi klub, manajemen, pemain bahkan sampai batas tertentu firm suporter yang menaunginya. Suporter melakukan itu dengan membeli tiket pertandingan, membeli jersey dan merchandise, atau membayar uang pendaftaran, membayar uang transportasi untuk ikut rombongan saat away-day, dan lain-lain.

    Selain mencerminkan cara berpikir anti-kritik seperti yang sudah saya kemukakan di bagian awal esai ini, peng-oknum-an suporter bagi saya adalah sebuah cerita sedih tentang bagaimana suporter itu dirangkul dan dihisap duitnya tapi kemudian disangkal atau bahkan dihinakan oleh klub kesayangannya dan firm yang menaunginya.

    Dalam kondisi normal, klub berusaha sekuatnya merangkul dan membujuk suporter untuk membeli tiket, jersey dan merchandise -- sementara firm suporter juga membujuk untuk bergabung, membayar uang pendaftaran untuk mendapatkan kartu anggota, membeli tiket pertandingan melalui pengurus firm, dll. Dalam kondisi abnormal, ketika suporter itu ternyata melakukan perbuatan yang memalukan, bujuk rayu itu diganti dengan penyangkalan: "Itu bukan kami, itu oknum."

    Duet penulis buku Jumpers for Goalposts, Rob Smyth dan Georgina Turner, punya satire yang bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena hubungan antara suporter dengan klub dan peng-oknum-an suporter oleh klub dan firm-nya. Kata dua penulis itu, inilah "pernikahan tanpa cinta… dengan para fans yang telah menjadi, untuk pertama dan terakhir, tak lebih dari pendapatan."

    Inilah sepakbola Indonesia, sepakbola yang penuh dengan oknum. Setiap kali ada kasus, oknum selalu jadi kambing hitam. Dalam kasus Indonesia, bisalah dikatakan: Football without oknum is nothing.


    ===

    * Akun twitter penulis: @zenrs dari @panditfootball




    (cas/a2s)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game