Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    100 Tahun Bill Shankly (Bagian 2)

    Diasingkan, Mati, dan Bangkit Kembali

    Vetricia Wizach - detikSport
    Getty Images/Alex Livesey Getty Images/Alex Livesey
    Jakarta -

    Setan itu terletak pada detail. Detail adalah kunci memenangi pertandingan. Strategi besar bisa saja rontok oleh kebetulan kecil atau kebodohan sepele. Orang yang bertarung dalam hal-hal konkret, memang tak bisa mengandalkan kutipan atau konsep-konsep agung.

    Begitu juga Shankly. Meski akrab dengan kata-kata dan kalimat "besar", kesuksesan yang dibawanya ke Liverpool datang dari repetisi hal-hal kecil. Karena, mengutip Jonathan Wilson, sepakbola memang masalah pengulangan. Satu sesi latihan lagi. Satu perdebatan lagi. Satu sesi wawancara lagi. Satu gol lagi. Satu pertandingan lagi. Satu musim lagi.
     
    Dan ketahanan terhadap repetisi ini, untuk tidak jadi lalai dan menurunkan standar kedetailannya, dari musim ke musim selama 15 tahun, itulah yang jadi keunggulan Shankly. Di bawah Shankly, Liverpool juga mulai mengubah permainannya, dari semula bergaya Inggris menjadi khas Eropa daratan. "Pass and move", gaya yang kemudian jadi dasar permainan Liverpool di masa kejayaannya, juga mulai dikenalkan oleh Shankly.

    Tapi bukan berarti Liverpool bermain dengan cara yang cantik. Perulangan yang dibuat Shankly di latihan berarti tim yang bermain dengan cara metodikal. Semuanya terencana. Tim cadangan akan bermain dengan gaya yang sama dengan tim utama. Pertandingan pun dimenangi dengan skor tipis, dan kadang membosankan. Maka banyak yang mengatakan jika Liverpool di bawah Shankly terlalu mekanikal dan tertebak cara bermainnya.

    Hal ini diamini oleh Shankly sendiri. "Orang bilang kami tertebak. Well, saya pikir orang yang tidak tertebak hanya buang-buang waktu saja. Joe Louis (seorang petinju) juga gampang ditebak. Ia akan membuat KO lawannya. Kami (Liverpool) juga tertebak. Tapi lawan tidak dapat menghentikan kami," ujarnya.

    Satu hal yang mendorong Shankly untuk bisa bertahan dari tekanan atas repetisi ini adalah obsesinya akan sepakbola.

    "Keseharian Shankly dipenuhi oleh sepakbola. Jika tidak sedang menonton sepakbola, maka ia akan membicarakannya. Bahkan, saat makan siang pun, meja dan benda-benda di atasnya akan jadi lapangan bola, dan dia akan mulai memindahkan benda-benda. Shankly tak mungkin mengeluarkan sepakbola dari pikirannya," ujar Karen Gill, cucunya.

    Setiap libur musim datang, saat tidak ada pertandingan sepakbola, Shankly akan merasa depresi. Di masa-masa inilah acap kali ia mendatangi kantor direksi, dan mengancam akan mundur. Tapi saat para pemain sudah kembali untuk latihan pramusim, keresahannya menguap begitu saja, dan ia kembali dipenuhi energi.

    Namun di musim panas 1974, setelah ia memberikan gelar piala FA, 15 tahun dari pertama kali ia jadi pelatih Liverpool, Shankly kembali mengundurkan diri. Ada yang mengatakan ia ingin berhenti karena kesehatan istrinya yang terganggu. Ada yang bilang bahwa tekanan untuk selalu tampil di publik, dan mengeluarkan kata-kata indah untuk dikonsumsi media, sudah terlampau besar untuk ditanggungnya.

    Namun, tak ada yang pernah tahu alasannya. Di buku biografi yang ditulisnya setahun setelah mengundurkan diri pun, Shankly tak menjelaskan detail alasannya. Ia hanya berkata, "Saat saya mengangkat piala FA itu saya berpikir, mungkin ini semua sudah cukup." Yang pasti, berbeda dengan musim-musim sebelumnya, para direksi kali ini menerima pengunduran diri Shankly. Ia dilepas, dan digantikan oleh salah satu staf-nya, Bob Paisley.

    Namun, sepakbola kadung sudah mengalir dalam darah Shankly. Saat para pemain Liverpool kembali dari Melwood (tempat latihan Liverpool) untuk pramusim, Shankly ada di sana untuk menyambut mereka. Lengkap dengan memakai pakaian seorang pelatih. Semula ia hanya datang untuk berbicara dengan Paisley. Tapi lama-kelamaan Shankly malah memimpin latihan tim utama.

    Kehadiran serta otoritas Shankly tentu menyulitkan Paisley. Sementara para pemain memanggil Paisley dengan "Bob", Shankly tetap dipanggil dengan sebutan "boss". Saking terganggunya, Paisley bahkan sempat berkata padanya, "Bill, kamu sudah tidak bekerja di sini lagi. Ini tim saya sekarang. Saya punya hal yang harus dikerjakan".

    Pada akhirnya, Shankly pun diminta untuk tidak mendatangi Melwood lagi. Ia diasingkan dari tempat yang ia bangun dengan tangannya sendiri.
    Semula Shankly masih sering duduk di bos direksi untuk menyaksikan pertandingan. Namun, pada akhirnya ia bergabung dengan fans lainnya di tribun.

    Ia juga mulai mencari aktivitas lainnya: bermain bola dengan anak-anak di halaman, jadi pundit sepak bola, dan pergi ke pertandingan-pertandingan Liverpool, meski harus mengurus tiketnya sendiri. Ia bahkan pergi ke Everton dan membantu kapten mereka untuk melatih tim junior. Ia melakukan apapun untuk tetap bersentuhan dengan sepakbola.

    Jika ada satu hal yang disesali baik Liverpool dan Shankly, adalah cara perpisahan keduanya ditangani. Shankly, seorang yang memiliki rasa kebanggan yang tinggi, tak mau datang ke tempat ia tak diinginkan. Sementara para direksi yang selama lima belas tahun bertengkar dengannya, mungkin lega melihat Shankly keluar dari pintu.

    Shankly sebenarnya bisa saja dijadikan direksi, namun pada akhirnya ajakan itu tak pernah datang. Bahkan, hampir selama 20 bulan setelah Shankly mundur, tak ada kabar sama sekali dari Liverpool untuknya. Meski sekadar untuk memberikan tiket pertandingan.
     
    "Saya tentu akan senang jika diundang ke pertandingan tandang ke klub lain. Namun saya menunggu, dan menunggu, dan menunggu, sampai akhirnya saya lelah menunggu," tutur Shankly dalam buku biografinya.

    Di usia 68 tahun, hanya tujuh tahun setelah ia pensiun, Shankly meninggal. Ia mati dengan menepati ucapannya sendiri, bahwa "Saat saya mati, saya akan jadi orang tersehat yang pernah mati."



    Ia yang tidak merokok atau minum, dan rutin berolahraga tiap harinya ini memang tetap sehat hingga beberapa hari menjelang kematiannya. "Shankly was a fit man, but he died of a broken heart," ujar Johnny Giles, salah seorang pemain Leeds United.

    Ya, mungkin Shankly lupa caranya hidup tanpa sepakbola.

    Baru setelah kepergiannya-lah, Liverpool menyadari apa yang mereka lepaskan. Sebelas bulan setelah kematiannya, gerbang Shankly (Shankly Gates) dengan inkripsi "You’ll Never Walk Alone" dibangun. Pada 1997, patungnya pun tegak berdiri di depan stadion. Dengan tangan terentang, seolah ia bangkit kembali menjaga klubnya, hidupnya, untuk sepanjang masa. Mengutip ucapannya, “I was made for Liverpool and Liverpool was made for me”.

    Jika setan memang ada di detail, maka Bill Shankly akhirnya berada di jantung Liverpool: berdiri di depan pintu gerbang "kerajaan" Anfield tak ubahnya malaikat penjaga. Sampai entah. Mungkin selamanya.


    ====

    *akun Twitter penulis: @vetriciawizach dari @panditfootball

    Baca Juga
    Bagian 1: Shankly dan Khotbah di Atas Bukit

    (roz/cas)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game