Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Sepakbola Indonesia: Aku Selalu Dipermainkan

    - detikSport
    Ilustrasi: Petugas TPS di Tambaksari, Morokrembangan, Surabaya, berseragam tim sepakbola pada pemilu legislatif 9 April 2014. (ANTARA/Eric Ireng) Ilustrasi: Petugas TPS di Tambaksari, Morokrembangan, Surabaya, berseragam tim sepakbola pada pemilu legislatif 9 April 2014. (ANTARA/Eric Ireng)
    Jakarta -

    Kongres Sepakbola Dunia telah berlangsung pada 9 April 2014 kemarin. Di hadapan banyak utusan sepakbola dari berbagai negara, Sepakbola Indonesia merasakan malu, minder, dan tak tahu harus bersikap bagaimana. Wajahnya terpaku pada selembar kertas yang di atasnya ada sebuah pertanyaan yang harus dijawab: "Siapakah Anda?"

    Dilihatnya sekelilingnya. Hanya membuat matanya nanar dan pedih. Ratusan temannya yang duduk melingkari meja panjang di tengah aula besar itu sibuk sendiri. Ada yang menerawang berpikir, menggigit pena, dan banyak yang sudah menorehkan definisi siapa diri mereka ke dalam kertas yang disediakan panitia kongres.

    Di sudut arah jam 10, duduk Sepakbola Inggris. Diperhatikannya si leluhur sepakbola itu. Ia terlihat sangat aktif menggerakkan jemarinya yang mengapit pena. Sesekali senyum jemawa tersungging di bibirnya. "Aku yang menemukan sepakbola. Dari dulu hingga kini, mereka yang hadir di kongres ini berkiblat kepadaku. Kick and Rush yang dulu diejek kini sudah menjadi produk industri, dan semua yang sekarang hadir di sini adalah pasarku," begitu Sepakbola Inggris menuliskan catatan untuk menjawab pertanyaan "Siapakah Anda?"

    Di depan Sepakbola Indonesia, duduk Sepakbola Belanda. Ah! Ingin sekali ia bertanya dan protes pada si penemu Total Football ini. "Kenapa kau hanya sebentar saja mengajari sepakbola padaku? Hampir 350 tahun kau gunakan kakimu untuk menginjak-injakku, tapi hanya sedikit sekali waktumu untuk mengajarkan aku menyepak bola," gumam Sepakbola Indonesia. "Kau malah mengajarkan kami rasisme dan membeda-bedakan mana sepakbola untuk bule, mana untuk orang Cina dan mana untuk kami. Boro-boro kau mengajariku Total Football," gerutunya.

    Ya, kalimat itu hanya jadi gumaman Sepakbola Indonesia. Ia tak kuasa ketika harus beradu pandang dengan Belanda. Padahal, Belanda tak benar-benar menatapnya kala adu pandang tersebut. Sepakbola Indonesia campur aduk tak karuan pikirannya. Antara takut, segan, dan marah berbalut dendam dalam momen sepersekian detik itu. Sejurus kemudian Indonesia membuang tatapannya ke langit-langit aula. Menghindari beradu mata dengan Belanda.

    Gemerutuk bunyi pena beradu dengan meja terdengar di arah jam 2 dari Sepakbola Indonesia. Cukup jauh jaraknya sebenarnya. Dalam hitungannya, suara itu berasal dari kursi ke-58 sisi kanan, dari deretan depannya. Meski tak cukup jelas, Indonesia yakin benar kalau bunyi rancak dari pena dan meja itu bersumber dari Sepakbola Brasil.

    Bebunyian yang bernada dan irama Samba. Terkadang rancak, lalu tiba-tiba berhenti. Seperti sedang berlari cepat membawa bola, kemudian berhenti untuk berbelok. "Ah, pasti Brasil sudah selesai menjawabnya. Dia memang terpintar di antara kami semua," batin Sepakbola Indonesia.

    "Mikir apa, Bro? Sudah, tulis saja sebisamu," kata Sepakbola Italia yang duduk di samping kirinya membuyarkan lamunannya.

    Seolah tahu dengan kesulitannya hingga kertas di depannya masih kosong, Sepakbola Italia enteng saja berkata: "Tak ada yang benar dan salah di sini. Baik dan buruk yang jadi nilai. Kalau kau terlihat buruk, nanti panitia kongres yang akan memperbaikinya. Kita nanti perbaiki bersama-sama," ujar Italia sembari senyum memberi harapan.

    Indonesia yang sudah mulai krisis kepercayaan dengan teman Eropa-nya satu ini hanya senyum dan kembali melamun. Selama ini, ia hanya tertidur dengan Fantasia dan Furbizia yang dibawa Italia. Fantasi dan kecerdikan Italia yang dapat diambilnya hanya dua hal: mafia sepakbola dan suporter Sepakbola yang mendadak serba 'ke-Italia-Italia-an' dengan menjiplak dan mengekor!

    Sepakbola Indonesia kembali tersadar dari lamunannya. Kali ini tepukan bahu Italia yang membuyarkan pikirannya. "Gampang, Bro. You ceritakan saja di kertas itu momen apa yang ada di negerimu sekarang. Tarik garis mundur. Semakin banyak perulangan, semakin mencirikan dirimu," ujar Italia memberi nasihat.

    Indonesia mulai membenarkan apa yang dikatakan Italia. Seraya manggut-manggut, tersenyum, dan mata berbinar, ia sampaikan terima kasih kepada Italia. Indonesia kembali teringat dengan apa yang terjadi sekarang di negaranya: Pemilu.

    Ini pola yang sudah berulang. Sudah Lebih dari setengah abad yang lalu, Sepakbola Indonesia selalu merasa dipermainkan oleh Politik. Berulang kali keringatnya diperas oleh Politik, tapi tak pernah ia mendapatkan timbal balik yang sepadan. Selalu begitu.

    Sepakbola Indonesia mulai menelusup ke dalam lapisan-lapisan ingatannya. Ia terhenti di rak ingatan pemilu pertama tahun 1955. Masih terekam jelas di sana ketika Sepakbola Indonesia mulai diperas Politik untuk pemilu. PKI (Partai Komunis Indonesia) yang pertama kali memakainya.

    PKI menggunakan dua anak emas Sepakbola Indonesia kala itu, Ramlan dan Witarsa. Kapten Timnas dan pemain muda harapannya itu dijadikan caleg (calon legislatif) dan alat kampanye. Satu lagi yang digunakan PKI dalam pemilu kala itu adalah redaktur koran sekaligus Komisi Kesebelasan Nasional Indonesia, Jahja Jacub.

    Namun PKI tak benar-benar berkhianat kepada Sepakbola Indonesia. Janji kampanye melihat Timnas kesayangan berlaga melawan tim negeri komunis sekutunya macam Uni Soviet, dan Hongaria setidaknya masih ditepati PKI.

    Sekitar sebulan setelah pencoblosan 29 september 1955, PKI mendatangkan Lokomotif Uni Soviet. Tim-tim Sepakbola Indonesia seperti Persidja, Persebaja, PSMS, PSP, PSSI-B, PSSI A digilir ilmu penting dari Lokomotif sepanjang November 1955.

    Dalam pemilu-pemilu selanjutnya, Politik kian banyak menggunakan jasa Sepakbola Indonesia. Namun yang masih teringat jelas adalah pemilu 1987. Mantan kapten Timnas era 60-an, Soetjipto Soentoro, dipakai Partai Demokrasi Indonesia untuk alat kampanye pemilu 1987.

    Kapten kebanggaannya yang karib disapa Gareng itu bersedia dan bergabung dengan PDI dengan misi mulia: menularkan sportivitas dunia olahraga kepada Politik. PDI sendiri dengan bangga memamerkan Gareng sebagai kekayaan PDI yang tak dimiliki oleh partai politik lainnya. Sebab dia adalah mantan bintang sepakbola terbaik yang pernah dilahirkan Indonesia bahkan Asia.

    Namun, Gareng kemudian tak duduk menjadi wakil rakyat dan memilih mundur. Misi sportivitas yang coba dibawakannya kurang dihayati oleh para pengurus PDI yang lebih sering cekcok sendiri. "Sungguh bukan karena saya tak duduk dalam kepengurusan puncak atau tidak menjadi anggota DPR/MPR. Tapi saya benar-benar gerah, tak kerasan dalam suasana parpol. Pilihannya ricuh melulu," kilah Soetjipto kala itu.

    Lama Indonesia menari-nari di ingatannya. Ia kemudian senyum-senyum sendiri dan sedikit tawa kecil ketika berhenti di kenangan Pemilihan Presiden 2004. Pada malam final Euro 2004 Portugal, calon presiden Megawati, menjadi bintang tamu komentator tayangan tersebut. Sebelum kick-off, capres incumbent itu menjagokan tuan rumah Portugal karena warna jersey-nya sama dengan warna koalisinya saat itu, Mega-Hasyim, yakni Merah-Hijau.

    Pada momen ini setidaknya Sepakbola bisa menertawakan si Politik. Final tersebut akhirnya dimenangi Yunani yang mengenakan jersey putih biru. Warna yang selaras dengan milik Partai Demokrat yang mengusung anak bawang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

    Esoknya, hasil pilpres menjadi milik kemenangan SBY dengan 33,57% suara. Sementara Mega meraup 26,61% suara. Keduanya harus rematch dan kemudian dimenangkan SBY. Merah-Hijau Mega-Hasyim terkubur duka seperti Portugal.

    Sepakbola Indonesia tertawa terbahak-bahak melihat kegagalan Mega memprediksi hasil akhir pertandingan sekaligus kegagalan memprediksi nasib partainya sendiri.

    Dan kemarin, ya...tepat saat Sepakbola Indonesia disodori kertas berisi pertanyaan "Siapakah Anda", bayangan kusut tentang politik membuatnya pusing sendiri. Tidak, Sepakbola Indonesia tahu bahwa tidak mungkin sepakbola itu menjauh sepenuhnya dari Si Politik. Tapi bukan Si Politik kelas recehan begini yang dia bayangkan. Politik yang dia bayangkan adalah Politik Nasionalisme, Politik Patriotisme, yang menjunjung Sepakbola Indonesia sebagai alat perjuangan, alat perekat, alat pemersatu, tempat kebanggan nasional bisa dikerek setinggi-tingginya.

    Sepakbola Indonesia merasa sedih bagaimana dirinya dipermainkan dengan pician. Dia teringat caleg-caleg semua mendompleng klub-klub, partai-partai memodifikasi jersey-jersey klub agar mirip seperti logo dan simbol partai. Capres disambut suporter yang menyamar sebagai ultras partai. Hingga tayangan liga lokal di TV --yang durasi turun minumnya lebih panjang karena kampanye dibalut kuis-- malah membuatnya kembali kesal.

    Dan yang lebih kesal lagi, Sepakbola Indonesia tak habis-habisnya menggerutu, gara-gara Politik ini pula dirinya harus meliburkan diri hampir 1 bulan lebih lamanya. Gara-gara kampanye, Sepakbola Indonesia harus mundur teratur, mengalah, melangkahkan kaki ke pojokan yang sepi, seakan bukan hal yang penting dan pantas untuk disia-siakan.

    Maka Sepakbola Indonesia pun mulai bisa memberi jawaban pada selembar kertas yang sedari tadi masih kosong. Ia pun mulai menulis, "Aku Sepakbola Indonesia hanyalah alat. Yang Mulia Pimpinan Kongres setidaknya tahu bahwa Politik tidak diperkenankan melakukan intervensi kepada Sepakbola. Yang Mulia selalu membesarkan hati kami bahwa sepakbola adalah negara dalam negara. Tak tersentuh dengan intervensi politik. Tapi aku selalu diperas, digunakan, dipermainkan Politik Indonesia. Yang Mulia juga sama saja. Alih-alih bersikap netral, malah sibuk bermain api dengan para politisi yang menyamar sebagai aktor-aktor sepakbola. Yang mulia serius tidak, sih, mau membantu kami? Mohon sarannya Yang Mulia."

    Sepakbola Indonesia bergegas merampungkannya. Dari pengeras suara, terdengar pengumuman yang nadanya penuh perintah seperti suara juragan pada jongosnya: "Selesai tidak selesai, kumpulkan!"


    ===

    * Akun twitter penulis: @fjrhman dari @panditfootball

    (a2s/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    pandit