Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Pornografi Sepakbola

    - detikSport
    ANTARA/Ari Bowo Sucipto ANTARA/Ari Bowo Sucipto
    Jakarta -

    Jika pornografi mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, bisakah tayangan sepakbola kini dianggap lebih sporty dari bermain bola itu sendiri?

    Saya memikiran hal di atas semalam, ketika lini masa di media sosial sedang gegap gempita oleh acara pengundian Liga Champions Eropa musim 2014/2015. Tengah malam yang bukan akhir pekan menjadi terasa ramai oleh kicauan tentang pembagian grup para peserta Liga Champions.

    Di tengah hiruk-pikuk itu, tiba-tiba saja muncul kicauan dari akun twitter milik Fabio Oliveira [@fab_25oliveira], pelatih kepala Persita Tangerang. Isi kicauan pelatih asal Brasil itu merawankan hati: tim Persita sudah tidak gajian selama 3 bulan, bonus tidak ada [biasanya bonus jadi cara ujung bagi para pemain yang sial dengan gaji untuk bertahan hidup], sarana latihan minim, berangkat latihan dengan angkot, tidak ada makanan di asrama dan terpaksalah para pemain berutang di warung depan asrama untuk sekadar makan.

    Kicauan Fabio itu "menyelinap" begitu saja di tengah hiruk-pikuk pesta sepakbola Eropa [Liga Champions] yang bahkan belum dimulai. Ya, kata "menyelinap" rasanya tepat untuk menggambarkan situasi malam tadi: perihal munculnya sesuatu yang ganjil, hal yang tak diharapkan [setidaknya untuk saya yang merasa masih rada agak sedikit waras –cuma rada agak sedikit, loh ya ], sekaligus mengejutkan karena --rasanya, kok, ya-- datang tak tepat waktu.

    Agak sukar untuk tidak bereaksi "muram" [anda bisa mengganti kata "muram" dengan kata "sinis" atau "nyinyir"]. Saya kemudian me-retweet kicauan Fabio itu sembari berkicau menyebutkan hal itu sebagai sebuah "realisme sepabola".

    Beberapa menit kemudian, kok saya merasa tak enak telah menginterupsi keasyikan banyak orang yang sedang bergembira. Lekas-lekas saya berkicau: "Tak hendak merusak pesta, sih. Sekadar menawarkan jeda: selalu ada yang tak terurus tiap kali ada keramaian yang gegap gempita."

    Inilah, hal ihwal yang tak terurus dan terabaikan inilah, yang saya maksud sebagai "realisme sepakbola" -- yang kebetulan terhampar di tanah kita yang ijo royo-royo kecuali di depan kotak penalti yang biasanya di stadion-stadion Indonesia warnanya coklat.

    Tapi apa sebenarnya "realisme sepakbola"? Apa yang disebut sebagai realitas dalam sepakbola? Mari kita kembali pada paragraf pembuka. Jangan khawatir, saya tak akan membawa-bawa PSSI (dalam soal verivikasi klub) di esai ini, kok, semata agar esai ini tak terantuk menjadi sarat seruan moral.

    ****

    Parafrase "pornografi lebih sensual ketimbang seks itu sendiri" sebenarnya dinukil dari kalimat yang dituliskan oleh Jean Baudrillard, seorang pemikir Prancis yang masyhur dengan ide-idenya yang memblejeti situasi posmodern.

    Pornografi bisa begitu menjadi candu, dan bagi banyak orang bahkan sangat mengasyikkan dan begitu sensual ketimbang aktivitas seks itu sendiri, hanya bisa terjadi dalam situasi di mana batas antara realitas dan yang-bukan-realitas sudah benar-benar kabur.

    Baudrillard memperkenalkan kata kunci "simulasi" dan "simulacra".

    Simulasi kira-kira berarti proses di mana gambaran (representasi) atas suatu obyek justru menggantikan kedudukan obyeknya itu sendiri. Dalam hal seks, representasinya adalah pornografi. Ketika seseorang sudah benar-benar keranjingan dengan pornografi, dia bisa sangat suntuk dan getol menekuni pornografi, mendownload berjam-jam, betah menanti streaming yang lemot. Sampai-sampai dia lupa bahwa selama berjam-jam itu dia bisa saja melakukan aktivitas seksual, entah masturbasi (yang tersial) atau bercinta (yang terbaik).

    Pornografi sebagai representasi seks, justru telah melampaui seks itu sendiri. Inilah situasi ketika pornografi lebih sensual ketimbang seks. "Simulacra" adalah istilah untuk menyebut ruang sosial di mana proses simulasi macam itu berlangsung.

    Dengan uraian macam itu, lagi-lagi dengan kembali para paragraf pembuka, bisakah tayangan sepakbola kini dianggap lebih sporty ketimbang main bola itu sendiri?

    Frase "tayangan sepakbola", untuk digariswabahi, merujuk sepakbola bukan sebagai sebuah permainan, melainkan penampilan [performance] yang ditayangkan lewat medium televisi [juga streaming internet].

    Frase "tayangan sepakbola" ini juga untuk menegaskan watak yang berbeda dengan sepakbola yang disaksikan langsung di stadion. Di stadion, sepakbola hadir sebagai realitas-tak-terpermanai: anda bisa menonton penonton yang lain, anda bisa menyimak pemain yang sedang menggiring bola, dan anda juga masih bisa mengamati gerak-gerik kiper atau bek tengah saat rekan-rekan penyerangnya sedang bertarung di kotak penalti lawan yang jauhnya bisa berjarak 50 sampai 80 meter.

    Sebagai sebuah tayangan, sepakbola hadir sepotong-sepotong karena "pemirsa" [ini untuk membedakan dengan "penonton" yang merujuk mereka yang hadir di stadion] tak pernah bisa menikmati sepakbola sebagai pengalaman-tak-terpermanai. Yang bisa dinikmati pemirsa adalah sepakbola yang disodorkan oleh kamera dan umumnya kamera selalu menyorot mereka-mereka yang ada di dekat bola. Apa yang dilakukan Philipp Lahm saat Arjen Robben mengambil tendangan pojok biasanya tak tampil di televisi.

    Tapi, di situlah juga kelebihan tayangan sepakbola. Tayangan sepakbola mengalihkan kelemahannya itu menjadi kelebihan dengan cara memblejeti detail. Maka jangan heran jika kini tv getol menayangkan bagaimana kiper berteriak-teriak dalam gerak lambat sampai-sampai urat-urat lehernya terlihat jelas. Menakjubkan rasanya saat melihat rumput yang tercabut saat Thiago Silva melakukan tekel.

    Belum lagi penetrasi informasi yang serupa banjir bandang, dipermudah oleh media sosial, yang membuat Si Asep di Ciwidey atau Si Bowo di Turi bisa tahu banyak sekali hal mengenai Rooney atau Falcao, dari makan malam di mana sampai berapa umpannya.

    Detail dan rincian ini pula yang ditawarkan oleh tayangan sepakbola. Yang dirinci bukan hanya gestur dan mimik muka pemain, tapi bahkan merinci nyaris semua hal: berapa km jarak yang ditempuh Xavi selama 90 menit, berapa umpan Xavi, berapa persen akurasi tekel Chiellini, berapa duel udara yang dimenangkan Ibrahimovic, dll., dsb., dkk.

    Sialnya, karena risiko mengejar detail dan rincian, bujuk-rayu detail ini membuat banyak orang merasa mengerti sepakbola hanya karena punya data statistik pemain – seakan-akan sepakbola tak lebih dari angka-angka dan seakan angka-angka bisa dibaca tanpa sekali pun peduli dengan konteks (permainannya).

    Juga pertanyaan sederhana: saat rataan pemain menyentuh bola hanya 3-5 menit dalam 90 menit, bagaimana kita memahami sepakbola saat kita tak jarang peduli dengan apa yang dilakukan pemain dalam 85-87 menit saat tak memegang bola? Sementara tayangan sepakbola cenderung mengikuti bola dan pemain-pemain yang menyentuh bola atau di dekat bola.

    Situasi semakin menakjubkan ketika "sepakbola sebagai tayangan" ini pun "diacak-acak" lagi oleh berbagai permainan dengan tingkat kemiripan yang makin lama makin menyerupai aslinya: dari playstation, football manager hingga fantasy premier league. Di sini, sepakbola di-hack sedemikian rupa sehingga ukuran cinta-benci pun bisa tumpang tindih dengan ajaib: fans Liverpool ingin Rooney membuat hattrick tapi Mignolet maunya tetap cleansheet.

    Inilah yang membuat jarak geografis antara Ciwidey dan Turi dengan Milan dan London dilipat-pangkas sedemikian rupa sehingga sedekat mata dengan layar monitor atau layar smart-phone.

    Kampanye "support your local club" kadang tak bergema di relung jiwa, bukan semata karena tak semua orang lahir dan besar di kota yang punya klub sepakbola, tapi juga karena batas antara yang lokal dan global itu gampang memiuh sedemikian rupa.

    Apa artinya lokal dan global jika Si Asep di Ciwidey atau Bowo di Turi lebih gampang mencari data berapa akurasi umpan Xabi Alonso dibanding jumlah gol yang pernah dicetak Ferdinand Sinaga (Persib) atau Anang Hadi (PSS) selama karirnya.

    Inilah simulasi dalam sepakbola itu. Inilah saat ketika tayangan sepakbola lebih sporty (dan lebih riil) ketimbang bermain bola atau menonton langsung di stadion.

    ****

    Menonton sepakbola Indonesia, apalagi di stadion, adalah pengalaman menonton sepakbola sebagai peristiwa-tak-terpermanai.

    Saya tak hendak memasuki debat yang lebih layak dilakukan para juru-penerang-moral-bangsa soal lebih tinggi mana derajatnya antara menonton sepakbola di stadion atau memirsa sepakbola di layar kaca. Saya bagian dari keadua subkultur menonton dan memirsa itu. Bukan itu tujuannya. Saya hanya hendak mengingatkan betapa menonton sepakbola Indonesia di stadion itu memungkinkan kita mencerap sepakbola sebagai sebuah peristiwa-tak-terpermanai.

    Sepakbola Indonesia, bahkan jika anda menyaksikannya lewat layar kaca, belum bisa menyodorkan sensasi yang detail. Jangankah mau melihat urat-urat leher I Made Wirawan atau jerawat Kurnia Meiga misalnya, wong tayangan offside saja masih jauh dari standar. Apalagi jika anda menyaksikannya di stadion.

    Sepakbola Indonesia juga masih hadir sebagai entitas yang belum bisa dicacah-cacah ke dalam rincian yang menakjubkan sebagaimana yang dilakukan oleh opta, prozone atau mi-coach. Umpan sih mungkin sudah ada datanya (itupun belum live-stats), tapi heat-map, jarak tempuh, dll., masih belum bisa dilakukan.

    Sepakbola Indonesia tak ubahnya sesosok perempuan yang kita cumbu sebagai sebuah kesatuan tak terpisahkan antara rambut, hidung, leher, payudara, puting, perut, vagina, paha, betis dan kaki. Masih banyak rahasianya yang belum diutarakan oleh statistik dan teknologi, oleh gimmick dan sudut pandang kamera.

    Sementara sepakbola Eropa, yang bahkan undian pembagian grupnya pun sudah menggunakan teknologi zoom-in zoom-out saat Fernando Hierro semalam mengambil undian, telah menyodorkan informasi yang makin lama orang dipaksa untuk semakin biasa untuk mengkonsumsinya dan dipaksa juga untuk mempercayainya: statistik, game-game yang detail, banjir bandang informasi berupa teks atau foto, dll.

    Memandang sepakbola Eropa, akhirnya, seperti sedang menyaksikan sebuah pornografi.

    Pornografi identik dengan seks. Tapi ada ciri lain pornografi yaitu obsesinya pada detail, pada rincian, mengejar transparansi hingga lekuk-lekuk yang tersembunyi, dan dengan itu mengemukakan apa yang sebelumnya dianggap sebagai tabu. Suatu tayangan tak masuk kategori pronografi jika tak menampilkan detail dan rincian. Kita kenal istilah "film semi", ketika adegan tak menawarkan detail, tapi snapshot-snapshot, dengan gambar yang utuh atau setengah utuh, ketika tubuh si aktor dan aktris hadir dalam ketertutupan yang coba dibuka atau keterbukaan yang masih hendak ditutup-tutupi.

    Inilah agaknya yang membuat mau tak mau saya perlu memberi permakluman, setidaknya untuk saya sendiri, kenapa kicauan saya tentang Man United yang tak lolos Liga Champions lebih ramai dikomentari ketimbang saat saya me-retweet kicauan rawan dari akun Fabio Oliveira [siang tadi, Fabio menyatakan lewat Twitter dirinya mundur sebagai pelatih Persita].

    Karena saat sedang nonton bokep, saat syahwat sedang menggelegak dan kuping terbenam oleh erangan Stoya atau rintihan Saori Hara, tipis kemungkinan kita sadar ada peminta-peminta sedang menegtuk pintu rumah meminta sesuap nasi.

    Saya juga tak tahu mesti bagaimana. Tapi, setidaknya, ngono yo ngono, ning mbok yo ojo ngono.

    ====

    *penulis adalah Chief Editor @panditfootball. Beredar di dunia maya dengan akun @zenrs

    (roz/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game