Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Kesuksesan FC Porto Menaklukkan Industri Sepakbola

    - detikSport
    AFP/Miguel Riopa AFP/Miguel Riopa
    Jakarta - Dalam bisnis, ada teori mengatakan bahwa Anda harus mengambil risiko tinggi jika ingin mendapat keuntungan yang tinggi. Biasanya ini berlaku kepada para pelaku saham, investasi, dan pasar modal.

    Teori ini diterapkan oleh banyak tim sepakbola di Eropa. Demi mendapatkan "return" atau prestasi, mereka tak ragu untuk merogoh koceknya lebih dalam agar bisa merekrut pemain-pemain yang kiranya bisa mengantarkan klub ke raihan tertinggi.

    Hal inilah yang sedang dilakukan oleh Real Madrid. Mereka tak ragu untuk membeli dan menggaji Ronaldo dengan biaya sangat mahal demi melanjutkan tren Madrid sebagai tim jawara. Dan hasilnya telah terbuki dengan trofi-trofi yang pemain timnas Portugal itu persembahkan.

    Namun hal berbeda dilakukan oleh klub asal Portugal, FC Porto. Mereka tak mendatangkan pemain bernilai tinggi. Yang ada, justru mereka lebih gemar menjual para pemain terbaiknya dengan banderol yang sangat mahal.

    Ya, hampir setiap bursa transfer Porto selalu menjual para pemain andalannya. Yang terbaru, Eliaquim Mangala dilepas ke Manchester City dengan nilai transfer 53 juta euro.

    Mangala sebenarnya menghuni skuat utama Porto pada musim lalu. Total 33 penampilan berhasil dicatatkan pemain berusia 23 tahun ini. Akan tetapi, ia tetap menjadi korban ritual Porto yang tak ragu untuk melepas para pemain utama mereka, hal yang telah dilakukan sejak satu dekade lalu.

    Menjual pemain bintang memang jadi hal yang lumrah bagi Porto. Sudah tak terhitung berapa pemain yang dilego tim asal Estadio Dragao ini. Namun, yang lebih penting dari itu semua, dari setiap transfer mereka selalu menghasilkan keuntungan yang besar.

    Anehnya, meski terus kehilangan pemain pilar, Porto masih mampu untuk meraih trofi juara. Dalam 10 tahun terakhir, klub ini berhasil meraih delapan titel juara liga (belum termasuk dua trofi Europa League dan satu Liga Champions).

    Lho, bagaimana bisa?

    Dimulai Pada Era Mourinho

    Pada 2002, Porto menunjuk seorang pelatih bernama Jose Mourinho. Penunjukkan ini sebenarnya merupakan perjudian besar karena saat itu Mou belum memiliki prestasi mentereng. Hanya saja, pengalamannya pernah bekerja sama dengan Bobby Robson dan Louis van Gaal menjadi pertimbangan tersendiri.

    Tanpa disangka-sangka Mou mampu berprestasi di musim pertamanya. Musim 2002/2003, Porto berhasil meraih trebble winner dengan menyabet gelar juara liga, Piala Portugal, dan Europa League (saat itu masih bernama UEFA Cup).

    Musim berikutnya bahkan lebih spesial. Mou berhasil menyandingkan trofi juara liga dan trofi Liga Champions. Prestasi ini sangat-sangat mengejutkan tanah Eropa karena nama Porto sebelumnya tak begitu bersinar di kompetisi Eropa selama beberapa dekade.

    Keberhasilan tersebut membuat Mou dilirik tim baru asal Inggris, Chelsea. Mou pun tak ragu untuk hijrah ke London dengan harapan bisa berprestasi di tingkat yang lebih tinggi. Untuk mewujudkannya, ia datang ke Chelsea bersama pemain-pemain Porto yang berhasil mengantarkannya pada kejayaan.

    Ricardo Carvalho dan Paulo Ferreira dibeli Chelsea dengan total transfer 40 juta poundsterling. Carvalho adalah produk asli binaan Porto, sedangkan Ferreira didatangkan dari Vitoria dengan nilai transfer 1,5 juta poundsterling.

    Transfer ini sangat menguntungkan Porto. Sejak kepergian Mourinho, menjual pemain utama menjadi rutinitas tersendiri bagi Porto.

    Keberhasilan Pembinaan Pemain

    Dari musim ke musim, Porto seolah tak pernah kehabisan stok pemain bintang meski rutin melakukan penjualan. Dari era Carvalho, Deco, Maniche dan Lisandro Lopez, kemudian digantikan Pepe, Raul Meireles, Falcao dan Bruno Alves, dan terus berlanjut hingga Hulk, Joao Moutinho, James Rodriguez, Fernando dan Mangala.

    Para pemain di atas adalah bentuk keberhasilan dari para pencari bakat Porto. Semenjak Mourinho mengajak Carvalho dan Fereira, pencarian pemain muda berbakat dengan harga murah terus dilakukan. Porto bahkan sampai menyebar 250 pencari bakat ke seluruh dunia.

    Hal itu diakui General Manager Porto, Anterio Henrique, pada media France Football.

    "Kita menggunakan 250 pencari bakat ke seluruh dunia. Kita mengkategorikannya dengan pencari bakat internal dan eksternal. Nantinya, para pemandu bakat tersebut akan menyodorkan dua pemain pada setiap posisi dan nantinya kami akan memilih siapa saja yang cukup berkualitas untuk mendapatkan kontrak dari Porto," ujarnya.

    Karena itulah musuh bebuyutan Benfica ini tak ragu untuk menjual pemain-pemainnya. Karena, ketika seorang pemain Porto mendapatkan tawaran dari tim lain, Porto sudah menyiapkan pemain yang akan menggantikan pemain tersebut dengan kualitas yang tak jauh berbeda.

    Misalnya ketika Porto mengandalkan Maniche dan Deco untuk pemain di lini tengah. Porto lantas mendatangkan Raul Meireles, Paulo Assuncao, Diego, dan Anderson sebagai cadangan. Bahkan ketika enam pemain tersebut dilepas Porto sudah memiliki pengganti dengan adanya Lucho Gonzalez, Freddy Guarin, Fernando, dan Mario Bolatti.

    Meski terjadi persaingan, para pemain tersebut tetap bertahan dengan tim karena mereka mendapatkan gaji berlipat ketimbang di tim sebelumnya. Apalagi sebelum direkrut Porto mereka bisa dibilang sebagai pemain antah berantah. Menjajal kemampuan di Porto merupakan kesempatan bagi mereka agar bisa tampil di kompetisi Eropa.

    Maka dari itu, bagi Porto, bermain di kompetisi Eropa adalah sebuah keharusan agar para pemain incarannya tertarik untuk bergabung.

    Selain itu, sejarah kolonialisme menunjukkan bahwa Portugal memiliki kedekatan budaya dengan Amerika Latin. Tak heran para pemain tersebut tak mendapatkan hambatan berarti untuk beradaptasi di Portugal.

    Karena hal inilah Porto mampu memaksimalkan potensi mereka.

    Strategi Transfer

    Keberhasilan Porto menjual pemainnya dengan harga mahal tak bisa dilepaskan dari peran seorang agen bernama Jorge Mendes.
     
    Pendiri perusahaan agensi Gestifute itu memiliki hubungan erat dengan bos Porto, Pinto da Costa. Mendes menjadi agen kepercayaan da Costa, setelah sang pemilik kecewa pada agen sebelumnya, Jose Veiga. Pasalnua Porto tak menemukan kata sepakat untuk perpanjangan kontrak klien Veiga, Sergio Conceicao.

    Gestifute didirikan pada tahun 1996. Perusahaan yang berbasis di kota Porto ini berkembang dengan cepat setelah mendapatkan tanda tangan banyak pemain berbakat di Portugal, Brasil, dan Argentina.

    Mendes nantinya akan mengusulkan pemain mana yang tepat untuk bermain dengan Porto. Mendes juga bisa memperkirakan uang yang bisa diterima klub, ketika pemain ini sudah memasuki masa ‘panen’. Ini karena Mendes sudah memiliki jejaring luas dengan tim, manajer, dan pemilik klub-klub Eropa.

    Pemain yang berada dalam asuhan Mendes takkan kesulitan untuk mencari klub.



    Hasil penjualan pemain tersebut dialokasikan pada infrastruktur klub agar bisa mengembangkan dan memproduksi pemain berpotensi. Meski saat ini banyak pemain muda asing yang didatangkan, Porto berharap di masa yang akan datang mereka bisa menghasil pemain binaan yang berkualitas dan akan memberikan keuntungan dari sisi finansial, seperti para pemain muda asing.

    Memang, tak semua pemain yang dijual dengan harga tinggi oleh Porto kesemuanya berasal dari klien Mendes. Namun keuntungan yang didapatkan dari penjualan para pemain Mendes membuat Porto bisa terus berinvestasi untuk merekrut banyak pemain muda bertalenta.



    Manajemen Porto memang cukup pintar dalam mencari keuntungan transfer. Selain mendapatkan keuntungan dari para pemain di atas, Porto pun beberapa kali melakukan pembelian pemain yang sebelumnya sempat merumput di Porto, lalu dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.

    Misalnya Lucho Gonzalez yang kembali bergabung bersama Porto pada 2009, setelah dijual ke Marseille dengan bandrol 18 juta pounds ke Marseille.

    Ketika kontraknya bersama Marseille habis, Porto kembali merekrutnya dengan status bebas transfer (2011). Setelah bermain selama dua musim, Lucho dilego ke Al-Rayyan dengan nilai transfer 2,9 juta pounds.

    Kesimpulan

    FC Porto bisa diibaratkan sebagai sebuah tempat pematangan pemain. Mereka mendapatkan pemain dengan potensi yang masih mentah, kemudian memelihara, menjaga dan mengembangkannya sehingga bisa membuat klub bersaing dalam liga yang semakin kompetitif.

    Hal ini sebenarnya dilakukan juga oleh tim-tim seperti Udinese, Everton, Borussia Dortmund, AFC Ajax dan bahkan rival Porto sendiri, Benfica. Tim-tim tersebut mampu bertahan dan meraup keuntungan dari penjualan pemain, menjual asset terbaik mereka untuk mendapatkan keuntungan finansial.

    Akan tetapi, yang membedakan Porto adalah, jumlah keuntungan dari penjualan pemain-pemain itu sangatlah besar. Dan, yang paling utama, Porto masih konsisten meraih gelar juara meski banyak pemain yang keluar dan masuk.

    Ini menjadikan Porto sebagai contoh klub ideal dalam konteks sepakbola sebagai industri.

    (krs/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game