Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Sejarah Timnas U-19 (Bagian 3)

    Tampil di Piala Dunia U-20 1979, Igauan Kecil dari Tidur Panjang Indonesia

    - detikSport
    Jakarta -

    [Lanjutan dari tulisan pertama: 'Perjalanan Garuda Muda dulu Menjadi Juara Asia' dan tulisan kedua: Final Versus Tentara dan Duplikat Evan Dimas di Tahun 1961]

    Sehingar-bingar, seriuh rendah, dan semeriah apapun, sepakbola Indonesia akan tetap dalam tidur panjangnya. Tidur lelap dalam buaian mimpi tampil di Piala Dunia.

    Apa boleh dikata, event sepakbola terbesar sejagad memang masih menjadi impian Indonesia. Mungkin, Indonesia baru bisa dibilang bangun dari tidur panjangnya jika tampil di Piala Dunia --meski Piala Dunia kelompok umur sekalipun.

    Seperti harapan pelatih Timnas U-19, Indra Sjafri, "Kami ingin mewujudkan mimpi Indonesia, tampil pertama kali di Piala Dunia!"

    Ucapan Indra itu pertama kali terlontarkan pada 10 Mei 2012, tepatnya kala 18 pemain yang dibawanya blusukan, singgah di Gelora 10 November Tambaksari, Surabaya, guna mencari pemain tambahan dan berujicoba dengan Persebaya.

    Usai laga yang berkesudahan 2-1 berkat sumbangan gol Hargianto dan Evan Dimas itu, dengan runtun Indra menerangkan rencana dan targetnya. Semuanya bermuara dan mengerucut pada satu target; tampil di Piala Dunia U-20 Selandia Baru.

    Kalimat bahwa Piala Dunia masih berupa mimpi Indonesia itu terdengar lagi beberapa hari jelang Piala AFF U-19 tahun 2013. Ia sebenarnya tak pasang target muluk-muluk di Sidoarjo selama bulan September 2013 itu. Kalau juara, ya syukur, yang penting tampil menghibur. Baginya yang utama adalah bagaimana caranya lolos dari kualifikasi Piala Asia U-19 yang dilangsungkan sebulan setelah penyelenggaraan Piala AFF.

    Kemudian, "Kami ingin mewujudkan mimpi Indonesia, tampil pertama kali di Piala Dunia!" itu pun kian santer terdengar atau terbaca di media-media setelah hat-trick Evan Dimas ke gawang Korea Selatan U-19 memastikan Indonesia kian dekat ke Piala Dunia U-20. Setidaknya butuh empat-lima kemenangan lagi di Myanmar, maka Indonesia bangun dari tidur panjangnya.

    Memang, secara fakta, Indonesia pernah tampil di Piala Dunia U-20 tahun 1979 di Jepang. Tapi, kalimat mimpi tampil di Piala Dunia untuk pertama kali dari Indra Sjafri tetap bisa dibenarkan, jika kita tafsirkan lebih.

    Tampil Sebagai Negara Pengganti Karena Pembinaan yang Rapi

    Ibarat orang yang tertidur panjang dan lelap, Piala Dunia U-20 1979, memang bukan mimpi yang benar-benar menjadi nyata. Bukan mimpi yang membuat si tidur terbangun. Piala Dunia junior itu hanyalah igauan kecil dari sebuah tidur. Meracau sebentar, lalu pulas lagi.

    Hampir sama dengan regulasi yang ada sekarang, Piala Asia U-19 adalah syarat untuk lolos ke Piala Dunia U-20. Bedanya, kalau sekarang kuota empat tim Asia diisi oleh semifinalis Piala AFC U-19, saat Piala Dunia 1979 itu kuota Asia hanya dua negara dan diisi oleh finalis saja. Ditambah Jepang sebagai tuan rumah, alhasil kala itu Asia diwakili 3 negara.

    Indonesia sebenarnya gagal di Piala Asia U-19 1978 di Dhaka, Bangladesh. Di laga pembuka Grup A mereka dihancurkan Irak empat gol tanpa balas. Indonesia kemudian lolos ke fase knock-out sebagai runner-up grup setelah mengalahkan Malaysia 2-0 dan Yordania 4-0. Pada pertandingan perempat final yang digelar 22 Oktober 1978, Indonesia harus angkat koper. Bambang Nurdiansyah dkk dibekap Korea Utara 0-2.

    Gagal, tapi Indonesia akhirnya tetap lolos ke Piala Dunia U-20 1979. Memang, secara regulasi, Irak dan Korea Selatan-lah yang mengisi kuota Asia di Piala Dunia, karena keduanya menjadi juara bersama di Bangladesh. Akan tetapi, Irak kemudian malah tereliminasi tanpa ada alasan pasti.

    Ditengarai ada dua penyebab tidak tampilnya Irak di Piala Dunia U-20 1979 ini; mengundurkan diri atau dicekal FIFA. Satu hal yang pasti menjadi penyebab tidak tampilnya Irak, usai menjuarai Piala AFC 1978, perang saudara dengan Iran mulai berkecamuk seiring berdirinya rezim Saddam Husein.

    Dalam dokumen laporan penyelenggaraan Piala Dunia 1979, FIFA juga enggan menyebutkan tidak tampilnya Irak. Mereka hanya menyebutkan bahwa satu dari Indonesia atau Korea Utara yang diajak tampil di Piala Dunia U-20 itu untuk melengkapi satu kuota tersisa. Indonesia kemudian lebih dipilih ketimbang Korea Utara.

    Menutupi alasan absennya Irak, FIFA membuat 'pengalihan isu' dalam laporan tersebut. Mereka mendiskripsikan secara lengkap kenapa Indonesia dipilih dan menyisihkan Korea Utara. FIFA tak menyebutkan kata Irak sekalipun.

    Fakta-fakta remeh dari sepakbola Indonesia ikut dijabarkan FIFA demi menutupi hal itu. "Luas Indonesia tak banyak yang tahu pada umumnya. Panjangnya sama dengan antara London dan Moskow. (Negara) ini memiliki populasi 140 juta dan meskipun federasi sepakbola nasional berada di Jakarta, mereka memiliki 26 lainnya asosiasi daerah," buka FIFA dalam mendeskripsikan Indonesia dalam laporan penyelenggaraan Piala Dunia tersebut.

    Federasi sepabola dunia itu kemudian menjelaskan secara rinci alur pembinaan sepakbola Indonesia. Kalau dilihat dari apa yang dijabarkan FIFA, sepakbola Indonesia kala itu tertata dengan rapi.

    Disebutkan oleh FIFA kala itu pembinaan sepakbola Indonesia sudah memiliki kompetisi lokal dan regional untuk usia 8-14 tahun dan untuk usia 15-18 tahun. Seleksi tim nasional kelompok umur berasal dari struktur sepak bola dengan 6 tim dari Divisi Utama, 16 tim di Divisi Kedua dari kompetisi di bawah usia 20 tahun.

    "Selain itu, ada juga kompetisi klub lokal. Setiap kota memiliki tim junior (di bawah usia 20 tahun), setiap klub di Divisi Utama dan Kedua memiliki dua tim. Tahun lalu (1978), Departemen Pendidikan (Indonesia) sepakat untuk membuat peraturan agar setiap sekolah memiliki tim sepakbola," terang FIFA.

    Bukan hanya itu. Dipandang dari segi finansial dan infrastruktur, pembinaan sepakbola di Indonesia juga terhitung memadai. Dana untuk mendukung seleksi tim nasional junior kala itu berasal dari tiga sumber; kompetisi, pertandingan internasional dan sponsor.

    FIFA hanya menekankan bahwa sepakbola Indonesia yang sudah rapi itu tinggal butuh sekolah pelatih. "Ada 10 pelatih nasional, yang pernah belajar di Eropa, dan mereka mendatangi daerah-daerah untuk memberi pelatihan kepada pelatih-pelatih lokal. Pelatih adalah hal yang paling mendesak dan dibutuhkan di seluruh Indonesia. Pusat pendidikan kepelatihan sangat dibutuhkan," terang FIFA.

    Mimpi Itu Terbeli

    Dan, Indonesia pun tampil di Piala Dunia. Ya, benar-benar Indonesia. Bukan lagi seperti Piala Dunia 1938 di Prancis yang mewakili negeri Hindia Belanda.

    "Tak ada keraguan untuk menerima kehormatan dan hak istimewa untuk ikut ambil bagian dalam turnamen tersebut," ujar ketua tim delegasi Indonesia, Maulwi Saelan, kala itu.

    Mantan pemain yang pernah membela Timnas di Olimpiade Melbourne 1956 itu juga merasa Indonesia siap meski persiapan mepet. "Terlepas dari kurangnya waktu untuk persiapan. Para pemain akan mendapatkan pengalaman berharga. Ini bisa juga menjadi penilaian PSSI terkait skill dan taktik sepakbola kita dibandingkan negara lain," tambahnya.

    Di bawah asuhan pelatih Soetjipto 'Gareng' Soentoro, Indonesia pun mengirimkan pemuda terbaiknya dari cabang mengolah si kulit bundar ini. Nama-nama inilah yang terpilih berangkat ke Jepang dan mampu lolos dari 50 pemain yang dipanggil untuk pemusatan latihan selama enam pekan di Jakarta.

    Indonesia kemudian tergabung dalam grup B bersama tim yang kelasnya jauh sekali di atas mereka, Argentina, Polandia dan negara almarhum: Yugoslavia. Hasilnya, Garuda Muda menjadi bulan-bulanan. Kalah 0-5 dari Argentina yang diperkuat Maradona, lalu takluk 0-6 dari Polandia dan ditutup kekalahan lima gol tanpa balas dari Yugoslavia.

    [Bersambung]

    ====

    * Akun twitter penulis: @fjrhman dari @panditfootball

    (a2s/krs)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game