Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Sejarah Timnas U-19 (Bagian 4-Habis)

    Belajar dari Masa Lalu, Ekspektasi yang Gagal Berbuah Prestasi

    - detikSport
    Diego Maradona dihadang pemain Indonesia di Piala Dunia U-20 1979 (FIFA) Diego Maradona dihadang pemain Indonesia di Piala Dunia U-20 1979 (FIFA)
    Jakarta -

    Sebagai negara yang menganggap tampil di Piala Dunia adalah sebuah mimpi, Indonesia, terutama Timnas U-19, sekiranya butuh persiapan yang matang dan segar. Tak lain agar mimpi buruk Piala Dunia U-20 1979 Jepang tidak terulang.

    Di Jepang kala itu Indonesia hanyalah negara pengganti Irak. Meski FIFA menjabarkan secara rinci kalau Indonesia layak diundang, namun Indonesia belumlah benar-benar siap untuk bangun dan mewujudkan mimpi tampil di Piala Dunia. Ibarat orang bangun tidur, Indonesia dibangunkan mimpi. Belum siap, canggung, dan semuanya serba instan.

    Man to Man Marking Indonesia Mengorbitkan Diego Maradona

    Canggungnya Indonesia di Piala Dunia U-20 1979 itu mulai terlihat di laga pertama Grup B melawan Argentina di Oyama, 26 Agustus 1979. Padahal, lawan kali itu juga berstatus pendatang baru dan tampil untuk pertama kali di Piala Dunia U-20. Indonesia malah terlihat bingung dan tak tahu harus berbuat apa di lapangan.

    Buta kekuatan lawan, pelatih Soetjipto Soentoro malah salah strategi. Demi mengimbangi Argentina, ia latah termakan tren 4-3-3 yang memang digunakan banyak negara Amerika Latin kala itu.

    Selain Argentina sudah terbiasa dengan skema yang sebenarnya bisa dibilang 1-3-3-3 (satu libero berdiri di belakang 3 bek), Soetjipto salah dalam strategi bertahan. Pelatih yang beken dipanggil ‘Gareng’ itu menerapkan taktik bertahan man to man marking yang sangat menguras stamina dan meninggalkan banyak ruang kosong di lini pertahanan.

    Canggung, bingung, salah kaprahnya Indonesia itu terlihat jelas sejak awal babak. Belum apa-apa, Tommy Latuperisa harus dihadiahi kartu kuning karena pelanggaran keras di menit pertama. Man to man marking Indonesia tak mampu bertahan lama. Pelatih Argentina, Cesar Luis Menotti hanya butuh waktu sekitar tujuh delapan menit untuk mempelajari sistem pertahanan Indonesia.

    Kalau boleh dibilang, blunder bertahan dengan satu bek menempel satu pemain lawan dengan khusus dan ketat ala Indonesia ini sedikit banyak ikut mengorbitkan Diego Maradona. Menotti menugaskan Diego (lihat Diagram 1) sebagai aktor serangan. Maradona (10) ditugaskan untuk memancing bek Indonesia maju mendekat. Kemudian ia harus mengembalikan bola ke para pemain belakang yang sudah siap dengan tiga skema alternatif; beralih menjadi penyerang (3), mengirimkan long pass ke sayap (11, 6, 7). Barisan winger ini sudah siap dengan cut back dan crossing untuk melayani Ramon Diaz (9) yang dituntut bergerak cepat ke depan. Bek Indonesia (x) sudah maju ke depan dan kalah cepat untuk kembali ke posisinya.


    [Diagram serangan Argentina]

    Indonesia langsung hancur. Lima gol harus bersarang di gawang Endang Tirtana pada babak pertama. Ramon Diaz mencetak hat-trick dalam kurun waktu 25 menit. Sementara dua gol lainnya dicetak Maradona pada menit ke-19 dan 39.

    Coach Gareng mengubah taktiknya di pengujung babak pertama. Tanpa man to man marking dan lebih ke zonal marking seiring ditarik keluarnya libero Tommy Latuperisa untuk digantikan bek Eddy Sudarnoto. Di babak kedua, strategi bertahan ini cukup ampuh. Indonesia tak kebobolan lagi dan skor 5-0 bertahan hingga laga usai.

    Sayap "Garuda Muda" Dihancurkan Sayap Polandia

    Indonesia kembali harus menelan kekalahan besar di laga kedua melawan Polandia dua hari berselang di tempat yang sama. "Garuda Muda" yang letih dihajar enam gol tanpa balas.

    Coach Gareng bukannya tak belajar dari laga pertama. Tapi dia memang tak ada pilihan lain selain menerapkan pola yang sama dengan babak kedua saat melawan Argentina. Faktanya, Indonesia juga mampu menahan Argentina tanpa gol selama 45 menit usai turun minum.

    Melawan Polandia, Eddy Sudarnoto yang tampil apik kala menjadi pemain pengganti di babak kedua lawan Argentina, kali ini dijadikan starter. Tommy Latuperisa dicadangkan.

    Dari pilihan formasi, dengan beberapa pertimbangan Gareng tetap menggunakan 4-3-3. Yang pertama, anak asuhnya sudah mulai terbiasa dan alasan lain Polandia dianggap akan menerapkan skema khas eropa kala itu 4-4-2 dengan libero di belakang, atau lebih ke 1-3-4-2. Tim-tim Eropa memang lebih mengandalkan sayap. Secara logika kasar, sayap 4-3-3 memang lebih banyak dari segi jumlah. Setidaknya Indonesia mencoba menahan sayap tim-tim Eropa.

    Dugaan Gareng memang benar. Polandia memang mengandalkan serangan sayap. Namun, sayap Indonesia kalah jauh dari segi kualitas, fisik dan stamina. Belum urusan mental yang tak kunjung bangkit setelah dihajar Argentina dua hari sebelumnya.

    Sayap kiri Polandia yang diotaki Andrzej Palasz lebih hidup dan mematikan (lihat Diagram serangan Polandia). Diagonal pass mereka meluluh-lantakkan Indonesia. Subangkit dan Mundari Karya kalah langkah dan cerdik dengan Palasz. Dalam kurun waktu setengah jam saja, Polandia mampu menggelontorkan empat gol ke gawang Endang Tirtana.



    Indonesia pun takluk 0-6, terkulai dengan sayap-sayap patahnya. Andrzej Palasz dan Krzysztof Baran memborong dua gol, sementara dua gol Polandia lainnya masing-masing dicetak Jan Janiec dan Kazimiers Buda.

    Baru Berani Menyerang Lawan Yugoslavia

    Laga ini menurut FIFA menarik. Sebab, kedua tim yang sudah dipastikan tersisih dan tak lagi dipandang malah menunjukkan permainan menyerang.

    Indonesia memang mulai berani menyerang di laga ini. Tentu saja, laga tanpa target dan tanpa beban. Bambang Nurdiansyah dkk setidaknya menghasilkan 11 peluang. Lima di antaranya berbuah shot on target.

    Tapi catatan itu tak sampai separuh dari apa yang dihasilkan Yugoslavia, yang sepanjang pertandingan mendominasi. Tercatat negara yang kini sudah almarhum itu menciptakan 59 peluang, dan 29 di antaranya shots on goal. Endang Tirtana benar-benar dipaksa kerja keras sejak menit pertama.

    Striker Yugoslavia, Haris Smajic, mencetak gol cepat dan masuk rekor lima besar gol cepat dari event ini dengan catatan waktu 4 menit 56 detik. Nedeljko Milosavijevic lalu memborong dua gol di menit ke 19 dan 63. Setelah Marko Mlinaric mencetak gol di menit ke-73, Smajic menyudahi perlawanan Indonesia dengan gol keduanya di menit ke-77.

    Pemain Punya Modal Taktikal

    Memang, FIFA seolah mengejek Indonesia dalam catatan sejarah event tersebut. Kebobolan 16 gol Indonesia dimasukkan sebagai fakta menarik dari Piala Dunia U-20 tahun 1979. Tapi apakah kita merasa terejek kalau memang faktanya begitu?

    Sebagai pengundang sekaligus badan yang meloloskan Indonesia ke Piala Dunia, FIFA tetap menunjukkan respeknya. Masuk dalam grup maut, apalagi Argentina kemudian juara, FIFA tetap memakluminya dibantainya Indonesia. "Sebelum hasil dari babak ini diketahui, jelas kelihatan kalau ada perbedaan kelas," kata FIFA dalam dokumen laporan penyelenggaraan Piala Dunia U-20 1979.

    Sang pengundang tetap menyanjung Indonesia yang sebenarnya bisa berkembang dan belajar langsung di lapangan di setiap laganya. "Melawan Argentina dan Polandia, tim ini (Indonesia) mampu berimprovisasi di babak kedua. Tapi mungkin tim belum bisa rileks setelah kemasukan banyak gol di babak pertama," sambungan dari tulisan FIFA tersebut.

    Mereka juga memberi masukan untuk sepak bola Indonesia. FIFA menilai, postur kecil Indonesia yang membuat para pemain lebih banyak berlari dengan bola seharusnya dibenahi dengan lebih banyak mengumpan. Meskipun umpan tersebut harus ke belakang.

    Menurut mereka, Indonesia sebenarnya punya modal besar dari segi pemahaman taktik. Mereka mampu belajar langsung dari lawan dan memelajari taktik lawan di lapangan. Hal itu terlihat dalam babak kedua di setiap laga mereka. Tapi tentu saja, semua itu bisa dibenahi dengan memperbanyak pelatih dan didirikannya pusat pendidikan pelatih di Indonesia.

    Ekspektasi atau Ekstasi?

    Setelah event Piala Dunia U-20 1979. Indonesia kembali terlelap dalam buaian mimpi di tidur panjangnya. Upaya untuk lolos ke Piala Dunia, entah itu ditingkat junior, senior, sepakbola pria atau wanita, kita selalu kembali gagal akibat kompleksnya permasalahan persepakbolaan Indonesia.

    Hampir seperempat abad kemudian, kesempatan tampil di Piala Dunia U-20 datang kembali melalui tangan dan perjuangan anak asuh Indra Sjafri. Kesempatan yang datang tidak lagi sebagai undangan atau hibahan menjadi negara pengganti. Peluang yang tetap harus diperjuangkan di lapangan selama Oktober ini.

    Sekali lagi, peluang ini harus dikejar di lapangan. Bukan dibesar-besarkan di luar lapangan seperti yang terjadi saat ini. Sungguh ironis, beberapa pihak malah mengambil keuntungan dari euforia kesuksesan Timnas U-19. Dengan dalih meningkatkan semangat perjuangan; berbagai media berebut hak siar demi meningkatkan rating, beberapa buku berlabel Timnas U-19 --bahkan berembel-embel official-- diterbitkan, hingga sebuah film khusus tentang kesuksesan mereka di Piala AFF U-19 diluncurkan. Tak ada yang salah memang dengan semua itu.

    Tapi hal-hal itulah yang malah menjadi obat tidur yang melenakan bagi kita. Indonesia makin dibuai ekspektasi tinggi. Ekspektasi yang berubah menjadi ekstasi. Melenakan, memabukkan hingga lupa kenyataan. Biarkanlah anak-anak muda itu bertarung habis-habisan di lapangan dengan cara mereka sendiri.

    Ada baiknya kalau ini semua kita kembalikan lagi kepada target utama Indra Sjafri; mewujudkan mimpi tampil di Piala Dunia untuk pertama kali. Kita kembalikan lagi kondisi hingar sekarang ini seperti sebelum Timnas U-19 menjuarai Piala AFF lalu. Sedikit yang peduli, sedikit yang mau tahu atau pun berekspektasi tinggi pada mereka.

    Dukungan langsung datang ke lapangan memang sudah terbukti ampuh. Tapi tak salah kiranya jika tetap mendoakan. Mendoakan yang tidur dan bermimpi agar segera bangun. Bukan malah ambil keuntungan. Akan terlihat seperti pencuri, mengambil keuntungan kala si tuan rumah tertidur.

    "Lekas bangun dari tidur berkepanjangan
    Menyatakan mimpimu...
    Menjelma dan menjadi Indonesia"
    (Menjadi Indonesia ~ Efek Rumah Kaca)


    ====

    * Akun twitter penulis: @fjrhman dari @panditfootball

    (a2s/krs)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game