Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    (Bagian 1)

    Sejarah Kelahiran Ultras di Spanyol

    - detikSport
    Getty Images Getty Images
    Jakarta -

    Apa yang membuat seisi stadion klub-klub di Liga Italia tak lagi nyaring? Salah satu alasannya adalah kehadiran kelompok agresif yang membuat mayoritas penonton tidak nyaman. Kelompok penebar kebencian di dalam stadion seringkali membuat ocehan yang tak enak didengar.

    Lain di Italia, lain di Santiago Bernabeu. Keheningannya tak terlampau jauh. Bedanya, tak ada kursi kosong yang tersorot kamera. Kursi-kursi itu diisi oleh para penggemar yang masih malu-malu meneriakkan yel-yel bersama-sama. Lantas, kehadiran sekelompok orang di tribun selatan memberi warna dari dominasi keheningan Santiago Bernabeu.

    Minggu, 30 November 2014 mestinya menjadi malam yang menyenangkan bagi Atletico Madrid. Mereka berhasil mengalahkan sang lawan, Deportivo La Coruna, dua gol tanpa balas. Kemenangan tersebut tak disambut gegap gempita. Pasalnya, sebelum pertandingan, polisi menyiarkan kabar tak mengenakkan. Seorang pria yang juga penggemar Deportivo, “Jimmy” Romero Taboada, ditemukan tak bernyawa.

    Catatan kepolisian menunjukkan Jimmy meninggal karena hiportemia dan gagal jantung. Mengapa? Karena ia dilemparkan ke Sungai Manzanares saat terjadi bentrokan antara ultras Atletico dan ultras Deportivo sebelum pertandingan.



    Terdengar cukup janggal mendengar kata “ultras” dikaitkan dengan Spanyol. Literatur yang menyediakan informasi pun tak sebanyak pembahasan ultras di Italia, Jerman, ataupun Eropa Timur. Para newbie ultras di Indonesia pun jarang yang membahas ultras Spanyol, apalagi merujuk dan mengadaptasinya di tribun-tribun.

    Terdapat sejumlah faktor yang membuat “ultras” di Spanyol seolah terpinggirkan dan tidak dipandang. Dan itu memang melibatkan dan dipengaruhi oleh banyak aspek sosial politik Spanyol itu sendiri.

    Salah satu referensi mengenai sejarah ultras di Spanyol ditulis oleh Ramon Spaaij dan Carles Vinas. Ramon adalah associate professor di Universitas Victoria, Melbourne, Australia, dan associate professor di Sports Sociology Universitas Amsterdam. Sementara itu, Carles Vinas merupakan doktor dari Universitas Barcelona, Spanyol.

    Keduanya menuliskan hasil penelitian yang terbit dengan judul “Passion, Politics, and Violence: A Socio-historical Analysis of Spanish Ultras”, dan rilis di jurnal Routledge tahun 2005. Riset tersebut menjelaskan tentang kemunculan ultras di Spanyol. Esai ini menggunakan kerangka penelitian di atas sebagai rujukan pokok.

    Terbelenggu Budaya Politik Franco

    Di awal pembentukannya, Spanyol adalah negara otoriter yang dipimpin seorang jenderal. Pemberontakkan bisa ditumpas dengan cepat. Memberontak dengan mengemukakan ideologi dan pandangan baru, amat tidak disarankan pada masa itu.

    Dulu, mereka yang mendukung kerajaan akan mendapat titel khusus. Klub sepakbola misalnya. “Real” yang ada di depan nama klub tidak diraih dengan mudah. “Real” adalah anugerah bagi klub yang mendukung kerajaan. Pun dengan lambang mahkota di atas logo klub. Lambang dan nama tersebut diberikan atas loyalitas klub terhadap kerajaan.

    Dibandingkan sejumlah negara seperti Italia, Inggris, Belanda, Jerman, dan Belgia, ultras terlambat hadir di Spanyol. Pada masa Franco, segala informasi harus melalui berbagai tahapan (baca: sensor) sebelum sampai dan dibaca atau dikonsumsi oleh masyarakat. Pun dengan media yang dibatasi tayangannya.

    Tidak bisa tidak, peran media ini penting dalam pertumbuhan gaya mendukung di tribun. Hooliganisme, dalam kasus Inggris, misalnya, tidak bisa dibaca tanpa menganalisis kemunculannya sebagai bagian tak terpisahkan dari tumbuhnya budaya populer (pop culture).

    Dan budaya populer ini memang berkembang-biak berkat pengaruh media massa. Musik, film, hingga fashion merupakan bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan hooliganisme di Inggris. Dan itu semua, tidak bisa tidak, memang melibatkan media massa sebagai faktor determinan.

    Itu dalam aspek yang sifatnya “luaran”. Dari sisi yang lebih dalam, kemunculan hooliganisme tak bisa dipisahkan juga dari kecenderungan perlawanan anak muda terhadap budaya dominan. Anak muda melakukan perlawanan dengan caranya sendiri terhadap konservatisme, dominasi orang tua dalam kebudayaan, juga otoriterianisme dalam politik.

    Sensor terhadap media dan otoritarianisme yang menggalakkan sensor inilah yang yang membuat pengaruh sub-kultur anak muda, terutama Inggris, terlambat masuk ke Spanyol. Pemerintahan Franco kala itu menekan dengan keras agar pengaruh-pengaruh dari luar—utamanya yang bisa menimbulkan pemberontakan—tumbuh pada diri anak muda Spanyol.

    Di Spanyol, kata “ultras” memiliki konotasi negatif karena dikaitkan dengan kelompok suporter yang brutal. Lambat laun, media menggunakan kata “ultras” bagi mereka yang melakukan kekerasan dan kerusuhan. Malah, “ultras” menjadi kepanjangan dari “ultraderecha” atau far right wing. Pada masa itu, ultras diidentikkan dengan kelompok ultra-nasionalis Spanyol.

    Ini yang membuat terjadi gesekan yang tajam antara ultras sayap kanan dan sayap kiri. Polarisasi tersebut kemudian menyebabkan perbedaan pola pandang terhadap ultras.

    Ultras sayap kanan menganggap dirinya sebagai “true ultras” yang berpaham fasis dan senang melakukan kerusuhan. Sementara itu ultras sayap kiri menolak citra itu dan membubuhi pemahaman baru tentang arti dukungan yang sebenarnya—meskipun pada perjalannya ultras sayap kiri tidak menolak kerusuhan sebagai cara hidup mereka.

    Rasa Iri di Piala Dunia

    Para suporter yang masih masih muda dengan semangat menggelora sebenarnya telah merasakan kegelisahan yang luar biasa. Mereka merasa, untuk ukuran stadion berkapasitas 60 ribu orang, suasana saat itu kelewat sunyi.

    Hingga akhirnya, Franco wafat pada 1975. Perubahan sistem pemerintahan pun dilakukan. Juan Carlos saat itu terpilih menjadi Raja Spanyol dan berusaha membenahi demokrasi di sana. Pada Mei 1982, Partai Sosialis Buruh Spanyol memerintah di Spanyol. Ini kali pertama dalam 43 tahun terakhir, pemerintah diisi orang-orang dari golongan sayap kiri.

    Sebulan kemudian, Piala Dunia digelar dengan Spanyol sebagai tuan rumahnya. Penampilan timnas Spanyol tak bagus-bagus amat. Mereka hanya mencapai babak kedua fase grup setelah dikalahkan Jerman Barat 1-2 dan ditahan imbang Inggris tanpa gol.

    Namun, ada kesan yang begitu mendalam dari dalam hati anak muda Spanyol. Piala Dunia 1982 merupakan tolakan awal dari penuntasan rasa ketidakpuasan atas kultur tribun di Spanyol. Kehadiran sejumlah suporter dari berbagai negara semakin membuka pintu masuknya pengaruh budaya luar.

    Mereka sempat bertemu langsung dalam satu tribun dengan suporter Yugoslavia, Irlandia Utara, Honduras, Jerman Barat, dan Inggris. Mereka memahami bahwa terdapat banyak cara untuk menikmati sepakbola.

    Jurnalis Spanyol, Juan Segura Palomares, mendeskripsikan bagaimana pemandangan di tribun kala itu:

    "Ribuan orang Italia, dengan teriakan dan benderanya—merah, putih, dan hijau—menjawab ribuan (fans) Brasil yang menggunakan jersey kuning dengan bendera hijau dan bola dunia di tengahnya. (Fans Brasil) berdansa samba sekuat tenaga, sensual, dan terus menerus. Itu seperti pemandangan halusinasi. Banyak socios Espanyol yang hadir menangis karena emosi melihat Sarria (Stadion Espanyol) yang mereka cintai berubah menjadi pusat pesta dunia yang disiarkan oleh televisi ke seluruh dunia."

    Ramon dan Carles menyebut, kehadiran ultras pertama di Spanyol muncul di kota-kota yang menyelenggarakan pertandingan Piala Dunia seperti Madrid, Barcelona, Sevilla, Bilbao, Gijon dan Valencia. Pula yang mengenakan ikat kepala dengan baju gamis dengan janggut putih.

    Kini, kecenderungan itu muncul di Spanyol. Banyak turis yang datang saat hari pertandingan menuju Santiago Bernabeu. Tidak sedikit pula yang mungkin tidak tahu Real Madrid itu mengenakan baju warna putih atau biru dan merah. Namun, sesungguhnya mereka adalah aset bagi Real Madrid, dan Spanyol pada umumnya, karena mereka turut membantu menggerakkan roda perokonomian negara tersebut.

    Tidak ada yang bisa melarang seseorang memilih pandangan hidupnya. Mau itu liberal, konservatif, atau apapun, semuanya sah-sah saja. Namun, kita perlu ingat bahwa dalam konsensus umum menyakiti orang lain adalah sebuah kesalahan yang mestinya dihukum dengan sepadan.

    Budaya Tanding sebagai Hasil Interaksi

    Jika kita melihat evolusi perkembangan sejarah taktik sepakbola, terlihat bagaimana taktik berkembang karena pertemuan antarkebudayaan sepakbola yang masing-masing memiliki akar dan gaya berbeda satu sama lain.

    Yang sudah jadi klasik, dan kerap dijadikan contoh, adalah bagaimana Inggris dikalahkan oleh Hongaria dalam laga legendaris di Stadion Wembley pada 25 November 1953. Secara mengejutkan, dan itu menyesakkan, Inggris yang merasa superior karena menganggap dirinya sebagai penemu sepakbola, dikalahkan 3-6 oleh Puskas dkk.

    Kekalahan itu, betapapaun menyesakkan dan memalukannya, membuat Inggris tersadar bahwa tak bisa lagi mengerek kejayaan dengan alasan tradisi dan aspek kesejarahan. Sepakbola telah berkembang sedemikian rupa, dan negara lain telah menemukan banyak hal baru dalam cara mereka memainkan sepakbola.

    Inggris kemudian berbenah, termasuk mempelajari pendekatan baru dalam taktik. Mereka kemudian berhasil memetik buahnya di Piala Dunia 1966 dengan formasi klasik 4-4-2. Sepakbola Inggris pun berubah.

    Inilah yang juga terjadi dalam hal budaya suporter di tribun. Apa yang terjadi dengan Spanyol pada Piala Dunia 1982 sekali lagi telah memperlihatkan, hingga batas tertentu, bahwa kebudayaan menonton sepakbola juga dibentuk dan terbentuk melalui serangkaian interaksi (budaya) dengan kebudayaan menonton sepakbola yang lain.

    Hanya dengan itu pula, tidak hanya Spanyol, kita bisa membaca apa yang terjadi dalam budaya menonton sepakbola di Indonesia yang belakangan semakin marak dan kaya warna.

    [Bersambung]


    ====

    * Akun twitter penulis: @Aditz92 dari @panditfootball

    (din/a2s)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game