Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Menyiasati Bulan Ramadan bagi Pemain Sepakbola

    Abimanyu Bimantoro - detikSport
    AFP AFP
    Jakarta -

    Bulan Ramadan telah tiba, seluruh muslim di dunia akan menjalani ibadah puasa selama satu bulan. Dengan begitu, semua umat muslim tidak akan mengkonsumsi makanan dan minuman dari matahari terbit hingga matahari tenggelam. Hal ini tentu saja akan membuat kondisi tubuh berubah. Tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman di siang hari tentu saja akan membuat asupan energi ke dalam tubuh pun akan berkurang.

    Namun, kondisi ini tidak menjadi alasan bagi seorang muslim untuk mengurangi aktivitasnya. Meski tidak bisa mengkonsumsi makanan di siang hari selama satu bulan, mereka tetap harus menjalankan aktivitas sebagaimana mestinya. Begitu juga dengan pemain sepakbola. Beberapa pemain sepakbola profesional harus tetap menjalani latihan dan bertanding, meski dalam kondisi berpuasa.

    Sepakbola sendiri adalah olahraga yang membutuhkan energi yang luar biasa. Seorang pemain sepakbola dapat berlari hingga lebih dari 5 kilometer dalam 90 menit. Ditambah lagi mereka harus menggabungkan aktivitas lain seperti berlari, melompat, menendang, dan berbagai kegiatan lainnya selama 90 menit tersebut. Karena itu, energi yang dibutuhkan pastilah sangat besar.

    Karena itu juga, akan menjadi pertanyaan bagaimana seorang pemain sepakbola tetap bisa menjalani kegiatannya dalam keadaan berpuasa? Terlebih bagi para pemain sepakbola di klub-klub Eropa dianggap bermain dalam level tertinggi, di mana intensitas permainan pada level tersebut tentu akan jauh lebih tinggi dibandingkan permainan di level yang lebih rendah.

    Permasalahan ini tentu saja sudah banyak dibahas oleh para ahli sains olahraga di dunia. Salah satunya dilakukan pada November 2011 di Qatar. Dalam sebuah konferensi yang diadakan oleh Aspetar Orthopaedic Centre, diangkat tema yang membahas soal Ramadan dan sepakbola.

    Dalam konferensi ini, Dr. Yacine Zerguini, seorang ahli orthopedi asal Aljazair, mengatakan bahwa persoalan pemain sepakbola dan puasa memang merupakan satu hal yang sulit untuk dijelaskan. Hingga kini belum ada penelitian yang bisa menjelaskan dengan pasti bagaimana penanganan yang tepat terhadap pemain sepakbola yang harus berpuasa saat bertanding. Pasalnya, hal ini akan sangat kondisi fisik dari masing-masing pemain.

    Pemain yang memiliki kondisi fisik yang baik tentu akan tetap mampu bermain sebagaimana biasanya meski tidak mengkonsumsi makanan dan minuman. Selain kondisi fisik, Dr. Yacine juga meyakini bahwa kondisi mental juga sangat mempengaruhi kondisi tubuh sang pemain. Pemain yang meyakini bahwa puasa tidak mempengaruhi kondisi tubuhnya akan lebih mampu mempertahankan performanya ketimbang pemain yang tidak terlalu yakin.

    Hal ini pula yang dialami oleh salah satu pemain sepakbola muslim, Frederick Kanoute, saat masih berkarir. Ia mengatakan bahwa ia sangat yakin jika puasa justru membuatnya semakin kuat ketika bertanding. Karena itulah berpuasa sama sekali tidak mempengaruhi performanya di lapangan.



    Memang juga tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi fisiologi pemain akan menurun saat sedang menjalani puasa. John B. Leiper, seorang ahli sains olahraga dari Univesitas Loughborough, Inggris, melakukan penelitian terhadap 79 pemain sepakbola Tunisia. 48 dari 79 pemain tersebut menjalankan ibadah puasa sedangkan 31 lainnya tidak. Seluruh pemain kemudian menjalani latihan selama 60-80 menit.

    Dari hasil penelitian, didapat bahwa kelompok yang menjalani ibadah puasah memiliki rata-rata detak jantung lebih kencang. Dari 48 pemain yang menjalani puasa, rata-rata detak jantung mereka saat latihan mencapai 144 beats/menit, sedangkan untuk kelompok yang tidak berpuasa hanya 139 beats/menit. Hal ini menunjukan bahwa tubuh para pemain yang berpuasa bekerja lebih keras ketimbang tubuh para pemain yang tidak berpuasa.

    Namun, hasil tersebut juga tidak bisa menyimpulkan bahwa berpuasa mengganggu kinerja para pemain. Pasalnya, dalam penelitian tersebut juga disebutkan bahwa seluruh pemain dari kedua kelompok sama-sama mampu melalui latihan intensitas dengan hasil yang serupa. Hal ini menunjukan bahwa performa seluruh pemain yang berpartisipasi tidak menurun meski sebagian diantara mereka sedang menjalani puasa.

    Mantan dokter tim Liverpool, Zaf Iqbal, memberikan saran untuk menyiasati asupan makanan yang cukup bagi pemain-pemain yang berpuasa. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah jenis makanan yang dikonsumsi saat malam hari dan sahur. Zaf mengatakan bahwa pemain harus menghindari makanan yang mengandung karbohidrat yang cepat dicerna oleh tubuh.

    Makanan yang baik dikonsumsi oleh para pemain adalah makanan yang mengandung karbohidrat lebih lama dicerna. Sehingga setelah sahur tubuh tidak akan langsung melepas glukosa menjadi energi yang sia-sia melainkan energi akan dilepas secara bertahap selama waktu puasa. Zaf memberikan contoh ubi dan jagung sebagai makanan dengan karbohidrat yang lebih lama dicerna oleh tubuh sehingga akan baik dikonsumsi oleh para pemain.



    Selain jenis makanan, cara mengkonsumsinya pun tidak bisa sembarangan. Zaf menyarankan untuk mengkonsumsi makanan tersebut dalam porsi kecil namun berulang-ulang kali pada malam hari hingga sahur. Cara ini akan lebih baik ketimbang hanya dua kali makan (makan malam dan sahur) dengan porsi yang besar.

    Di samping asupan makanan, asupan cairan juga tentu saja tidak bisa dilupakan. Apalagi bagi seorang pemain sepakbola, cairan juga merupakan hal yang sangat penting. Kekukarangan cairan akan berdampak pada penurunan performa hingga meningkatnya risiko cedera pada pemain.

    Karena itulah Zaf pun tidak mau para pemainnya kekurangan cairan saat berpuasa. Saat menangani Liverpool, ia memberikan kapsul yang mengandung elektrolit kepada pemain-pemain yang berpuasa. Kandungan elektrolit pada kapsul ini akan menjaga kandungan cairan di dalam tubuh para pemain.

    Cara lain untuk tetap menjaga cairan tubuh saat berpuasa juga bisa dilakukan dengan mengkonsumsi air putih pada malam hari hingga sahur. Sama dengan cara mengkonsumsi makanan, mengkonsumsi air dalam jumlah sedikit namun berulang-ulang kali akan jauh lebih baik ketimbang langsung mengkonsumsi air dalam jumlah banyak dalam satu waktu. Setidaknya pemain harus minum satu gelas setiap jamnya pada malam hari. Memasukan air dalam jumlah banyak ke dalam tubuh hanya akan membuat tubuh langsung mengeluarkannya melalui keringat atau air kencing.

    Karena itu, pada dasarnya puasa memang tidak mengganggu aktivitas seseorang, termasuk aktivitas para pemain sepakbola. Seorang pemain sepakbola akan tetap mampu menjalani aktivitasnya meski dalam kondisi berpuasa. Hanya saja, memang dibutuhkan penanganan yang tepat agar bisa menjaga kondisi tubuh meski tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman di siang hari.

    ====

    *ditulis oleh @aabimanyuu. Penulis biasa menulis dan membahas mengenai sport science di situs @panditfootball.



    (roz/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game