Selasa, 24 Januari 2017

Tren Taktik Premier League Inggris 2016

Dex Glenniza - detikSport
Senin, 09/01/2017 12:39 WIB
Tren Taktik Premier League Inggris 2016Foto: Photo by Dan Mullan/Getty Images
Dengan hadirnya banyak manajer top di Premier League Inggris, liga ini menjadi kiblat taktik sepakbola sepanjang tahun 2016, terutama di paruh musim 2016/2017. Segala macam taktik sepakbola ada di Premier League.

Ingin menyaksikan keindahan sepakbola tiki-taka, ada Pep Guardiola di Manchester City. Ingin menyaksikan sepakbola yang menekan, ada Mauricio Pochettino di Tottenham Hotspur. Ingin menyaksikan sepakbola heavy metal, ada Jürgen Klopp di Liverpool. Ingin menyaksikan sepakbola ala catenaccio, ada Antonio Conte di Chelsea. Ingin melihat sepakbola bertahan, ada José Mourinho di Manchester United. Sampai-sampai ingin menyaksikan sepakbola klasik Inggris dengan kick and rush, ada Toni Pulis di West Bromwich Albion.

Selain nama di atas, ada 14 manajer dan kesebelasan lagi yang bisa disebutkan. Belum lagi bagi mereka yang sudah dipecat atau belum ditunjuk (sampai tulisan ini dibuat, Hull City masih belum memiliki manajer pasca memecat Mike Phelan).

Pertemuan berbagai taktik dan gaya permainan ini membuat hampir seluruh pertandingan Premier League menjadi pertandingan yang unik. Tapi meskipun demikian, kami bisa melihat adanya beberapa tren taktik utama yang sangat berkembang pada 2016 yang lalu.

Permainan Menekan

Pergeseran tren bisa jelas kita lihat dari cara beberapa kesebelasan dalam bermain. Bagi beberapa manajer, penguasaan bola (possession) tetap menjadi konsep utama dalam taktik permainan sepakbola. Namun sejujurnya tidak banyak kesebelasan yang mampu menerapkan sepakbola possession dengan baik dan benar.

Arti "Sepakbola possession yang baik dan benar" ini memang agak rancu. Tapi kurang-lebih akan seperti ini: menguasai sebagian besar penguasaan bola, banyak mengoper, tidak membiarkan lawan sering menguasai bola, dan pada akhirnya bisa mencetak gol dengan bermain seperti demikian.

Kesulitan penerapan konsep ini ditandai dengan sedikitnya kesebelasan sukses yang menerapkan possession football. Jika mau memberi contoh, ujung-ujungnya kita akan membahas FC Barcelona.

Maka dari itu, pressing kemudian hadir sebagai dua hal, yaitu sebagai cara kesebelasan benar-benar menerapkan penguasaan bola (dengan merebut penguasaan bola lawan); sekaligus sebagai cara kesebelasan untuk keluar dari jeratan possession football lawan.

[Baca juga: Strategi Pochettino yang Membuat City-nya Guardiola Telan Kekalahan Pertama]

Bahkan dalam sebuah pertandingan dengan 50% berbanding 50% penguasaan bola sekalipun, kita tetap bisa menemukan siapa kesebelasan yang lebih mendominasi, sehingga penguasaan bola saja memang tidak cukup. Oleh karena itu, permainan menekan semakin berkembang setiap waktunya. Counterpressing dan gegenpressing, keduanya memiliki arti yang sama, adalah dua contoh terbaik.

[Baca juga: Counterpressing vs Gegenpressing yang Berakhir Imbang]

Kita bisa melihat Pochettino bersama Spurs dengan tekanan mereka untuk memenangi bola secara cepat. Kemudian Klopp menerapkan pressing dengan maksud memenangkan bola seketika ketika bola tersebut direbut oleh lawan, terutama jika masih di wilayah lawan. Sedangkan Guardiola juga memainkan taktik serupa dengan cara yang berbeda, yaitu menutup opsi-opsi operan lawan, untuk kemudian merebut bola dengan intersep.

Tren Taktik Premier League Inggris 2016Foto: Jan Kruger/Getty Images

Pertandingan yang melibatkan taktik pressing ini ternyata, menurut saya, menjadi pertandingan yang sangat menarik. Dari kedua tautan di atas, kita bisa melihat bahwa fokus kesebelasan yang menerapkan tekanan adalah untuk mengganggu permainan lawan alih-alih melancarkan permainan (serangan) sendiri.

Namun hal negatifnya, kita akan melihat pertandingan yang melibatkan pressing, baik salah satu atau kedua kesebelasan, akan menjadi pertandingan yang lebih berdasarkan kepada mengganggu permainan lawan daripada membangun atau mengkreasi permainan sendiri.

Penggunaan Sistem Tiga Bek

Menjadi manajer Chelsea, Conte sempat menerapkan formasi 4-1-4-1 di kesebelasan barunya tersebut, tapi ia tidak kunjung mendapatkan rentetan hasil positif. Ia justru mendapatkan hasil negatif.

Kemudian saat kalah 0-3 melawan Arsenal di Emirates, hal ini lah yang mengubah nasib Chelsea sampai paruh musim. Secara sederhana, ia menerapkan formasi yang selalu ia pakai sejak ia menjadi manajer Juventus dan tim nasional Italia, yaitu sistem tiga bek. Sejak memakai sistem tiga bek itu, Chelsea langsung menggebrak Premier League.

[Baca juga: Ketidaksempurnaan Chelsea di 20 Menit Pertama yang Dimanfaatkan Arsenal]

Secara sederhana, kekuatan utama formasi tiga bek (3-4-3) Conte adalah sebagai berikut: Chelsea bermain dengan kedua wing-back yang energik ditambah dua gelandang (bertahan) yang statis. Ketika kesebelasan lawan sedang bertahan, mereka akan berhadapan dengan lima pemain Chelsea (3-2-5). Ketika kesebelasan lawan sedang menyerang, mereka akan menghadapi dua gelandang bertahan kemudian di belakangnya ada lima bek (5-2-3).

Mungkin karena "sederhananya" taktik ini, sampai-sampai ada beberapa kesebelasan Premier League yang meniru Chelsea. Ronald Koeman sempat meng-copy taktik Conte saat Everton menghadapi Chelsea, tapi mereka malah dibantai 0-5. David Moyes juga sempat mencontek Conte saat menghadapi Chelsea, meskipun sempat berhasil menahan imbang, tapi pada akhirnya Sunderland kalah 0-1. Pochettino melakukan "pencontekan" taktik tiga bek ini bahkan beberapa kali. Misalnya saat mereka menahan imbang Arsenal.

[Baca juga: Cara Sistem Tiga Bek Spurs Meredam Arsenal]

Mengomentari pencontekan tersebut, Pochettino tak mau mengalah. "Hanya karena Chelsea menang 5-0 [melawan Everton] kemarin, bukan berarti mereka menemukan sistem [tiga bek] ini," kata Pochettino setelah pertandingan North London derby tersebut.

Tren Taktik Premier League Inggris 2016Foto: Mike Hewitt/Getty Images

Puncak aplikasi sistem tiga bek ini baru saja terjadi kemarin ketika Spurs menjamu Chelsea. Kedua kesebelasan sama-sama memainkan formasi tiga bek, tapi Pochettino mampu memainkan pressing lebih baik, sehingga Chelsea pada akhirnya mengalami kekalahan pertama mereka di Premier League sejak mereka menerapkan sistem tiga bek.

[Baca juga: Pressing Membuat Formasi Tiga Bek Tottenham Lebih Fantastis]

Tidak Masalah Tanpa Ujung Tombak

Jika Anda senang bermain Fantasy Premier League (FPL), maka nama Alexis Sánchez pastinya sudah menjadi buah bibir dengan menjadi pencetak skor terbanyak di FPL dengan 143 poin (sampai pekan ke-20). Padahal pemain asal Chile tersebut didaftarkan sebagai gelandang di FPL.

Tapi pada kenyataannya di pertandingan-pertandingan Arsenal, Sánchez lebih sering bermain sebagai penyerang. Namun, posisi penyerang ini tidak lantas membuat Sánchez berada pada posisi terdepan. Ia sering bergerak turun dan melebar, sehingga posisi Sánchez sebagai penyerang bukanlah posisi Sánchez sebagai ujung tombak. Ada perbedaannya di sini.

Kita mungkin mengenal penyerang yang sering bergerak turun, melebar, dan menciptakan ruang bagi rekan-rekannya ini dengan sebutan false nine. Sánchez adalah salah satu contohnya. Sementara contoh terbaik mungkin akan kita dapatkan dari Liverpool.

Klopp lebih sering memainkan Roberto Firmino sebagai penyerang, meskipun ia memiliki Daniel Sturridge, Divock Origi, dan Christian Benteke (di awal musim, sebelum dijual ke Crystal Palace).

Tren Taktik Premier League Inggris 2016Foto: Getty Images Sport/Gareth Copley

Secara alami, Firmino berposisi sebagai gelandang serang. Tapi sejak ditangani oleh Klopp, ia bisa menjadi pemain nomor 9 yang lebih dinamis dan bisa menyediakan ruang, operan, dan peluang baginya maupun bagi rekan-rekannya.

[Baca juga: Satu Serangan Balik Liverpool yang Berhasil di Tengah Padatnya Lini Tengah]

Sánchez dan Firmino adalah dua contoh terbaik dari penggunaan penyerang yang bukan sebagai ujung tombak. Dalam beberapa kasus, kita juga bisa melihat Harry Kane bergerak turun dan melebar untuk Tottenham Hotspur, dan bahkan Zlatan Ibrahimović tak segan melakukan hal yang sama meskipun tidak sesering Sánchez, Firmino, dan Kane.

Umpan Silang Sebagai Jalan Keluar Andalan

Kalau yang satu ini bukan hanya terjadi di Premier League, tetapi hampir di seluruh dunia, bahkan di Indonesia, yaitu penggunaan umpan silang sebagai jalan keluar andalan. Jika sebuah kesebelasan mengalami kebuntuan, mereka hampir pasti akan mengeluarkan senajata andalan mereka ini: crossing.

Bagi kesebelasan seperti Palace atau West Brom, mungkin kita bisa memahaminya. Alan Pardew, saat masih menjabat sebagai manajer Palace, dengan terang-terangan membeberkan taktiknya yaitu untuk mengirim umpan silang sebanyak-banyaknya ke kotak penalti lawan, untuk menyervis Benteke ataupun Scott Dann yang memiliki keunggulan dalam duel udara.

Tapi menariknya, angka crossing di pertandingan Premier League tidak pernah rendah. Meskipun lebih banyak umpan silang yang gagal daripada yang berhasil, sampai-sampai statistik akurasi operan tidak termasuk menghitung umpan silang, hampir semua kesebelasan menerapkan hal ini.

Sampai selesainya pekan ke-20, tercatat ada 8.056 umpan silang tapi hanya 1.818 saja (22,5%) yang berhasil mencapai sasaran; sementara 6.238 sisanya adalah gagal.

Swansea City menjadi kesebelasan yang paling banyak menyelesaikan umpan silang mereka, yaitu 133. Sementara Palace ada di peringkat kedua dengan 125. Untuk pemain, Dimitri Payet menjadi pemain nomor satu dengan umpan silang sukses terbanyak (50), disusul oleh Gylfi Sigurdsson (48), Kevin de Bruyne (44), dan Jason Puncheon (35).

Kalau dipisahkan berdasarkan menit permainan, angka umpan silang ini memang akan meningkat pada menit menjelang akhir pertandingan, terutama untuk kesebelasan yang sedang tertinggal.

Tren Taktik Premier League Inggris 2016Foto: Action Images via Reuters / Jason Cairnduff

Pada poin ini, sepertinya tidak masalah siapa yang mengumpan dan siapa yang diumpan, yang penting kirimkan bola saja ke kotak penalti lawan. Meskipun demikian, beberapa kesebelasan memang kerap memainkan penyerang bertipe ujung tombak (target forward) menjelang akhir pertandingan, seperti Olivier Giroud (Arsenal); sementara kesebelasan lawan juga memiliki kecenderungan memasukkan pemain bertahan yang tinggi dengan harapan bisa memenangi duel udara tersebut untuk menghindari kebobolan, seperti Marouane Fellaini (Manchester United).

[Baca juga: (Sebenarnya hampir semua pertandingan mencerminkan tren taktik ini, tapi pertandingan ini adalah salah satunya) Pergantian Pemain Jitu Hindarkan Arsenal dari Kekalahan atas MU]

Pembahasan mengenai umpan silang ini memang menarik dan tidak sesederhana kelihatannya. Tapi mungkin akan saya simpan untuk pembahasan selanjutnya.

Kesimpulan

Sepanjang satu tahun ke belakang, sebenarnya kita mungkin bisa menemukan banyak taktik yang menarik di Premier League Inggris. Namun memang ada beberapa taktik yang menjadi tren. Empat di antaranya ada dalam pembahasan di atas.

Tidak dimungkiri, kehadiran manajer-manajer kelas dunia di Liga Primer seperti Antonio Conte, Jürgen Klopp, Mauricio Pochettino, Pep Guardiola, Arsène Wenger, José Mourinho, Ronald Koeman, dan manajer-manajer lainnya, turut memengaruhi perkembangan taktik di setiap pertandingan Premier League, khususnya di paruh musim 2016/2017 ini.

Namun, saya juga kembali mengingatkan bahwa taktik sepakbola itu, siapa pun manajernya dan siapa pun kesebelasannya, sebenarnya tidak sesaklek yang kita baca pada tulisan ini maupun tulisan-tulisan lainnya di manapun kita membacanya.

[Baca juga: Taktik Sepakbola Bukan Pengetahuan Rahasia]

Semua terjadi karena di sepakbola itu yang penting adalah menang dan juara, apapun taktik yang dipakai. Kita pasti ingat Yunani bisa juara Piala Eropa 2004 sebusuk apapun taktik bertahan mereka. Pada akhirnya memang: taktik itu fana, kemenangan itu abadi!


====

* Penulis biasa menulis soal sport science untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @dexglenniza


(krs/krs)


Redaksi: info[at]detiksport.com
Informasi pemasangan iklan
email: sales[at]detik.com

Quotes

  • Real Madrid is the most important thing that happened to me, both as a footballer and as a person.
    Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/authors/z/zinedine_zidane.html
    "I’d rather have that role (the super sub) and make an impact than play 200 games and be average.."

    Ole Gunnar Solskjaer

  • "Every disadvantage has its advantage."

    Johan Cruyff