Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Umpan Silang

    Arogansi Sepakbola Menyerang

    - detikSport
    AFP AFP
    Jakarta -

    Pep Guardiola adalah salah satu pelatih sepakbola paling cool yang pernah ada. Ia terlihat berbeda dengan rekan sejawatnya dan perbedaannya bahkan bisa terlihat dari gaya berpakaiannya.

    Dengan rompi sweater yang membungkus tubuhnya yang masih atletis dan dilapis oleh jas body fit yang membuat dirinya tak akan terlihat salah tempat jika berjalan di catwalk, Guardiola adalah Marty Natalegawa-nya pelatih sepakbola. Di antara anggota kabinet sepakbola yang selera berpakaiannya nyaris tak berkelas, ia adalah primadona. Pembawaannya pun tenang dan dingin. Maka ketika Guardiola sedikit menunjukkan emosi, kita tahu ada sesuatu yang benar-benar membuatnya kesal.

    Usai pertandingan melawan Manchester United di perempatfinal Liga Champions paruh pertama, Guardiola kehilangan ketenangannya saat ia dengan ketus menegur wartawan harian The Guardian di konferensi dengan kalimat "look at me when I talk to you!"

    Apa yang terjadi berikutnya adalah semacam reka ulang dari adegan legendaris karakter Travis Bickle yang diperankan Robert De Niro di film Taxi Driver saat Guardiola dan sang wartawan bertukar kalimat "Are you talking to me?". Guardiola bahkan harus ditenangkan oleh wartawan yang merasa bahwa tensi tiba-tiba memanas dan insiden minor tersebut menarik perhatian media lain hingga dijadikan headline di koran-koran Jerman.

    Yang membuat Guardiola uring-uringan jelas karena Bayern Munich gagal mengalahkan tim asuhan David Moyes yang di Liga Inggris yang musim ini bermain super buruk. Tapi apa yang lebih membuat Guardiola kesal sebenarnya bukan hanya hasil, tapi juga realita bahwa Manchester United bermain superdefensif dengan menumpuk 9 pemain di depan kotak penalti yang membuat Bayern tak bisa nyaman mengalirkan bola.

    Walaupun Guardiola menolak untuk mengakui saat ditanya apakah ia kesal dengan gaya bermain negatif dari United, nada suara dan kondisi emosionalnya benar-benar terlihat bahwa ia tak senang dengan skema ultra defensif dari Moyes. Arjen Robben tak sediplomatis bosnya ketika ia mengatakan bahwa United bermain seperti tim bola tangan yang membuat sangat sulit bagi Bayern untuk mendistribusikan bola seperti biasa.

    Saya tak ingin membela Manchester United --sulit untuk membela Moyes musim ini, bahkan pengacara paling korup sekalipun akan menolak untuk merepresentasikan dia di pengadilan karena probabilitas kemenangan yang kecil-- tapi kekesalan Guardiola dan pernyataan Robben adalah salah satu bentuk dari apa yang saya percaya sebagai arogansi sepakbola menyerang.

    Seperti halnya para penggemar musik klasik, para pengusung sepakbola menyerang selalu merasa bahwa derajat mereka lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memainkan sepakbola pragmatis. Para imam besar Total Football dan tiki-taka percaya bahwa mereka adalah ras pilihan Ilahi sedang yang lainnya hanya warga sepakbola kelas dua yang seharusnya tinggal di ghetto. Ada kejijikan luar biasa saat melihat tim lawan membuat barikade lapisan pemain yang membentengi wilayah pertahanan.

    Ketika Chelsea bertemu West Ham United musim ini yang berkesudahan imbang tanpa gol, Jose Mourinho menuduh pasukan Sam Allardyce memainkan sepakbola abad 19 dengan permainan fisik ultrakeras dan satu-satunya rencana Allardyce hari itu hanya mengirimkan bola lambung jauh ke depan. Kick and Rush 101.

    Tentu saja menggelitik melihat The Special One mengkritik lawannya memainkan sepakbola primitif karena Mourinho sendiri selama ini lebih identik dengan pragmatisme serupa. Saat dirinya menangani Real Madrid misalnya, berapa kali kita melihat El Clasico berubah menjadi pertandingan antara Barcelona melawan tim WWE Smackdown dengan Pepe sebagai antagonis utama?

    Nama lain yang akan membuat para pemuja sepakbola menyerang lain menggelinjang adalah Tony Pulis, seorang profesor emeritus dalam bidang direct football. Pulis harus punya kuil pemujaan sendiri di kalangan pragmatis karena pernah dalam semusim menjadikan lemparan ke dalam sebagai senjata utamanya (Rory Delap! Selamat pensiun!). Arsene Wenger adalah salah satu eksponen anti Pulis terbesar yang mengeluh berulang kali kepada media betapa tim asuhan Pulis, dulu Stoke dan sekarang Crystal Palace, tak pernah benar-benar berniat memainkan sepakbola di lapangan hijau.

    Memang benar bahwa sepakbola menyerang lebih sedap dipandang mata dan jauh lebih menghibur. Membandingkan tiki-taka dengan sepakbola ala Sam Allardyce tentu saja timpang dari segi hiburan. Tapi para pengusung sepakbola menyerang lupa bahwa seperti jalan menuju Roma, ada banyak cara untuk mencapai tujuan akhir sebuah pertandingan olahraga: kemenangan.



    Apa yang dilakukan Manchester United saat menghadapi Bayern tengah pekan lalu ada sebuah mekanisme untuk mempertahankan diri (self-defense mechanism). Tak perlu teori psiko-analisis Freud untuk mengambil kesimpulan bahwa United kalah segalanya dibanding Bayern. Kalah kualitas individu, kalah kelas lini per lini, strategi di lapangan yang tak pernah baku musim ini, tak mungkin United akan membiarkan diri mereka terbuka untuk diekspos Bayern.

    Di titik inilah arogansi para pengusung sepakbola menyerang tak tertahankan. Mereka mengeluh dan merajuk seolah-olah menjadi kewajiban bagi tim lawan untuk memberikan ruang kepada tim mereka untuk mengalirkan bola. Setiap kali lawan yang secara kualitas inferior menggantungkan nasib pada menumpuk pemain sebanyak mungkin, tim yang doyan tiki-taka murka karena merasa hak mereka dicabut.

    Jika pola pikir para imam besar sepakbola menyerang diikuti para jenderal militer negara besar di era terdahulu, bisa-bisa mereka melakukan protes keras terhadap taktik perang gerilya yang dilakukan para pejuang dan milisi.

    "Ah, perang apaan tuh ngumpet-ngumpet? Para milisi ini tak berniat untuk perang sungguhan. Abis nembak, terus kabur... Mereka berperang seperti anak SMA tawuran," mungkin begitu yang akan dikeluhkan jenderal-jenderal Belanda terhadap pejuang kemerdekaan Indonesia.

    Mereka yang mencela sepakbola ultradefensif lupa bahwa pertahanan yang super ketat sekalipun tak akan memenangkan pertandingan dengan sendirinya. Untuk mendapatkan kemenangan, tim yang bertahan total masih harus mencetak gol ke gawang lawan. Kesempatan terbaik bagi mereka untuk membobol gawang lawan datang saat momen serangan balik di mana mereka berharap akan mendapati lawan mereka keasyikan menyerang dan lengah di lini belakang.

    Maka, dengan bertahan ketat dengan menaruh lapisan barikade pemain di lini belakang, tim yang inferior tidak hanya mempertahankan hidup mereka, namun juga mengintai kesempatan untuk melukai lawan.

    Ini adalah salah satu dasar ilmu perang di mana saat berhadapan dengan lawan yang jumlahnya lebih banyak, maka kondisikanlah situasi di mana keuntungan jumlah lawan tak berarti banyak.

    Apa yang dilakukan Raja Leonidas dan laskar Sparta ketika pasukan Persia yang jumlahnya berkali-kali lipat menyerbu mereka? Leonidas memindahkan lokasi peperangan melalui celah sempit di mana tentara Persia tak bisa melindas pasukan Sparta dengan jumlah mereka yang besar. Ini adalah soal mematikan kelebihan lawan.

    Kita menganggap strategi perang Leonidas ini jenius, namun mengapa kita malah mencibir tim inferior yang bertahan total saat berhadapan dengan lawan yang jauh lebih hebat? Manchester United, sama seperti West Ham United dan Stoke era Tony Pulis, hanya ingin mematikan kelebihan lawan dengan menghambat distribusi bola lawan. Mereka membawa pertandingan ke situasi di mana keuntungan skill dan taktik para pemain Bayern tak akan bermakna banyak.

    Seperti sudah disebutkan di atas, menilai bahwa United memainkan sepakbola membosankan adalah satu hal, tapi mencela strategi sepakbola mereka karena hanya itu yang bisa mereka lakukan adalah hal lainnya.

    Hanya ada 2 cara untuk melawan sepakbola tiki-taka: mengadopsi gaya permainan yang sama dan mengimplementasikannya dengan lebih baik --seperti yang dilakukan Bayern Munich sendiri terhadap Barcelona musim lalu, atau mempraktekkan taktik kunci grendel yang sudah pernah sukses dilakukan beberapa tim termasuk Chelsea 2 musim lalu.

    Dalam pertandingan leg kedua di Allianz Arena, besar kemungkinan kita akan melihat lagi tumpukan pemain United karena itu strategi terbaik yang bisa mereka lakukan. Tak sedap dipandang mata, iya, tapi menganggapnya lebih hina dibanding sebuah sepakbola menyerang adalah sebuah kesalahan persepsi.

    Kemenangan tetap tujuan akhir dari sebuah pertandingan sepakbola. Proses hanya isapan jempol yang terlalu diglorifikasi untuk meluputkan diri dari kecaman. Kalau tidak percaya, tanya saja Arsene Wenger.


    ====

    * Penulis adalah satiris dan presenter olahraga. Bisa dihubungi melalui akun twitter @pangeransiahaan



    (a2s/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game