DetikSport
Rabu 22 November 2017, 18:42 WIB

Perbasi Akan Libatkan Kepolisian Untuk Cegah Pengaturan Skor

Mercy Raya - detikSport
Perbasi Akan Libatkan Kepolisian Untuk Cegah Pengaturan Skor Ketua Umum PP Perbasi, Danny Kosasih (Mercy Raya/detikSport)
Jakarta - Berkaca kasus pengaturan skor yang melibatkan sembilan pemain, Pengurus Pusat Persatuan Basket Seluruh Indonesia (PP Perbasi) mengambil tindakan preventif untuk mencegahnya. Mereka bakal melibatkan kepolisian untuk mengawasi Indonesian Basketball League (IBL) musim 2017/2018.

Sebelumnya, sembilan pebasket terbukti terlibat pengaturan skor dalam pertandingan IBL musim 2016/2017. Mereka dijatuhi hukuman sanksi larangan melakukan aktivitas basket di seluruh Indonesia dengan durasi dua hingga lima tahun.

Nah, agar insiden serupa tak terulang, Kepala Bidang Hukum PP Perbasi, George Fernando Dendeng, mengatakan akan bekerjasama dengan operator liga dan kepolisian untuk menghadapi IBL musim depan.

"Secara legal kami akan kerjasama dengan IBL dan koordinasi dengan kepolisian. Sementara untuk teknisnya kami akan bicarakan lagi, yang jelas untuk ke depan kami akan lebih mengamati lagi terkait kasus ini," ungkap George dalam jumpa pers di Gelanggang Remaja Pasar Minggu, Rabu (22/11/2017).

Sehubungan dengan itu, bidang peningkatan prestasi PP Perbasi diminta untuk lebih aktif menyosialisasikan kepada para pemain secara internal terkait kasus pengaturan skor yang saat ini mencuat.

"Saya akan coba diskusi internal karena ini memang perlu dijembatani oleh organisasi menyangkut bagaimana ke depan agar kasus ini tidak terjadi lagi. Dan ini merupakan ranah bidang pembinaan prestasi, ada yang usia dini sampai senior," kata Kepala Bidang Organisasi PB Perbasi Wawan Mulyana.

Pertama Kali Terjadi

Kasus pengaturan skor dalam olaharaga basket baru kali ini terjadi. Ketua Umum PP Perbasi, Danny Kosasih, mengakui insiden itu mencoreng olahraga basket. PP Perbasi pernah tersandung masalah hukum, yakni legalitas pemain.

"Buat olahraga Indonesia cukup mengejutkan tapi buat saya ini soal berani atau tidak. Saya sampaikan, saya tidak tebang pilih. Dua di antara pemain (yang terkena sanksi) memanggil saya dengan sebutan Papa," kata Danny.

"Karena jika ini tidak diselesaikan akan mempengaruhi prestasi bola basket Indonesia. Mungkin setiap cabor pasti ada, semua negara pasti ada kasus seperti ini, tapi sekarang tinggal berani atau tidak. Mungkin ini tidak nyaman, tapi saya berpikir bola basket Indonesia harus maju ke depan," dia menambahkan.



(mcy/fem)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed