Dilaporkan AP, Al-Shawk didaftarkan timnya, STV Luzern, untuk mengikuti kompetisi musim baru bulan depan, termasuk dimintakan izin supaya diperkenankan mengenakan jilbab.
Akan tetapi keputusan asosiasi bola basket Swiss menolak hal terakhir, alias atlet berusia 19 tahun itu tidak boleh berjilbab selama bertanding. Mereka berdalih pada sebuah aturan badan bola basket dunia FIBA, yang menyatakan bahwa olahraga harus netral, terlarang dari simbol-simbol agama dan segala penutup kepala.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditambahkan bahwa STV Luzern bisa dinyatakan kalah apabila Al-Shawk tetap dimainkan dengan jilbab menutupi kepalanya.
Yang bersangkutan adalah warga Swiss keturunan Iran. Ia merasa terkejut dengan larangan tersebut, karena Swiss tergolong negara yang heterogen penduduknya, yang berasal dari para imigran banyak negara. Imigran Turki cukup banyak di Swiss, dan berkontribusi pada angka 4,3% jumlah pemeluk agama Islam di negara tersebut.
"Saya sungguh tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini," tutur Al-Shawk. "Saya tidak menyangka bahwa di negara seperti Swiss, penggunaan jilbab di dunia olahraga akan menjadi sebuah masalah." (a2s/nar)











































