Fokus Bangun Fondasi, NBL Belum Terima Pemain Asing

Fokus Bangun Fondasi, NBL Belum Terima Pemain Asing

- Sport
Senin, 31 Mei 2010 16:03 WIB
Surabaya - Kompetisi basket profesional tertinggi di Indonesia, National Basketball League (NBL) Indonesia, mengungkapkan alasan di balik format kompetisi musim 2010-2011, khususnya soal kebijakan tanpa pemain asing dan tidak digunakannya format home and away.

Soal mendatangkan pemain asing, NBL Indonesia masih akan menunggu dulu setelah musim perdana ini berakhir. β€œSekali lagi, tujuannya untuk menahan eskalasi biaya. Pada musim pertama ini, fokus utama adalah menyelamatkan penyelenggaraan liga. Setelah itu membangunnya secara bertahap. Jalan masih panjang,” tutur Azrul Ananda direktur PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia, commissioner NBL Indonesia, dalam rilis yang diterima oleh detiksport, Selasa (31/5/2010) petang WIB.

Selain itu NBL musim ini tidak menggunakan sistem home and away dalam menggelar kompetisi. β€œDari sepuluh tim, tujuh bermarkas di Jakarta. Sedangkan gedung basket yang layak pertandingan NBL di ibu kota hanya ada dua. Jadi, bagaimana mau menerapkan sistem home and away? Mana yang kandang, mana yang tandang?” ucap Azrul.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€œSelain itu, sistem home and away justru tidak adil bagi tiga tim yang benar-benar bermarkas di luar Jakarta. Seperti di Salatiga, Malang, dan Surabaya. Ongkos mereka jadi jauh lebih besar,” tambahnya.

Belum lagi alasan untuk mengembangkan brand. Baik itu brand NBL Indonesia maupun klub-klub pesertanya. β€œDengan keliling ke berbagai kota, justru brand NBL dan klub-klubnya yang menyebar. Kita yang mendekatkan diri ke penggemar di berbagai region di Indonesia,” tandasnya.

Di musim perdana NBL Indonesia nanti, semua klub berkunjung ke semua seri. β€œDalam setiap kunjungan, tim bertanding empat sampai enam kali. Jadi mereka bisa dapat pengalaman maksimal tanpa harus banyak mengeluarkan biaya,” kata Azrul.

PT DBL Indonesia juga menerapkan kriteria penting untuk gedung pertandingan. Yaitu harus di tengah kota. Karena itu, di jadwal penyelenggaraan musim 2010-2011, gedung-gedung yang dipilih merupakan yang dekat dengan pusat keramaian.

β€œSekali lagi, niatnya untuk mempermudah penggemar untuk menikmati pertandingan NBL nanti. Tugas kami untuk menarik penonton sangatlah berat. Tahun 2009 lalu, menurut data dari PB Perbasi, IBL rata-rata hanya disaksikan 250 penonton per hari. Itu sangat sepi,” jelas Azrul.

β€œSemua sebenarnya berbasis pada efisiensi biaya. Baik untuk penyelenggara maupun tim-tim peserta. Bagaimana memaksimalkan kompetisi tanpa harus mengeluarkan biaya-biaya berlebihan. Setelah terus melorotnya kualitas penyelenggaraan Indonesian Basketball League (IBL) dulu, kita harus memulai liga baru ini dengan rendah hati, dengan kaki yang menjejak di bumi,” ungkap Azrul.

Upaya efisiensi biaya ini disambut sangat positif oleh klub kontestan NBL Indonesia. β€œKebijakan tanpa pemain asing akan sangat membantu klub di awal penyelenggaraan NBL. Sebab, kami jadi lebih bisa memfokuskan pengelolaan finansial ke pengolahan pemain yang ada. Jadi, klub tidak perlu tergantung dengan pemain asing," ujar Hartono Tanamal, general manager klub Bima Sakti Malang. (nar/key)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads