Ada perubahan sistem di Championship Series di NBL 2011-2012 yakni dalam persoalan eliminasi. Bila di kompetisi musim sebelumnya menganut single elimination, yakni tim yang menang langsung melaju ke babak berikut, maka di musim mendatang sebuah tim harus menang dua kali untuk bisa lolos.
Dua klub finalis NBL musim lalu, Satria Muda Britama Jakarta dan CLS Knights Surabaya memberikan pendapatnya mengenai penerapan sistem baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria yang akrab disapa coach Ito itu berpendapat sistem yang lebih baik adalah best of five atau best of seven. "Sistem itu melahirkan juara sejati. Juaranya benar-benar terasah. Menurut kita sistem best of five atau best of seven seperti di NBA atau di Filipina pasti juga ada keuntungan finansial," lanjutnya.
Meski begitu Fictor mengatakan bahwa bagi SM tidak ada masalah soal sistem kompetisi yang dipakai. "DBL telah membuat NBL dengan kemasan yang luar biasa. Namun sistemnya menurut kami pribadi agak mundur. Tapi itu menurut kacamata kita. Kita memang prefer ke sana, tapi liga buat keputusan lain. Kita tak masalah. Kita ikut aja," terang Ito di ujung sambungan telepon.
Sementara pelatih CLS Knights Risdianto Roeslan yang dihubungi terpisah berpendapat bahwa sistem double elimination memiliki keuntungan dan kerugian tersendiri. Ketika CLS berhasil masuk final di musim lalu, Risdianto -- yang ketika itu menjabat asisten pelatih -- kepada detikSport mengatakan bahwa Dimaz Muharri dkk. diuntungkan oleh sistem single elimination.
"Sebenarnya semua sistem bisa mendatangkan untung, bisa mendatangkan rugi juga. Ketika itu Championship Series kita tuan rumah di Surabaya, jadi untung. Sementara musim depan Championship Series di Yogyakarta, double elimination ada keuntungan juga karena memberikan kesempatan tim untuk berbenah," jelasnya.
Risdianto mengatakan apa pun sistem yang digunakan, hal terpentng ketika melakoni Championship Series adalah mental. "Yang jelas kalau sudah masuk Championship Series, mental berpengaruh besar. Kalau single elimination, kita menang berikutnya hadapi lawan yang berbeda," ujar mantan pelatih tim basket Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.
"Kalau double, kita menang belum tentu lolos. Lawannya sama, tapi pasti mereka berbenah. Dari awal kami menekankan untuk mempertinggi latihan mental. Latihan itu akan jadi satu paket dalam latihan reguler kami," pungkasnya.
(nar/mrp)











































