Mulai bermain basket sejak tahun 1998, Anthony akhirnya berkecimpung di dunia basket profesional dua tahun kemudian dengan memperkuat Aspac. Sempat pindah ke Satria Muda, dia akhirnya pensiun pada tahun 2007 karena lebih memilih bergelut dengan bisnisnya.
Lepas dari basket profesional tak membuat pria kelahiran 28 Oktober 1981 jauh-jauh dari bola basket. Dalam tiga tahun terakhir, dia menikmati sensasi baru lewat streetball.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sesi wawancara di Plaza Senayan, Senayan, Jakarta, Rabu (12/11/2011), Anthony banyak bercerita soal dunia barunya bersama streetball. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana sih awal kisah Anda di dunia streetball?
Saya main streetball, saya mau mengekspresikan apa yang saya punya. Selesai dari basket pro tahun 2007 akhir. Sampai pertengahan 2009, saya merasa tak ada tantangan karena basket begitu-begitu saja. Saya kemudian mencari kompetisi yang cocok. Kemudian saya menjajal streetball.
Tantangan baru apa yang Anda dapat di streetball?
Banyak banget sih. Saya bisa mengeluarkan apa yang saya punya. Gerakan-gerakan yang tak mungkin saya lakukan di basket, bisa saya mainkan di streetball. Streetball basic-nya memang basket, tapi ada tambahannya, yaitu basket-tainment. Misalnya, setelah mencetak poin saya bisa joged-joged dulu atau foto-foto dulu. Ada fun-nya, ada entertainment-nya.
Adakah hambatan yang Anda temui saat ber-streetball?
Menjaga emosi. Kadang kita kena trik sehingga terpancing untuk membalas. Kadang MC di lapangan juga sering ikut memanas-manasi. Oleh karena itu, kita harus pintar-pintar mengontrol emosi.
Gerakan andalan Anda di lapangan?
Sebagai ciri khas, saya punya power dunk. Dunker-dunker yang ada saat ini melakukan dunk dari luar area. Andalan saya adalah dribel, dribel, dribel, dan hajar dari bawah ring. Itu yang belum belum saya lihat lagi dunker lain melakukannya. Gerakan andalan kebanyakan di situ.
Bagaimana soal julukan Transformer yang Anda dapatkan?
Awalnya gara-gara karakter permainan. Ketika di lapangan, saya tipikal pemain yang keras seperti robot-robot. Makanya, mereka bilang saya dengan gaya yang tabrak sana tabrak sini itu bak robot. Tapi, di luar lapangan saya biasa saja kok.
Bagaimana pandangan Anda soal perkembangan streetball di Indonesia?
Di Indonesia, streetball bisa dibilang masih cukup baru. Memang belum lama, tapi kalau dilihat hasilnya sekarang, sangat menakjubkan sekali terutama dari jumlah penonton dan jumlah serinya. Kekurangannya, banyak orang terjun ke streetball tanpa punya dasar basket yang bagus. Sering orang bisa melakukan trik tapi tak bisa melakukan finishing.
Harapan Anda ke depan di dunia streetball?
Yang jelas, tahun depan saya ingin kembali terpilih masuk All-Star. Setahun lagi terpilih, mungkin setelah itu saya pensiun.
Rodman akan datang pada grand final LA Lights Streetball di Jakarta, 21-22 Oktober mendatang. Komentar Anda?
Saya nge-fans sekali sama dia. Saya punya delapan jersey-nya dia. Karakter dia sebagai rebounder sangat menginspirasi saya. Tak gampang menjadi seorang rebounder. Rodman memang bad boy, tapi saat di lapangan, dia akan tampil optimal.
(mfi/roz)











































