Cokorda Raka Satria Wibawa tak gentar menghadapi ujian pada musim pertamanya sebagai pelatih. Malahan dia langsung berani mematok target juara di NBL musim 2013/2014.
Wiwin, sapaan karib Cokorda Raka Satria Wibawa, didapuk menggantikan Octaviarro Romely Tamtelahitu sejak preseason NBL Indonesia 2013. Satria Muda melepas Ocky, panggilan akrab Octaviarro, yang dinilai gagal membawa SM juara musim regular.
Ujian pertama Wiwin memang kurang mulus. Dia hanya bisa membawa SM berada di peringkat keempat preseason 2013. Namun, setelah empat bulan meracik tim, Wiwin merasa yakin bisa sejajar dengan pelatih-pelatih senior, seperti Tjetjep Firmansyah, Amran, ataupun Nathaniel Canson.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu sebagai pemain, saya tinggal terima perintah, tapi sekarang saya yang mikir strategi tim dan meramu tim ini," lanjut pria kelahiran Denpasar, 4 Mei 1977 itu.
Karier pelatih Wiwin memang tergolong pesat. Setelah pensiun dari pemain, Wiwin memutuskan menjadi asisten pelatih Indonesia Warrior. Merasa cocok dengan profesi itu, pria bertinggi 204 centimeter itu pun mengambil kursus pelatih lisensi A 2013.
Kinerja dan bekal lisensi itu mendpatkan apresiasi dari manajemen SM. "Saya tertarik menjadi pelatih untuk menyalurkan ide-ide di kepala yang minta diwujudkan. Bukan berarti saya tidak puas dengan pencapaian sebagai pemain, tapi saya merasa ini profesi yang pas buat saya," ujar pria yang lama membela Garuda Bandung tersebut.
Sebagai pemain performa Wiwin memang cukup impresif. Dia menjadi pilar Aspac saat tim ibukota itu menjadi juara musim 1995/1996 dan 2000/2001. Kemudian juga menjadi pemain utama di Garuda sejak 2005 hingga 2012.
Wiwin juga mengoleksi medali bersama timnas. Da mendapatkan perak SEA Games 2001 dan 2007. Wiwin juga berkontribusi saat saat tim Merah Putih meraih perunggu pada SEA Games 1999.
"Tantangan utama menjadi pelatih itu adalah menjawab tuntutan bagaimana menyatukan individu yang berbeda. Ego harus dikesampingkan."
"Misi itu tidak terlalu sulit karena para pemain SM mendukung saya. Meski sebagian besar pemain adalah rekan saat masih jadi pemain mereka paham dengan posisi baru ini. Kami teman di luar lapangan tapi di dalam lapangan tetaplah professional," kata dia.
(fem/roz)











































