Evaluasi IBL Seri I: Pro-kontra Pemain Naturalisasi dan Jadwal Padat

IBL

Evaluasi IBL Seri I: Pro-kontra Pemain Naturalisasi dan Jadwal Padat

Femi Diah - Sport
Senin, 18 Jan 2016 14:54 WIB
Evaluasi IBL Seri I: Pro-kontra Pemain Naturalisasi dan Jadwal Padat
IBL
Jakarta -

Seri I Indonesian Basketball League (IBL) sudah ditutup dengan kemenangan M88 Aspac Jakarta atas CLS Knights Surabaya. Keberadaan pemain naturalisasi dan padatnya jadwal pertandingan menjadi kontroversi di antara tim-tim kontestan.

IBL musim ini memang membuat regulasi baru. Di antaranya, para peserta IBL diperbolehkan menggunakan pemain naturalisasi dengan maksimal dua pemain.

Hingga seri pertama usai, Minggu (17/1/2016), belum semua tim menggunakan pemain naturalisasi. Malah, aturan itu mendapatkan kritikan dari beberapa pelatih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang sulit bagi kami melawan tim yang memiliki pemain naturalisasi. Evaluasinya adalah kita jaga kesehatan saja kalau ketemu CLS lagi," kata pelatih JNE Bandung Utama, Octaviarro Romely.

Kritikan juga datang dari pelatih Garuda Bandung, Fictor Gideon Roring. Dia menilai keputusan penggunaan pemain naturalisasi terlalu terburu-buru.

"Liga ini dengan gampangnya membuat sistem pemain naturalisasi. Tapi di sisi lain juga menghidupkan drafting. Itu menjadi dua keputusan yang kontradiktif. Tidak sinkron. Saya harap aturan itu cepat ditinjau lagi." kata pelatih yang akrab disapa Ito tersebut.

Hingga seri pertama selesai memang baru dua tim, CLS dan Pelita Jaya, yang sudah memasukkan nama pemain naturalisasi dalam daftar pemain mereka. CLS mendaftarkan Jamarr Andre Johnson, Pelita Jaya Anthony Wayne Cates.

Dua tim lain, Stadium Jakarta dan Aspac Jakarta sedang berupaya untuk meloloskan pemain naturalisasinya. Sementara, Satria Muda Pertamina Jakarta bersikukuh hanya menggunakan pemain lokal sepanjang kompetisi.

Menilik pengambilan keputusan dalam rapat dewan komisaris sebelum kompetisi bergulir, penggunaan pemain naturalisasi memang menuai kontroversi. Pembahasan soal itu sempat deadlock tapi kemudian disepakati klub-klub peserta bisa menggunakan maksimal dua pemain naturalisasi.

Jadwal padat juga menjadi persoalan lain yang mengemuka. Pelatih Pelita Jaya, Benjamin Alvarezsipin III, menyebut jadwal kompetisi terlalu padat.

"Saya salut dengan pelatih di Indonesia. Bagaimana bisa mereka mengatur kebugaran pemain dengan sistem jadwal yang padat, satu hari main, besok sudah main lagi," kata pelatih yang akrab disapa Benji itu.

"Saya menganggap inni sebagai tantangan. Para pelatih Indonesia bisa, kenapa saya tidak?" imbuh dia.

Salah satu cara yang ditempuh Benji untuk menyiasati situasi itu adalah dengan merotasi pemain demi menjaga kebugaran. Apalagi jadwal juga masih tetap padat di seri-seri berikutnya.

(fem/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads