DetikSport
Selasa 17 Oktober 2017, 16:33 WIB

Garuda Bandung Siapkan Dokter dan Gelar Workshop Setelah Insiden Choirul Huda

Mercy Raya - detikSport
Garuda Bandung Siapkan Dokter dan Gelar Workshop Setelah Insiden Choirul Huda Foto: IBL
Jakarta - Insiden yang menimpa Choirul Huda menjadi pelajaran penting bagi klub-klub Indonesian Basketball League (IBL). Garuda Bandung menyiapkan dokter dan menggelar workshop.

Kejadian yang menimpa Huda saat bertanding di Stadion Surajaya, Lamongan, Minggu (15/10/2017) membuka mata Presiden Klub Garuda Bandung, Maulana Fareza Tamrella. Dia menyadari timnya masih mengabaikan tim medis di setiap latihan dan pertandingan. Dia juga mengakui para pemain Garuda Bandung belum sepenuhnya memahami prosedur pertolongan pertama jika ada kecelakaan terhadap rekan satu timnya.

Makanya, Garuda Bandung tak akan mengabaikannya lagi. Mereka akan mengadakan workshop pertolongan pertama itu.

[Baca Juga: Mempertanyakan Pertolongan Pertama pada Choirul Huda di Lapangan]

"Pertama, kejadian kiper itu memang membuka mata dunia olahraga terutama di Indonesia. Karena, apa yang terjadi Huda itu mirip dengan Fernando Torres. Memang harusnya langkah pertama jika kejadian itu terjadi adalah harus dibuka mulutnya, kemudian lidah korban ditarik sampai tersedak," kata Maulana kepada detikSport Selasa (17/10/2017).

"Tetapi, kemarin yang saya lihat (di video), secara pribadi, ada sedikit sebelum tindakan, langsung diangkat saja. Kita lihat di youtube saja samakan dengan kejadian Torres. Tidak perlu tunggu tandu, pemain lainnya langsung buka mulut. Berbeda dengan perlakuan ke Huda ditandu dulu, sudah beku," dia menjelaskan.

"Nah, kembali ke fisioterapi. Sejauh ini, kami sedang menjalani kerjasama dan akan kami sampaikan ke pelatihan bahwa tidakan-tindakan ini loh yang perlu dilakukan. Jika amit-amit terjadi," ujar dia.

[Baca Juga: Pelajaran dari Insiden Choirul Huda, Ini Standar Pertolongan Pertama di Lapangan]

Mocha, sapaan karib Maulana Fareza Tamrella, mengatakan pemain dan pelatih Garuda Bandung sudah diberi pemahaman pertolongan pertama. Tetapi, baru sebatas informasi dasar.

"Ya, kalau sebelum kejadian, kami hanya memberi dasar kepada pemain dan pelatih. Dalam arti, tindakan pertama misalnya cedera engkel. Tapi karena ada kejadian ini, ya kami mulai tanggap dan intens memberi tahu ke pemain dan pelatih. Kami juga berencana gelar workshop dan menyiapkan dokter untuk pendampingan. Saat ini baru ada fisioterapi saja. Intinya menjadi pelajaran penting buat industri olahraga ini," dia menjelaskan.

Tak hanya kepada lingkup Garuda Bandung, melainkan ke Liga. Kebetulan, IBL akan kembali digelar 8 Desember.

"Kami akan sampaikan juga ke liga bahwa hal ini perlu diinformasikan," kata dia.

[Baca Juga: Susahkah Membuat Liga Sepakbola yang Layak?]

Sementara itu, pelatih Garuda Bandung, Andre Yuwadi menilai pembekalan pertolongan pertama itu sangat penting, bukan hanya kepada pelatih dan atlet, tapi juga untuk ofisial.

"Penanganan pertama dalam kecelakaan olahraga itu memang harus ada dan kami sudah mengedukasi itu sejak awal bersama ofisial," kata Andre, terpisah.

"Jadi ketika ada pemain jatuh, berbenbeturan dengan pemain lain, itu sudah ada Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganannya harus seperti apa karena kami sudah memberikan informasi itu kepada pemain," ujar dia kemudian.

"Dan hampir semua tim sudah memiliki fisioterapi. Nah, fisioterapi ini pada umumnya sudah tahu pertolongan pertama pada orang kecelakaan itu seperti apa. Jadi saya pikir kalau di luar yang bisa diantisipasi memang kami tidak bisa bicara. Tetapi jika untuk penanganan pertama cedera, untuk di Garuda dan ofisial sudah tahu lah bagaimana cara menangani pemain pada saat cedera pertama. Apa yang perlu dilakukan," dia mengungkapkan.



(mcy/fem)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed