detiksport
Follow detikSport
Rabu, 18 Okt 2017 18:27 WIB

Potensi Masalah Setelah Istora Tiba-Tiba Jadi Venue Basket Asian Games 2018

Mercy Raya - detikSport
Foto: Hasan Al Habsyi/detikSport Foto: Hasan Al Habsyi/detikSport
Jakarta - Perubahan rencana venue basket ke Istora Gelora Bung Karno (GBK), Senayan Jakarta membawa konsekuensi. Bukan hanya soal molornya waktu.

Awalnya, Istora direnovasi untuk sebagai venue bulutangkis Asian Games 2018. istora dikembalikan ke wujud asli dengan single seat dan dukungan teknologi baru. Pintu dan ruang ganti juga mengutamakan atlet-atlet bulutangkis yang posturnya tak terlalu besar dan tak menjulang.

Dalam prosesnya, dua pekan lalu, basket yang semua dihelat di Palembang kemudian direncanakan digelar di Istora. Renovasi Istora yang sudah hampir rampung itu pun kembali dituntut untuk dirombak lagi. Utamanya, untuk mengakomodasi atlet dengan postur tinggi besar seperti para pebasket, yang rata-rata tingginya di atas 2,2 meter.

Pemindahan venue dari Palembang ke Istora dikaitkan dengan rencana PP Perbasi yang mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2023 bersama Filipina dan Jepang.

"Untuk waktu kontruksi sebenarnya bisa hanya sebulan saja. Justru yang menjadi masalah adalah kami harus menghitung anggarannya berapa. Karena itu tidak bisa dibebankan oleh infrastruktur yang dibebankan atau diturunkan sebelumnya," kata Arsitek Istora, Boy Bhiwara, di sela-sela kunjungan FIBA ke Istora, pada Rabu (18/10/2017).

"Karena, ini harus sesuai nilai kontrak dan sesuai dengan studi yang tahun lalu. Saat itu, (proyeksi Istora untuk ) basket tidak ada," kata dia kemudian.

Sebagai gambaran, tender Istora yang dimenangkan PT Adhi Karya sebagai kontraktor bernilai Rp 132 miliar. Proses renovasi dilakukan sejak 15 September 2016 dan direncanakan akan kelar 8 November 2017. Saat ini proses pengerjaan sudah mencapai 94,18 persen.

"Memang yang menjadi concern sekarang adalah waktu dan budget. Karena kalau memutuskan budget kelamaan, kapan bangunnya? Sementara, yang memutuskan adalah harusnya Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Sementara Satgas infrastruktur harus tahu anggaran dari mana dan untuk apa. Mereka juga mengawasi, anggaran berapa? Jadinya apa?" ujar dia.

Di luar renovasi dan budget, Boy juga menyoroti persoalan lain. Yakni, jadwal pertandingan.

"Yang kritikal adalah perubahan setelah pertandingan basket hanya ada waktu dua hari persiapan untuk pertandingan bulutangkis," katanya.

"Misalnya perubahan lampu, kan arahnya beda. Kemudian fungsi komentator juga beda, lebih banyak. Itu dalam dua hari harus bisa dikosongkan dan pada saat yang sama hari kedua masuk bulutangkis," dia menambahkan.

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed