DetikSport
Jumat 24 November 2017, 12:41 WIB

Skandal Pengaturan Skor di IBL: Usut Tuntas!

Mercy Raya - detikSport
Skandal Pengaturan Skor di IBL: Usut Tuntas! Pelatih Satria Muda Youbel Sondakh (Femi Diah/detikSport)
Jakarta - Pelatih Satria Muda Pertamina Jakarta, Youbel Sondakh, meminta agar PP Perbasi mengusut tuntas pengaturan skor di Indonesian Basketball League (IBL). Para pemain juga diingatkan akan sanksi yang mengancam.

Pengurus Pusat Persatuan Bola Bakset Seluruh Indonesia (PP Perbbasi) dan operator Indonesia Basketball League (IBL) telah menjatuhkan sanksi kepada delapan pemain dan satu ofisial Siliwangi Bandung yang terlibat pengaturan skor. Oleh Perbasi, mereka diganjar hukuman berbeda-beda. Sementara IBL menjatuhkan hukuman dengan larangan bertanding seumur hidup.

"Pertama kali mendengar cukup kaget. Bagi kami pelaku olahraga, sudah latihan cepak-capek tapi ada yang melakukan itu, berarti mereka tidak respek terhadap olahraga ini. Saya PB Perbasi yang sudah ambil keputusan soal ini," kata Youbel kepada detikSport baru-baru ini.

"Untuk ditawari jujur saya tidak pernah. Tetapi, saya tahu saat menjadi menjadi pelatih, dalam arti ada yang janggal dalam game tertentu itu pernah saya alami. Misalnya, harusnya bisa menang dengan angka ini, tapi justru sebaliknya. Pasti ada timbul pertanyaan. Kalau menonton basket kenapa kuarter begini. Tapi bukan berarti saya tahu ada yang ditawarin atau tidak, cuma melihat ada yang aneh pasti kelihatan," dia membeberkan.

Youbel menilai fakta itu bisa muncul dengan kemudahan komunikasi. Namun, bukan berarti bisa ditoleransi.

"Sekarang karena era digital semua orang bisa berkomunikasi, bisa betting (taruhan) di internet. Dulu belum terlalu karena hanya di GOR saja tapi mungkin karena lingkupnya lebih luas, uang yang ditawarkan semakin besar, pemain tambah banyak, ditambah kemajuan teknologi makanya ada seperti ini," Youbel menjelaskan.

"Jangan salah juga mungkin juga orang dari luar yang menjadi bandarnya," ujar pelatih berusia 33 tahun itu.

Youbel berpesan agar para pemain tak tergoda untuk coba-coba pengaturan skor. Sebab, risiko bakal ditanggung oleh pemain seorang diri. Bukan hanya sanksi larangan bermain, tapi juga sanksi sosial.

"Sekarang karena sudah ada kejadian dan preseden buruk buat pemain. Ya mereka tinggal memilih. Kami juga tidak bisa memaksal, kamu tidak boleh ini, tanggung sendiri risikonya. Mestinya mereka sadar sekalinya hancur mereka sampai tua akan dibicarakan orang. Itu saja pelajarannya," kata pelatih yang pernah membawa tim Satria Muda menang di Perbasi Cup 2016 ini.

"Sebenarnya sanksi sosial yang lebih besar karena ketika berkerja dengan orang lain. Ya untuk pemain mungkin golden age-nya sampai 30 tahun, tapi untuk selanjutnya bagaimana? mereka kan tidak pikirkan bagaimana nanti. Ya ini jadi pelajaran lah buat semua," kata dia.



(mcy/fem)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed