Persiapan Minim, Indonesia Tak Ada Wakil di Final

Persiapan Minim, Indonesia Tak Ada Wakil di Final

- Sport
Rabu, 15 Jun 2005 15:51 WIB
Jakarta - Grand Final Sister City 2005 masih empat hari lagi. Namun harapan publik Jakarta untuk menyaksikan all-Indonesian final seperti tahun lalu tampaknya sulit terwujud.Tahun lalu, Indonesia menempatkan dua wakilnya di babak final setelah Indonesia Merah yang bermaterikan pemain tim nasional menundukkan skuad tim PON DKI yang tergabung di tim Indonesia Putih.Tahun ini tuan rumah kembali mengirim dua wakil. Sayang, Palazzo Jakarta Selection dan Palazzo Jakarta Junior tampaknya tak bisa diharapkan untuk mengulang prestasi itu.Jangankan juara, masuk final pun sulit dilakukan. Hingga pertandingan ketiga, Selasa (24/6) kemarin, Jakarta Selection baru menuai satu kemenangan dan menelan dua kekalahan. Peluang lolos ke final memang belum tertutup, namun praktis sangat berat karena mereka harus menyapu bersih kemenangan dalam dua partai sisa, sekaligus berharap Seoul tergelincir.Jika nasib Jakarta Selection ada di ujung tanduk, Jakarta Junior menjadi tim pertama yang dipastikan tersingkir dari persaingan. Sebabnya mereka sudah menelan tiga kekalahan.Kesulitan untuk menembus babak grand final memang sudah diprediksi jauh-jauh hari. Selain karena kualitas pemain, minimnya persiapan juga membuat tim Jakarta tak berani menargetkan yang muluk-muluk.Jika tahun lalu Indonesia bermaterikan pemain tim nasional dan PON DKI, maka tahun ini dua wakil diisi oleh gabungan pemain IBL, Kobatama dan Divisi I (Jkt Selection) dan tim PON bayangan DKI (Jkt Junior). Sudah begitu persiapan pun dilakukan dalam hitungan hari."Saya harap kami dapat mengalahkan Bangkok, kalau sudah begitu target kami masuk tiga besar bisa terpenuhi. Nomor tiga adalah hasil maksimal," ucap pelatih Jakarta Selection Budi Wardoyo usai kekalahan timnya atas Seoul 56-81 kemarin malam.Jika Jakarta Selection menargetkan tiga besar, pelatih Jakarta Junior bahkan hanya ingin agar skudnya menimba pengalaman bertanding."Hari ini ada peningkatan karena anak-anak bisa menembus skor 50," ucap pelatih Jakarta Junior Toto Sudarsono, yang anak asuhnya kalah 56-86 atas Bangkok di pertandingan kemarin."Kami kalah segalanya atas mereka, tapi tujuan kami di sini untuk mengembangkan para pemain muda agar lebih percaya diri," tukas Toto, yang timnya hanya punya persiapan lima hari.Persiapan minim boleh menjadi faktor. Tapi tim lain pun juga punya persiapan yang tak kalah minim."Kami sudah mendapatkan kabar tentang turnamen ini dari tiga minggu yang lalu, tetapi karena ada pergantian pelatih, saya menangani persiapan bersama tim ini hanya selama tiga hari," ucap pelatih Seoul Park Gun Yeon, yang menggantikan Kim Nam Gie beberapa hari lalu.Hampir sama dengan Seoul, Beijing juga cuma memiliki waktu 10 hari untuk melakukan persiapan. Manila juga tidak terlalu berbeda."Kami baru diberitahu soal turnamen ini dua minggu lalu, tapi kami sudah berlatih bersama sejak Januari untuk menghadapi UAAP (Universities Athletic Association of the Philippines) yang dimulai 9 Juli," tukas pelatih Carmelo Alas.Kalau sudah begitu, ajang Sister City tampaknya memang lebih tepat disebut ajang persahabatan. Apalagi motonya "One family one game". Tapi bukan berarti mengorbankan kualitas permainan, kan? (mel/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads