detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 15 Nov 2018 00:22 WIB

Ulang Tahun ke-25, Satria Muda Putar Film Dokumenter

Mercy Raya - detikSport
Satria Muda merayakan hari ulang tahun ke-25. Foto: Mercy Raya Satria Muda merayakan hari ulang tahun ke-25. Foto: Mercy Raya
Jakarta - Satria Muda merayakan hari jadinya yang ke-25 dengan memutar film dokumenter. Pemilik klub, Erick Thohir, berharap film tersebut bisa menginspirasi masyarakat dan pecinta basket.

Film berdurasi 30 menit itu diputar di Epicentrum XXI, Epiwalk, Kuningan, Rabu (14/11/2018). Hadir dalam pemutaran itu selain Erick Thohir, para pemain Satria Muda, pelatih, juga mantan-mantan pemain SM yang saat ini menjadi pelatih di beberapa klub Indonesia Basketball League (IBL). Seperti Fictor Roring Gideon dan Wahyu Hidayat Jati.

Adapun isi dalam film tersebut menceritakan tentang proses bagaimana Satria Muda yang berdiri sejak 28 Oktober 1993 itu bertumbuh menjadi tim yang tampil konsisten. Selain itu, Satria Muda juga menjadi satu-satunya klub basket Indonesia dapat merengkuh 10 gelar juara dari 14 pertandingan final selama 25 tahun terakhir.

"Saya buat acara 25 tahun Satria Muda karena saya rasa membangun klub bola basket selama itu tidak mudah apalagi kita membuktikan saat ini menjadi yang terbaik di Indonesia," kata Erick usai pemutaran film.


"Semua lihat film dokumenternya benar-benar berjibaku, senang susah, tapi semua itu bisa diselamatkan karena profesional dan gotong royong. Hasilnya bisa dilihat sekarang, Satria Muda dari 14 kali masuk final kami bisa 10 kali juara," ujar dia kemudian.

Bos Mahaka Group ini mengatakan film dokumenter ini bisa memberikan kontribusi agar klub-klub bola basket Indonesia bisa profesional.

"Sebab, tidak mungkin menjalankan klub basket hanya berdasarkan sumbangan, atau hobi tapi benar-benar harus dikelola secara profesional. Dengan mendapatkan income dan lain-lain," katanya.

"Bisa dilihat liga bola basket IBL juga sama kan bagaimana mereka membangun secara profesional, transparan, disiarkan di televisi. Ini bagus untuk industri daripada ekonomi Indonesia sehingga tidak boleh tergantung ditambang atau sumber daya alam tapi banyak juga yang bisa kita bangun. Contohnya tadi industri olahraga," tuturnya.

Meski sukses membangun klub, Erick masih menyimpan cita-cita soal klubnya. Yakni fans basket yang diharapkan bisa menyaingi suporter sepakbola.


"Cita-cita masih banyak. Yang namanya sebuah klub itu kan tujuannya juara, tidak ada puas-puasnya. Tapi kami mengharapkan bahwa fanskami juga tidak kalah dengan sepakbola," ungkap Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI)tersebut.

"Jika kita melihat sepakbola bisa diisi 40 ribu penonton. Nah, lapangan bola basket 3000 maksimal tapi bagaimana dengan jumlah itu secara konsisten nonton. Ini yang kami perjuangkan. Apalagi, kita akan jadi tuan rumah FIBA 2023," ujarnya.

Selain pemutaran film dokumenter, acara tersebut juga sekaligus memperkenalkan skuat untuk menghadapi Indonesian Basketball League (IBL) musim 2018/2019.

Pada kompetisi tim Satria Muda tidak banyak mengalami perubahan. Dior Lowhorn dan Jamarr Johnson tetap dipertahankan untuk mengisi dua slot pemain asing. Untuk lokal ada dua nama roster tim yaitu Kelvin Tirta Sanjaya yang merupakan guard yang dipilih dari IBL draft pick dan Kristian Liem, center yang sebelumnya bermain untuk Stapac Jakarta. (mcy/rin)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed